Showing posts with label INDONESIA. Show all posts
Showing posts with label INDONESIA. Show all posts

Friday, July 29, 2016

Ini Dia Asal Usul Nama Indonesia!

Sudah berapa lama anda hidup di dunia ini? Sudah tahukah makna nama anda sendiri? Pastinya anda sudah tahu, karena itu nama anda sendiri. 

Sekarang bagaimana jika pertanyaannya saya ubah. Tahukah anda asal usul dan arti nama Indonesia? Aneh rasanya jika bangsa Indonesia tidak tahu asal usul negaranya sendiri. Jika belum tahu dan ingin tahu, silakan baca artikel di bawah baik-baik.

Pernahkah anda bertanya-tanya dalam diri anda, dari mana asalnya istilah nama 'Indonesia'? Apakah istilah ini buatan orang Indonesia sendiri? Atau sebutan yang diberikan orang luar? Simak asal usul nama Indonesia di bawah ini.

Sebutan jaman dahulu

Sebelum abad ke-19, bangsa Indonesia memiliki banyak sebutan yang berbeda-beda. Saat itu negara kita namanya belum Indonesia.

Menurut catatan sejarah, bangsa Tionghoa menyebut Indonesia dengan sebutan Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan"). Sedangkan orang India pada saat itu menyebut bangsa ini dengan nama Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"). Adapun bangsa Arab menyebut kepulauan tersebut sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Jadi, ada banyak nama yang digunakan untuk menyebut kepulauan Indonesia, itupun sebutan yang digunakan oleh negara-negara lain.

Pencipta nama Indonesia

Sebenarnya nama Indonesia bukan asli diciptakan oleh orang Indonesia sendiri. Nama Indonesia merupakan sebutan yang pertama kali digunakan oleh seorang etnolog asal Inggris bernama George Samuel Windsor Earl. Dia adalah penemu cikal-bakal nama Indonesia.
Ini Dia Asal Usul Nama Indonesia!
Earl dan Logan, perintis istilah 'Indonesia'
Awal mulanya, Earl sebagai seorang yang mendalami ilmu etnologi (ilmu tentang suku bangsa) di wilayah Asia pada saat itu, bergabung dengan tim jurnalistik di Singapura pada tahun 1847. Earl menjadi redaksi salah satu jurnal yang terbit setiap tahunnya di Singapura.

Pada suatu ketika, Earl menulis sebuah artikel di jurnal yang kala itu terbit tahun 1850. Artikel yang ditulisnya berjudul "On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian, and Malay-Polynesian Nations".

Di artikel itu, Earl menegaskan bahwa bangsa-bangsa di Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu (sebutan Indonesia pada zaman itu) sudah saatnya untuk mempunyai nama khas, agar tidak rancu dengan India yang asli. 

Pada saat itu Indonesia masih disebut sebagai Kepulauan Hindia, meliputi seluruh wilayah Indonesia dan juga negara Singapura, Malaysia, dan Papua Nugini.

Earl secara terhormat mengusulkan untuk memberi dua pilihan nama, yaitu Indunesia dan Malayunesia. Akhirnya dipilih nama Malayunesia. Jadi, nama Indonesia pada awalnya sempat menjadi Malayunesia.

Kata 'Malayu' berarti ras Melayu, karena penduduk di Kepulauan Hindia ini rata-rata memiliki ras Melayu. Sedangkan 'Nesos' dalam bahasa Yunani artinya adalah 'pulau'. Akhirnya resmi digunakan nama Malayunesia untuk menyebut negara-negara di Kepulauan Hindia.

Akhirnya, dalam tulisan-tulisan milik Earl lainnya, dia secara konsisten menggunakan istilah Malayunesia dan membuang istilah Indunesia.

Istilah Indonesia Menggantikan Malayunesia

Dalam jurnal yang sama, pemimpin redaksi tersebut, James Richardson Logan menulis artikel dengan judul "The Etnology of the Indian Archipelago".

Dalam artikelnya, dia mengubah istilah Kepulauan Hindia, karena terlalu panjang dengan istilah 'Indunesia' yang pernah dibuang oleh rekan subordinatnya, Earl.

Hal ini dikarenakan penggunaan nama Indonesia lebih cocok dengan pandangan masyarakat Eropa yang pada saat itu percaya bahwa penduduk Indonesia masih tergolong orang Hindia. 

Sehingga, nama Indunesia (Indu artinya Hindia atau India) digunakan untuk mempertahankan keakraban masyarakat Eropa dengan pandangan itu, karena sudah terlanjur.

Setelah itu, Logan mengubah huruf u pada Indunesia dengan o, menjadi Indonesia, agar memudahkan pengucapan.

Pengubahan nama itu sempat disanggah oleh Earl, yang tetap mendukung nama Malayunesia. Tapi, Logan mempertahkankan istilah Indonesia karena lebih ringkas dan juga menggambarkan kondisi geografis asli penduduk Indonesia yang notabene berwujud Kepulauan Hindia dekat Samudera Hindia.

Pada saat mengusulkan nama 'Indonesia', Logan tidak pernah tahu bahwa nama itu di kemudian hari akan menjadi nama resmi. Semenjak pemberian nama ini, dia selalu menggunakan istilah 'Indonesia' untuk merujuk pada kepulauan Hindia di tulisan-tulisannya.

Istilah 'Indonesia' diberlakukan di Tanah Air

Waktu demi waktu, istilah Indonesia merambah ke penjuru dunia. Para pakar yang menggeluti dunia etnologi dan geografi mulai mengenal nama ini. Termasuk Adolf Bastian, yang kemudian mempopulerkan nama "Indonesia" di negeri Belanda.

Istilah "Indonesia" kemudian terdengar oleh kaum pribumi asli Indonesia. Tokoh terkenal yang kemudian meneruskan istilah ini adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Sebelum itu, Logan sudah meninggal pada tahun 1869.

Saat beliau diasingkan di Belanda pada tahun 1913, beliau membangun usaha percetakan bernama Indonesische Persubereau. Nama Indonesische merupakan pelafalan yang diucapkan orang Belanda yang berarti Indonesia. Sama halnya dengan nama 'Singapura' yang dilafalkan sebagai 'Singapore' oleh orang Eropa.

Istilah 'Indonesia' kemudian dipungut oleh tokoh-tokoh revolusioner Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan sekitar tahun 1920. Nama 'Indonesia' kemudian menjadi identitas bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya. 

Alhasil, Belanda, yang kala itu masih menjajah Indonesia, mulai berhati-hati dengan penggunaan kata yang dibuat Logan itu.

Inisiasi-inisiasi lainnya digalakkan seperti perubahan nama Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia) menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia). Disusul dengan perubahan nama majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka, partai politik Perserikatan Komunis Hindia menjadi Partai Komunis Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dari pergantian-pergantian yang semakin menggelora, hingga puncaknya pada tahun 28 Oktober 1928 ketika Sumpah Pemuda dituturkan, nama 'Indonesia' dinobatkan sebagai nama tanah air bangsa secara sah.

Hingga hari kemerdekaan NKRI, nama 'Indonesia' tetap digunakan sebagai identitas bangsa dan nama sah negara Republik Indonesia.

Itulah sejarah asal-usul nama Indonesia. Ternyata cukup panjang juga ya. Dengan membaca artikel di atas, kita jadi bisa menyimpulkan bahwa nama Indonesia berasal dari ide dan pemikiran orang luar. Semoga artikel ini bermanfaat.

Referensi: 

Friday, January 22, 2016

Ini Dia Istilah Salah Kaprah Dalam Bahasa Indonesia!

Ini Dia Istilah Salah Kaprah Dalam Bahasa Indonesia!
Pernahkah anda menyadari bahwa ada banyak istilah dan perkataan yang salah kaprah dalam Bahasa Indonesia tapi anda tetap menggunakannya. Ada banyak sekali istilah yang seperti itu. Ambil contoh kata absen. Banyak yang tidak memahami apa sebenarnya arti dari absen. Yang dipahami selama ini, absen adalah kehadiran. Padahal tidak demikian.

Jika hendak mencari dan menghitung berapa banyak istilah yang salah kaprah dalam Bahasa Indonesia, sebenarnya ada banyak sekali. Tapi, kami akan menyajikannya beberapa saja di bawah ini. Silakan langsung saja simak istilah-istilah yang salah arti tapi sudah memasyarakat yang sudah kami kumpulkan dari banyak sumber.

Rubah vs. Ubah

Banyak orang menggunakan kata ‘rubah’ untuk merujuk pada kata ‘ubah’. Misalnya, “Itu konfigurasinya harus dirubah."

Nah, kata yang benar adalah ‘diubah’ bukan ‘dirubah’. Bukan ‘merubah’ tapi ‘mengubah’. Adapun dalam KBBI terdapat kata ‘perubahan’ itu sudah benar karena “per-” merupakan prefiks dari kata dasar ‘ubah’.

Absen

Kita sering mengartikan kata ‘absen’ sebagai ‘hadir’. Teman anda yang hendak membolos sekolah tapi tetap ingin dianggap hadir suatu ketika bilang pada anda,
“Titip absen dong.”
Padahal kata ‘absen’ menurut KBBI artinya adalah tidak hadir. Jadi salah kaprah jika anda menggunakan kata ‘absen’ untuk mengindikasikan kehadiran anda.

Acuh

Dalam KBBI, ‘acuh’ bermakna peduli. Tapi kita sering salah menafsirkannya sebagai rasa ketidakpedulian. Ada sebuah frase, “Acuh tak acuh”, itu artinya adalah “peduli nggak peduli”.

Seronok

Orang-orang sering mengartikan kata ‘seronok’ sebagai sesuatu yang tidak patut untuk dilihat. Padahal sebenarnya tidak demikian. Jika anda membuka KBBI, anda akan menemukan arti dari seronok adalah enak dilihat. Berarti jika ada seseorang yang mengatakan tidak boleh menggunakan pakaian seronok, itu artinya dia menyuruh agar mengenakan pakaian yang tidak enak dilihat.
Lihatlah contoh penggunaan yang baik dan benar:
Penyanyi itu memiliki suara yang seronok dan memikat hati.

Geming

Menurut anda apa yang dimaksud dengan geming? Mungkin anda akan mengingat pada kata, ‘tak bergeming’ yang berarti tidak bergerak atau diam. Tapi jika anda mengeceknya di KBBI, geming itu sendiri berarti diam. Jadi tak bergeming adalah tidak diam.

Kita vs. Kami

Kadang dalam menggunakan kata ‘kita’ masih banyak yang mengalami kesalahan.
Contohnya:
A: “Kalian mau pergi kemana?”
B: “Kita mau pergi ke town square
Seharusnya si B mengganti kata ‘kita’ dengan ‘kami’, karena penggunaan kata ‘kita’ melibatkan si penanya juga sedangkan si penanya sendiri tidak pergi ke town square.

Penyingkatan Salah Kaprah

Ada banyak contoh kesalahan dalam menyingkat suatu nama badan atau lembaga seperti nama bank, komunitas, dan sebagainya.
Contoh:
Perseja Jakarta.
Bank BNI/BRI/BTN, dan sebagainya.
Penyingkatan di atas salah karena pada kata ‘Perseja’ sendiri sudah terdapat kata ‘Jakarta’, jadi sebenarnya tidak perlu ditambahkan kata ‘Jakarta’ lagi di akhir karena nanti jadinya, “Persatuan Sepakbola Jakarta Jakarta.”

Menunggu Hujan

Penggunaan kalimat ini juga salah. Jika konteksnya seseorang kehujanan kemudian dia menepi, dia tidak perlu mengatakan “Nunggu hujan dulu ah”, karena untuk apa hujan ditunggu. Yang seharusnya ditunggu adalah hujan reda. Jadi penggunaan kalimat yang tepat adalah, “Menunggu hujan reda.”

Jam

Ketika ingin mengetahui arah jarum jam, kita sering bertanya, “Sekarang jam berapa?”
Tahukah anda jika pertanyaan itu sebenarnya salah. Pertanyaan yang benar adalah,  “Sekarang pukul berapa?”

Air Mancur vs. Air Mancar

Berdasarkan KBBI, pancur adalah air yang mengalir kebawah, atau yang sering kita lihat pada air keran. Sedangkan pancar adalah air yang menyebar dan memancar, sehingga penggunaan istilah yang benar untuk mengatakan air yang memancar di tengah kolam adalah ‘air mancar’, bukan air mancur.

Berat vs. Massa

Kadang kita menjumpai orang berbelanja di warung sambil berkata, “Beli telur beratnya 1 kg saja”. Penggunaan kalimat tersebut sejatinya memiliki kesalahan. Jika ingin menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, orang itu harusnya mengganti kata ‘berat’ dengan kata ‘massa’ karena satuan internasional untuk berat ialah newton, jadi itu tidak benar. Tapi bukan menjadi masalah mengingat penggunaan kata ‘berat’ sudah membudaya dan disepakati secara masal oleh masyarakat Indonesia.

Tukang Sampah

Memang sudah benar penggunaan kata ‘tukang sampah’ untuk menyebut orang yang membersihkan sampah di jalanan jika merujuk pada KBBI. Tapi, menurut kami pribadi, penggunaan istilah ini rasanya kurang afdal. Seharusnya kita menyebutnya sebagai ‘petugas kebersihan’ agar lebih positif dalam konotasi penyebutannya ketimbang ‘tukang sampah’.

Rumah Sakit

Dalam KBBI dijelaskan bahwa rumah sakit adalah gedung untuk merawat orang sakit. Menurut situs ujungkelingking, penggunaan istilah ini sebenarnya kurang tepat karena seakan-akan tidak ada orientasi positif pada objek gedung dan seisinya. Akan lebih baik jika dahulu namanya dipatenkan sebagai ‘rumah sehat’.

Obat Nyamuk

Istilah ini malah berbanding terbalik dengan istilah ‘rumah sakit’. Obat itu biasanya berhubungan dengan kesembuhan. Sedangkan disini penggunaan istilah obat nyamuk bersifat membunuh nyamuk, bukan mengobati nyamuk. Jadi secara pribadi ada yang aneh dalam penggunaan istilah ini.

Duduk Sebangku

Duduk sebangku biasa diartikan sebagai duduk berdampingan satu sama lain. Tapi istilah ini kurang tepat. Duduk sebangku secara logika yaitu dua orang atau lebih duduk dalam satu bangku yang sama. Jika yang dimaksud bangku disini adalah bangku taman mungkin logis juga, karena bangkunya panjang. Tapi, bagaimana jika bangku sekolah yang bangkunya terpisah? Apakah dua orang duduk berpangkuan? Nah, disinilah letak kesalahan istilah tersebut.

Air Putih

Air putih disini maksudnya adalah air bening atau air mineral. Tapi mau bagaimana lagi, toh masyarakat sudah terbiasa menyebut air mineral sebagai air putih, jadi tidak masalah selama kau dan aku paham artinya.

Itulah beberapa istilah yang salah kaprah. Bagaimana menurut anda? Apakah merema memang salah kaprah secara pemaknaan, logika, dan filologis (tata bahasa)? Sebenarnya masih ada banyak sekali istilah yang salah kaprah dalam Bahasa Indonesia. Tapi dengan kesalahkaprahan tersebut, tidak menghambat para pengguna bahasa dalam melakukan percakapan dengan baik, selama si A dan si B paham satu sama lain maka tidak masalah.

Referensi:

[1] Nyunyu.com - Bahasa Salah Kaprah
[4] Kaskus