Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Friday, April 5, 2013

SINOPSIS NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA




Nama Zahrana mendunia karena karya tulisnya dimuat di jurnal ilmiah RMIT Melbourne. Dari karya tulis itu, Zahrana meraih penghargaan dari Thinghua University, sebuah universitas ternama di China. Ia pun terbang ke negeri Tirai Bambu untuk menyampaikan orasi ilmiah. Di hadapan puluhan profesor arsitek kelas dunia, ia memaparkan arsitektur bertema budaya. Yang ia tawarkan arsitektur model kerajaan Jawa-Islam dahulu kala. Dari Thinghua University, Zahrana mendapat tawaran beasiswa untuk studi S3 di samping mendapat tawaran pengerjaan sebuah proyek besar.

Namun Zahrana tidak hidup sendiri. Di tengah kesuksesan prestasi akademiknya, ia malah menjadi bahan kecemasan kedua orang tuanya. Kecemasan itu lantaran Zahrana belum juga menikah di usianya yang memasuki kepala tiga. Sudah banyak laki-laki yang meminangnya, namun Zahrana menolaknya dengan halus.

Di sinilah konflik batin Zahrana mulai timbul, antara menuruti keinginan orang tua atau mengejar cita-cita. Sebenarnya Zahrana sudah mengalah. Ia tak menerima tawaran jadi dosen di UGM. Alasannya karena orang tuanya yang tinggal di Semarang tidak mau jauh. Zahranapun memilih mengajar di sebuah universitas di Semarang. Ia tetap bisa tinggal bersama orang tuanya. Zahrana juga mengalah pada orang tuanya hingga ia tidak mengambil tawaran beasiswa S3 di negeri China.

Meski tak otoriter, kedua orang tua Zahrana berharap anak satu-satunya itu segera menikah dan memiliki keturunan. Sebagai orang tua yang sudah renta, khawatir semasa hidupnya tidak sempat menyaksikan Zahrana bersuami dan menimbang cucu. Apalagi bila melihat anak-anak tetangga seusia Zahrana, mereka sudah memiliki anak dua bahkan tiga.

Sebenarnya dalam jiwa perempuan Zahrana, bukan tidak menghiraukan keinginan berumah tangga. Tetapi logika analitisnya selalu berargumen, menikah hanya menunda-nunda sukses bahkan bisa menghalanginya.

Puncak konflik batin Zahrana ketika dilamar oleh seorang duda yang notabene atasannya sendiri. Ia dilamar dekannya, begitu kembali dari Thinghua University sehabis menerima penghargaan. Dengan tegas, Zahrana tidak menerima lamaran atasannya itu meski orang tuanya kecewa. Alasan Zahrana semata-mata persoalan moral atasannya yang terkenal suka meminta setoran kepada mahasiswa bila ingin nilai bagus bahkan suka bermain cinta dengan mahasiswanya sendiri. Di samping alasan moral, Zahrana tak mungkin menerima lamaran atasanya yang berusia kepala lima.

Akibat menolak lamaran itu, Zahrana akan dipecat secara tidak hormat. Tetapi Zahrana mendahuli mengajukan pengunduran diri. Ia benar-benar hengkang dari kampus itu dan memilih mengajar di sebuah sekolah kejuruan teknik.

Pasca lamaran, Zahrana sadar, ia harus cepat-cepat bersuami. Hati Zahrana berargumen lain, bisa saja dirinya melanjutkan cita-cita di dunia kademik meski sudah bersuami. Ia pun minta saran kepada pimpinan pondok pesantren yang masih saudara jauh teman akrabnya. Oleh pimpinan pondok pesantren Zahrana dipertemukan seorang pemuda yang dari sisi pekerjaan kurang prestisius. Pemuda itu pedagang kerupuk keliling dan Zahrana merasa cocok. Ia bertekad mengabdikan hidupnya kepada Allah melalui ibadah dalam rumah tangga.

Kedua belah kelurga menyiapkan pesta pernikahan sederhana. Zahrana menyiapkan gaun pengantin. Bahagia sekali hati Zahrana. Ia meyakinkan diri tak lama lagi akan bersuami yang salih. Ia membayangkan esok hari, kisah penantian ini akan segera berganti.

Namun bayangan itu sirna seketika saat menerima kabar calon suaminya meninggal, tertabrak Kereta Api yang tak jauh dari perkampungan. Saat itu pula Zahrana merasa sudah mati. Bayangan indah kini berganti dengan kabut tebal yang dipenuhi hantu kematian yang siap mencabik-cabik dirinya. Bunga-bunga cinta di hatinya, kini berganti dengan bunga kematian. Langitpun runtuh dan serasa menindihnya. Zahrana pingsan beberap kali hingga dilarikan ke rumah sakit. Beruntung Zahrana masih kuat melanjutkan hidup.
Beberapa hari pascatragedi, ia hanya di rumah sambil menekuri diri. Sahabat-sahabat dan kerabatnya banyak yang berdatangan untuk sekedar mengucapkan duka cita termasuk teman-teman dan atasanya di kampus dulu mengajar.

Salah seorang penjenguk, dokter perempuan yang sempat mengobatinya di rumah sakit. Perempuan itu ternyata ibunya mahasiswa bernama Hasan yang sekripsinya sempat dia bimbiang. Rupanya kedatangan ibu dokter ini sekaligus mengobati luka cinta Zahrana.

Ibu dokter ternyata mengabarkan, anaknya, Hasan, berniat menikahinya. Betapa kaget dan bahagianya Zahrana. Seolah tak peracaya dengan nasibnya yang begitu bergelombang. Meski ragu menerima lamaran itu, Zahrana menyampaikan satu syarat.Bila anak ibu dokter benar meminangnya, ia minta agar pernikahannya nanti malam setelah shalat tarawih. Ia sangat trauma dengan tragedi yang menimpa satu malam menjelang pernikahannya dulu. Setelah dialog cukup panjang, tawaran itu diterima ibu dokter. Tepat jam tujuh malam, mereka melangsungkan pernikahan suci di masjid yang disaksikan para jamaah shalat tarawih. Malam pertama bulan Ramadhan yang indah menandakan berakhirnya penderitaan Zahrana. Ia menyempurnakan hidupnya dengan mencurahkan cinta sucinya.

Wednesday, January 9, 2013

puisi Kuasamu karya : Panji Pradana


Kuasa-Mu

Sejauh mata memandang
Terlihat betapa besar karunia yang telah ENGKAU berikan
Birunya warna terbentang luas diantara nyanyian sebuah kehidupan
Jiwa ini begitu sepi  menyambut damainya alam yang begitu indah untuk kurasakan

Hembusan angin malam yang semakin menusuk tulangku
Serasa membawa ketentraman dalam arti kehidupanku
Hidupku adalah hidupku
Hidup dimana aku harus terus berjalan sampai akhir hayat masa kehidupanku.
Disitulh kulihat betapa

Artikel Nilai-Nilai Yang Dapat Digali Untuk Pendidikan Karakter Bagi Siswa Pada Puisi “MBELING” Karya Remy Silado Yang Berjudul “OLAHRAGA”.


Artikel Nilai-Nilai Yang Dapat Digali Untuk Pendidikan Karakter Bagi Siswa Pada Puisi “MBELING”  Karya Remy Silado Yang Berjudul  “OLAHRAGA”.
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengajaran Sastra
Dosen pengampu : Bakdal Ginanjar S.S


 

Disusun oleh :
Panji Pradana
092110144
VI D

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2011/2012
Nilai-Nilai Yang Dapat Digali Untuk Pendidikan Karakter Bagi Siswa Pada Puisi “MBELING”  Karya Remy Silado Yang Berjudul  “OLAHRAGA”.

OLAHRAGA
                                          Karya: Remy Silado
Olahraga
Orang kota
Mengangkat barbell
Di fitness center

Olahraga
Orang desa
Mengangkat cangkul
Disawah ladang

Yang satu
Mencari sehat
Karena anjuran
Yang lain
Menemukan sehat
Karena terlanjur



Dalam kemasan puisi “Olahraga” pengarang tidak menitik beratkan pada tipografi puisi dan bagaimana bentuk mempengaruhi isi. Tipografinya rata kanan, akan tetapi secara makna puisi ini merupakan realita sosial dan identitas sosial masyarakat tersebut.
Secara umum pengertian makna dalam puisi Olahraga masuk ke dalam bentuk stilistiknya yang  mempermainkan dan mengadu makna satu dan yang lainnya. Secara sosiologis puisi ini memperbandingkan keadaan olahraga antara orang kota dan orang desa. Akan tetapi bukan hanya itu yang ingin dikembangkan pengarang, namun bagaimana perbandingan ini bisa jelas terlihat dari bentuk satir olahraga yang dilakukan masyarakat.
Pada dasarnya secara sosial masyarakat kota banyak memiliki keterbatasan dan dituntut untuk menempati sebuah ruang dalam melakukan berbagai hal. Dalam bekerja misalnya orang kota cendrung bekerja di bilik-bilik atau ruangan perkantoran, sehingga olahragapun dituntut untuk memiliki ruangan pribadi dalam keadaannya.
Berbeda dengan orang desa yang tidak memiliki batasan ruang terhadap segala aktifitasnya. Perbandingan ini jelas terlihat dimana kata “olahraga” pada baris pertama dihubungkan dengan kata “sawah ladang” di baris kedua. Ini menimbulkan sebuah simbiosis mutualisme antara kerja dan olahraga. Dan jika dihubungkan kembali dengan bait pertama pada baris yang sama kata “olahraga dan fitness center”  adalah batasan ruang yang dimiliki orang kota. Keterbatasn orang kota dalam melaksanakan rutinitas seperti dihadirkan dalam satir puiosi yang ceria.
Pada kata ‘ Anjuran ‘ yang merujuk pada masyarakat kota, olahraga merupakan jalan keluar bagi kesehatan yang didapatkan/dilakukan berkat anjuran/nasihat dokter. Sedangkan kata ‘Terlanjur’ yang merujuk pada masyarakat desa, olahraga adalah hal yang pasti mereka lakukan karena pekerjaan mereka menguras fisik atau bentuk lain dari makna olahraga.
Jadi olahraga orang desa disebabkan karena kebutuhan ekonomi yang secara tidak sengaja sudah dilakukannya dengan cara mencangkul di sawah, sedangkan olahraga bagi orang kota adalah sebuah kebutuhan yang memang harus dilakukan secara disengaja misalnya fitnes atau kegiatan olahraga yang lain demi memperoleh fisik yang kuat atau sehat. Maka bersyukurlah bagi orang-orang desa meskipun pekerjaannya di pandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat kota karena pekerjaannya yang kasar, akan tetapi orang desa lebih sehat fisiknya dikarenakan melakukan olahraga setiap hari, dibandingkan dengan orang kota.

“SETINGGI-TINGGINYA TUPAI MELOMPAT PASTI JATUH JUA” DALAM NASKAH DRAMA MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL


“SETINGGI-TINGGINYA TUPAI MELOMPAT PASTI JATUH JUA” DALAM NASKAH DRAMA MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL
KARYA ARIFIN C. NOER
 “Hendaklah engkau jujur meski hal tersebut merugikanmu, namu kejujuran sangat bermanfaat bagimu. Dan jauhilah kebohongan meski ia menguntungkanmu, namun sejatinya kebohongan merugikanmu.” ( Asy-Sya’bi )

                                             Panji Pradana / PBSI VI D

Di sekitar kita dan di manapun kita berada kita semua tahu akan banyak sekali ketidakjujuran yang terjadi dalam kejadian yang kita alami sehari-hari. Baik itu yang dilakukan rakyat biasa maupun yang dilakukan oleh para petinggi negara yang selalu ramai dibicarakan di media cetak maupun media elektronik. Kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan ketidakjujuran. Ketidakjujuran merupakan sesuatu hal yang diungkapkan bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya.
Ketidakjujuran sangat berpengaruh pada pola tingkah laku manusia dalam bermasyarakat atau sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan obantuan dari orang lain. Ketika kepercayaan itu di khianati oleh ketidakjujuran seseorang, maka akan sulitlah bagi orang tersebut untuk mempercayai kembali. Dengan demikian, bukanlah sangat penting kepercayaan seseorang bagi kehidupan kita.
Naskah drama Matahari Di sebuah Jalan Kecil karya Arifin C. Noer mengajak kita meneropong kedalam kisah nyata yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai masalah yang timbul dalam bermasyarakat dan juga liku-liku kehidupan yang mengikuti perkembangan zaman yang semakin membuat masyarakat kecil semakin tercekik.  

SI TUA                       :Tempe lima rupiah sekarang.
SI KACAMATA         :Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.
SI PECI                      :Semua perempuan ya ngeluh.
SI KURUS                 :Semua orang pengeluh.
SI KACAMATA       :Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.

                Dalam kutipan diatas jelas sekali bahwa banyak masyarakat yang mengeluh atas harga sembako yang semakin lama semakin meningkat. Kesejahteraan yang semakin jauh dari harapan.
            Matahari disebuah jalan kecil memunculkan pertentangan tokoh utama dalam suatu kondisi. Pertentangan antar pendapat dan keraguan karena pernah merasakan hal ketidakjujuran seseorang. Dan pada akhir cerita tokoh utama merasa kecewa dengan mengetahui kebenaran atas keraguan pada tokoh utama.
            Cerita diawali dengan Di sebuah jalan kecil terdapat sebuah pabrik es yang sudah sangat tua. Di depan bangunan pabrik es itu ada seorang wanita tua yang berjualan makanan berupa pecel. Pelanggannya kebanyakan dari pekerja pabrik juga. Saat itu yang berada di warung pecel tersebut ada Si Tua, Si Peci, Si Kurus, Si Kacamata, dan Si Pendek. Mereka sedang makan sekaligus mengeluh tentang harga makanan dan kebutuhan pokok yang terus beranjak naik sedangkan gaji mereka tak kunjung naik.

            SI TUA           :(menerima pecel) Sedikit sekali.
SIMBOK        :(tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)
SI PECI           :Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)
SI TUA           :Tempe lima rupiah sekarang.
           

            Kemudian datanglah seorang pemuda yang ikut makan disitu. Jam istirahat bagi para pekerja sudah habis jadi mereka memutuskan untuk kembali ke dalam dan yang tersisia disitu tinggal seorang pemuda tersebut. Lalu setelah selesai makan dan hendak membayar ternyata dompet pemuda itu ketinggalan dan ia meminta ijin kepada simbok untuk mengambil dompetnya dirumah akan tetapi simbok tidak percaya kepada pemuda itu dan terus memaksa pemuda tersebut untuk membayar makanannya.
SIMBOK (berdiri dan berseru)            :Hei, nanti dulu. Bayarlah baru kau boleh pergi.
PEMUDA                                            :Jangan berteriak. Tentu saja saya akan membayar. Tapi saya mesti mengambil uang dulu di rumah. Mbok tidak percaya?
SIMBOK        (diam)
PEMUDA                                            :Tunggulah sebentar, saya orang kampung sini juga.


Suasana semakin tegang ketika datang satu persatu pekerja yang ikut terlibat maupun melihat kejadian tersebut, mereka membela simbok dan terus memojokkan pemuda itu dikarenakan alasan pemuda tersebut tidak masuk akal. Mereka terus berdebat dan akhirnya mereka menyuruh pemuda tersebut untuk meninggalkan bajunya sebagai jaminan.

SI KURUS       :Tidak, kau tidak punya malu. Kau tidak malu makan tidak bayar. Tanggalkan celanamu! Tanggalkan!
SI SOPIR        :Suka! Tentu tidak, ya? Nah, copot bajumu!

Kemudian setelah semuanya pergi dan kembali bekerja, si pemuda tersebut menceritakan yang sebenarnya kepada simbok bahwa dia tidak bermaksud untuk berbohong. Dia datang ke kota ini dengan tujuan mencari pekerjaan akan tetapi malang nasibnya dia tak juga kunjung mendapat pekerjaan dan sudah tiga hari ini dia tidak makan. Simbok pun tersentuh hatinya mendengar cerita pemuda tersebut dan akhirnya mengembalikan baju pemuda itu kembali. Dan membiarkan pemuda tersebut pergi. Akan tetapi selang beberapa lama baru diketahui jika sebenarnya pemuda tersebut telah sering menipu dimana-mana.

PEMUDA      :Mbok, mula-mula maksud saya tidak akan menipu. Sesudah dua hari ini saya hanya minum air mentah saja. Tidak makan apa-apa.
PEMUDA      :Seminggu yang lalu saya masih di Klaten, bekerja di sebuah bengkel. Ya aku tidak cukup dapat makan. Sebab itulah aku mencari pekerjaan di sini.
PEMUDA      :Asalku sendiri dari desa, desa yang wilayahnya di gunung kidul, Wonogiri. Juga Mbok pun tahu tanah macam apa yang menguasai tanah macam gunung kidul itu. Tanah tandus. Tanah yang tidak mengkaruniakan buah bagi mulut yang papa. Sebab itulah aku turun dan mengembara sampai ke pesisir utara ini. Tapi jarak selatan sampai ke pesisir utara tidak juga memberikan apa-apa. Karenanya aku terus menyusuri ke Barat, ke tanah wali ini, dengan harapan tanah serta rumah di kota ini akan sudi memberi makan saya. Tujuh hari sudah saya disini dan dua hari sudah saya lapar. Dan pada hari ketiga kelaparan saya membawa saya kemari ke tempat Mbok berjualan pecel. Tidak, saya tidak bermaksud menipu. Sekali-kali tidak (menengadah) Tuhan, kutuklah aku!

PENJAGA MALAM             :Pasti dia. Kemarin malam dia juga menipu di sebuah warung di pasar Kauman.
SIMBOK                                :Haa….? (menelan ludah) Ya, Allah.


Dari naskah drama diatas memiliki amanat yaitu kita dilarang untuk berbohong karena kebohongan tersebut dapat mencelakakan diri kita sendiri dan juga orang lain. Hal ini dapat terlihat ketika Pemuda tersebut dihakimi oleh banyak orang dan kemudian terkuaklah kebohongannya. Jadi ketika kita telah merugikan orang lain kita juga harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang telah kita lakukan. Dan kita tidak boleh mudah percaya dengan orang lain hanya karena tampang kasian maupun cerita-cerita yang didramatisir oleh orang tersebut. Hal ini bisa terlihat pada bagian akhir naskah drama ini si Pemuda menceritakan tentang kisah hidupnya lalu simbok merasa kasian dan akhirnya simbok percaya dan mengembalikan lagi baju pemuda tersebut. Akan tetapi setelah diketahui ternyata pemuda tersebut berbohong.