Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, February 3, 2016

Istilah Dalam Bahasa Indonesia yang Terbentuk Secara Unik

Istilah Dalam Bahasa Indonesia yang Terbentuk Secara Unik
Istilah, kata, dan bahasa senantiasa terbentuk karena adanya adaptasi. Hal itu dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat pada suatu wilayah. Katakanlah di Indonesia. Banyak istilah dari Indonesia yang memunculkan istilah baru karena sejarah dan asal-mula yang unik. Contohnya saja kata jerigen. Anda pastinya tau apa yang dimaksud dengan jerigen atau jeriken?

Jerigen itu sejenis tempat atau wadah untuk menampung bensin, air, ataupun larutan lainnya. Biasanya kuat menampung sekitar 20 liter-an. Pernahkah anda membayangkan bahwa sebenarnya istilah ini terbentuk dari Bahasa Inggris, Jerry Can? Istilah tersebut mengalami simplifikasi pengucapan atau sering disebut dengan adaptasi bahasa. Karena masyarakat Indonesia susah mengucapkan ‘jerry can', maka lama kelamaan mereka menyebutnya jerigen atau jeriken.

Adapun pembentukan istilah-istilah tersebut dikarenakan misheard (salah dengar), salah pemaknaan, dan sebagainya. Lantas bagaimana dengan istilah lainnya di Indonesia? Kami berhasil mengumpulkan beberapa istilah beserta origin atau asal-muasalnya. Meskipun hanya sedikit, kami juga berharap pembaca juga mau membagikan pengalaman serta pengetahuannya tentang topik ini jika berkenan. Langsung saja simak di istilah bahasa indonesia yang terbentuk secara lucu dan unik:

Kutang = Coutant

Pastinya anda sudah tahu apa arti dari istilah ini. Ada sebuah anekdot yang terjadi pada masa penjajahan dulu, yaitu ketika orang Belanda mempekerjakan orang-orang pribumi untuk membuat proyek jalan di Semarang, yaitu jalan Anyer-Panarukan.

Dulunya, kebanyakan orang pribumi bekerja rodi tanpa menggunakan pakaian, baik pria maupun wanita, sehingga membuat Don Lopez, koordinator pekerjaan jalan tersebut merasa iba dan tergugah untuk memotong-motong kain putih demi menutupi para pekerja wanita yang membiarkan benda berharganya menggelambir.

Mendekati para pekerja wanita, Don Lopez memberikan kain itu seraya berkata, “Tutuplah benda berharga itu!”, dalam bahasa Belanda dia mengatakan, “Coutant!”

Para pekerja wanita itu pun bingung dengan apa yang dimaksudkannya, tapi si komandan tetap berusaha menjelaskan dengan berkata, “Coutant, coutant!” sambil menunjuk-nunjuk kain yang dia potong itu. Mereka pun akhirnya paham dan menerima kain itu untuk menutupi barang berharganya. Sejak saat itulah, istilah tersebut. Cerita ini dikutip dari sebuah novel berjudul Pangeran Diponegoro karya Remy Sylado.

Jerigen = Jerry Can

Seperti yang sudah disinggung di mukadimah, Jerry Can adalah wadah yang digunakan untuk mengisi air maksimal 20 liter. Asal mula Jerry Can berawal dari orang-orang Jerman yang kerap menggunakan benda ini. Dahulu namanya adalah Wehrmachtskanisters.

Seiring perkembangan dan menyeruaknya benda ini ke wilayah lain, termasuk di negara berbahasa Inggris, orang Inggris menyebutnya dengan nama ‘Jerry Can’ agar mudah ketimbang harus menyebut istilah aslinya yang sangat panjang dan rumit bagi orang Inggris. Kata ‘Jerry Can’ sendiri terbentuk dari dua kata dasar yakni, ‘Jerry’, istilah untuk merujuk ke orang Jerman, dan ‘Can’ berarti kaleng.

Bengkek = Backache

Bengkek adalah istilah dalam Bahasa Jawa yaitu sejenis penyakit tulang punggung yang diakibatkan lanjut usia ataupun karena terlalu sering beraktivitas. Nah, bisa dinalar kan kalau istilah ini? Kenapa backache dari bahasa inggris bisa menjadi bengkek? Mungkin karena saat itu orang-orang Jawa mencontoh orang Inggris ketika mengatakan ‘backache’ saat sakit punggung. Karena kesulit melafalkan istilah dalam bahasa inggris, akhirnya mengadaptasikan istilah tersebut agar sesuai dengan lidah Jawa, yaitu ‘bengkek’.

Toko Kelontong = Bunyi Klontong

Istilah ini mungkin bukan berasal dari luar negeri, tapi memiliki asal-usul yang unik, jadi saya sertakan sekalian.

Ada sebuah cerita masyarakat mengapa istilah toko kelontong bisa terbentuk. Pada zaman dahulu, orang tionghoa sering berdagang dengan menggunakan gerobak yang ditarik oleh sapi atau kerbau. Dagangannya ini hampir serba lengkap. Alat-alat untuk keperluan sehari-hari, makanan termasuk buah-buahan dan sayuran.

Untuk kedatangannya dapat dikenali, penjual sembako itu pun mengalungkan lonceng di leher kerbau sehingga menghasilkan bunyi ‘klontong, klontong’ setiap kerbau berjalan. Nah, sejak saat itulah bunyi ‘klontong’ digunakan untuk merujuk pada dagangan sembako serba ada, hingga dijadikan istilah resmi dalam bahasa indonesia, yaitu ‘kelontong’.