Showing posts with label I S L A M. Show all posts
Showing posts with label I S L A M. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

Hutang Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan puasa wajib tetapi Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan.


Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya.

Bagaimana jika belum diqadha hingga datang ramadhan berikutnya?

Sebagian ulama memberikan rincian berikut,

Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.

Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:

1. Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.

2. Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.

3. Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini? Bagian ini yang diperselisihkan ulama:

  • Pendapat pertama, Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadis ini dan hadis semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.
  • Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,

    Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain
    . (QS. Al-aqarah: 184)

    Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.

    Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,
    هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع
    Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).
     

Source:
http://www.konsultasisyariah.com/hukum-hutang-puasa-ramadhan-beberapa-tahun-belum-diqadha/

Wednesday, July 22, 2015

Mendahulukan Puasa Qodho dibanding Puasa Syawal

Puasa Ramadhan merupakan puasa 1 bulan penuh yang wajib dikerjakan bagi seluruh umat muslim. Bagi wanita yang sudah baligh tentunya ada masa dimana tidak bisa mengerjakan puasa ramadhan karena haid dan harus membayar hutang puasa tersebut setelah hari raya sampai sebelum ramadhan tahun berikutnya (kecuali hari-hari yang diharamkan puasa).




Lalu bagaimana jika mengerjakan puasa syawal tetapi belum membayar hutang puasa ramadhan?

Dalam hal ini ulama ada yang mengatakan bahwa membayar hutang puasa lebih dahulu akan lebih afdhol, setelah itu baru melakukan puasa Syawal. Salah satunya adalah Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah

“Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Mendahulukan membayar hutang adalah lebih utama. Selanjutnya wanita tersebut boleh melakukan puasa sunnat 6 hari dibulan syawal yang waktunya satu bulan tersebut. 

Puasa Syawal

Puasa syawal merupakan puasa 6 hari yang hanya dapat dilaksanakan di bulan syawal setelah hari raya (1 syawal) dan hukumnya sunnah. Keutamaan puasa 6 hari di bulan syawal adalah memperoleh ganjaran pahala seperti orang yang melaksanakan puasa setahun penuh. 




“siapa saja yang bershaum Ramadhan lalu meneruskan shaum 6 hari di bulan Syawal, maka orang tersebut bagai bershaum 1 tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).


 Luar biasa bukan, karena rasanya tak seorangpun sanggup puasa satu tahun penuh.

Adapun masalah niat, anda boleh mengucapkannya ataupun tidak, bukan sebuah masalah karena niat adalah i’tikad yang muncul dalam hati. Namun bila anda suka dengan mengucapkan niat, maka boleh mengucapkan niat seperti dibawah ini.

 http://informasiana.com/wp-content/uploads/2015/07/niat-puasa-syawal.jpg
“Nawaitu shauma ghadin ‘an sittatin min syawwaalin lillahi ta’alaa”. Artinya: aku niat bershaum suunat 6 hari bulan Syawal karena Allah.

Waktu yang utama membaca niat berpuasa tersebut adalah dilakukan ketika malam. Maka ucapan niat bershaum sunnat mempunyai batasan sebelum memasuki waktu dhuhur.

Lebih utama adalah usai sehari perayaan Idul Fitri, namun jika tidak memungkinkan seusai itu pun tak mengapa selama masih dalam bulan Syawal. 

“Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan,” Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata. 

Puasa syawal boleh dikerjakan berurutan atau tidak, tetapi alangkah baiknya bila dilakukan berurutan karena menghindari dari menunda-nunda.


source:
http://www.google.com
http://sidomi.com/396116/inilah-niat-dan-tata-cara-puasa-syawal/
http://www.szaktudas.com/niat-puasa-syawal-6-hari-di-bulan-syawal-pengertian-dan-keutamaannya-47858.html 

Tuesday, June 23, 2015

Cara melepaskan diri dari teman bergaul yang buruk


Banyak kisah-kisah orang yang terdahulu sebagian mereka pun adalah orang-orang yang berakal cemerlang dan memiliki kedudukan di masyarakatnya. Dia hendak meninggalkan keburukan namun teman yang buruk tidak rela kecuali bisa merusaknya, mempermainkan akalnya hingga akhirnya dia meninggal dalam kekufuran. Wal ’iyaadzu billah.

Cara melepaskan diri dari teman bergaul yang buruk

1.Menjauhi perbuatan keji dan perilaku zhalim kepada orang lain.
2.Membuat orang merasa aman terhadap kita.
3.Meninggalkan pergaulan yang buruk dan menjauhi apa-apa yang bisa menghalangi menuju kebaikan .
4.Menjadikan cinta dan benci kepada orang lain hanya untuk mengharapkan wajah Allah dan menuju kesempurnaan iman.
5.Menolong pertolongan pada Allah.

Sesungguhnya seseorang akan mencocoki kebiasaan sahabat dekatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).

source: https://www.facebook.com/SyiarIslamOnline/posts/942399449144777:0

Monday, June 22, 2015

6 Strategi Hemat di Bulan Ramadhan




VIVA.co.id - Mayoritas orang mengatakan bahwa pengeluaran dana selama bulan Ramadhan justru lebih jor-joran ketimbang bulan-bulan biasa. Pernyataan itu memang masuk akal, mengingat banyak aktivitas di bulan tersebut yang membutuhkan dana lumayan besar, misalnya saja mudik, berbuka puasa bersama, atau membeli keperluan lebaran

Apakah mungkin berhemat di bulan puasa? Jawabannya, masih sangat mungkin. Nah, berikut ada 6 strategi hemat di bulan puasa yang mungkin bisa menolong Anda tetap menghemat. 

1. Jangan selalu tergoda sale, atau pesta diskon

Setiap mal di mana pun akan mengadakan sale, atau pesta diskon untuk menarik pembeli membeli produk mereka. Sesekali Anda mungkin bisa berbelanja untuk keperluan lebaran, tetapi disarankan tidak setiap waktu karena akan menguras kocek. 

Baiknya lagi membuat daftar belanjaan yang harus dibeli, sehingga Anda tidak “tergoda” membeli barang yang tidak diperlukan hanya karena sedang diskon.

2. Hindari sering buka puasa besama di restoran

Berbuka puasa bersama teman, kekasih, atau saudara di restoran, atau cafe memang menyenangkan. Tetapi, pernahkah Anda membayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan kalau selama sebulan penuh Anda berbuka puasa di tempat-tempat makan.

Bagaimana kalau berbuka puasanya dilakukan di rumah bersama keluarga, atau mengundang teman ke rumah?  Selain lebih hemat, cara ini juga akan mempererat hubungan silaturahmi.

Kalau pun Anda ingin berbuka puasa di restoran, atau cafe, pastikan ada diskon dan penawaran khusus di sana. Anda bisa mengecek kartu kredit yang Anda miliki untuk bisa mendapatkan diskon, atau makanan dengan promo yang lebih murah.

3. Tidak membuang-buang makanan

Saat puasa, ada kalanya orang mengalami “lapar mata”. Lapar mata disini yaitu Anda ingin memborong apa pun, baik makanan mau pun minuman yang sepertinya sangat enak untuk teman berbuka puasa. 

Celakanya Anda tidak mampu menghabiskannya karena terlalu banyak. Ini sama dengan mubazir dan tidak sesuai dengan semangat ibadah puasa yang penuh kesederhanaan.

Disarankan Anda belanja makanan untuk buka puasa secukupnya. Kalau pun Anda memiliki banyak uang, Anda bisa membeli porsi makanan yang lebih untuk disedekahkan pada yang membutuhkan. 

Selain pengeluaran lebih hemat, Anda juga bisa menabung kebajikan untuk akhirat kelak.
4. Upgrade pakaian

Bulan puasa dan lebaran sering dikait-kaitkan dengan pakaian baru. Ini memang masuk akal, karena banyak pusat perbelanjaan yang memberikan diskon khusus untuk pembeli.

Daripada mengeluarkan uang untuk membeli baju baru, kenapa Anda tidak mengecek koleksi pakaian di lemari. Siapa tahu ada pakaian yang masih gress tetapi tidak pernah dipakai atau lupa dipakai. 

Anda juga bisa melakukan design ulang pakaian itu ke tukang jahit langganan. Dijamin akan lebih murah dan hemat ketimbang membeli baru.

5. Belanja di toko grosir 

Meskipun swalayan menawarkan harga diskon, atau promosi untuk produk-produk kebutuhan rumah tangga, tidak ada salahnya Anda tetap mengunjungi toko grosir, atau pasar tradisional untuk membeli kebutuhan rumah tangga. 

Selain harganya lebih murah, Anda bisa menawar langsung pada pembelinya. Disarankan untuk belanja kebutuhan untuk keperluan seminggu, atau dua minggu sekaligus, sehingga Anda bisa membeli dengan jumlah banyak dan harga yang lebih 

6.  Menyisihkan THR atau bonus

Buat yang bekerja di kantoran, yang sangat ditunggu-tunggu saat bulan Ramadhan adalah pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), atau bonus Lebaran. Daripada mengunakan semua uang itu, bagaimana kalau Anda meyisihkannya untuk ditabung? Siapa tahu Anda bisa membeli barang yang Anda idam-idamkan.

Siapa bilang menghemat saat bulan Ramadhan tidak mungkin? Selama Anda memiliki keinginan dan disiplin, semua pasti bisa dilakukan. Selamat berpuasa. (asp)

source: viva.co.id

Wednesday, February 13, 2013

Berkaitan dengan Nadzar

Pengertian Nadzar – Jenis-jenis nadzar dan hal yang menyimpang dalam nadzar

Nadzar

 Di dalam Islam, dikenal dengan konsep yang paling utama dalam beragama, yakni Tauhid. Ketentuan pokok di dalam Tauhid adalah segala bentuk ibadah mutlak ditujukan kepada Allah dan hanya kepada Allah saja, tidak ada selain Dia. Maka dari itu bisa dikatakan bahwa jika motivasi ibadah ditujukan untuk selain Allah seperti ingin mendapatkan pujian dan sanjungan, maka pelakunya sudah terjerumus dalam hal kesyirikan. 

pengertian Nadzar Nadzar adalah ibadah
Salah satu bentuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata adalah Nadzar. Nadzar adalah suatu tindakan seseorang yang mewajibkan orang tersebut melakukan suatu ibadah kepada Allah, yang pada asalnya ibadah tersebut tidak wajib. Ada satu firman Allah Ta’ala, yang artinya:

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” QS. Al Insaan: 7

Di ayat ini Allah memuji hamba-hambaNya yang menunaikan nadzar dan hal ini dapat menjadi sebab masuk surga. Maka dapat disimpulkan bahwa nadzar adalah salah satu bentuk ibadah, dimana salah satu bentuk perbuatan yang dapat mengantarkan pelakunya ke surga adalah ibadah. Dalam surat Al Hajj ayat 29, Allah juga memerintahkan hambanya untuk menyempurnakan nadzar. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa orang yang melakukan nadzar untuk selain Allah, berarti dirinya telah mengalihkan ibadah kepada Allah sehingga termasuk dalam syirik.

Jenis-jenis nadzar 

Sebagian orang pasti kebingungan, kenapa nadzar itu termasuk ibadah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukainya, termaktub dalam hadits berikut:

وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ إنه لا يأتي بخير

Sesungguhnya nadzar itu tidak mendatangkan kebaikan. Nadzar hanyalah alat agar orang yang pelit mau beramal.” HR Bukhari no 6234 dan Muslim no 1639

Namun sebelum menjawab pertanyaan diatas, maka ada baiknya kita mengetahui dulu jenis nadzar berdasarkan sebabnya. Dalam hal ini, nadzar terbagi menjadi dua macam, yakni:

  1. Nadzar muthlaq, yakni nadzar oleh seseorang yang ditujukan untuk beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan imbalan dari Allah. Para ulama’ mengatakan bahwa jenis nadzar ini tidak termasuk dalam sabda nabi diatas, karena ia tidak mengharapkan imbalan dari Allah. Misalnya adalah seseorang mengucapkan “saya bernadzar untuk berpuasa 3 hari karena Allah”.
  2. Nadzar muqayyad, yakni seseorang yang bernadzar untuk ibadah kepada Allah dengan mengharapkan ganti terhadap sesuatu yang diinginkannya. Misalnya adalah seseorang yang mengucapkan, “aku akan berpuasa 7 hari berturut-turut jika Allah menyembuhkan penyakitku”, atau berucap “jika aku mendapatkan pekerjaan, aku akan bersedekah seratus ribu”. Nadzar jenis ini mensyaratkan Allah harus memberikan sesuatu sebelum dia beribadah kepada Allah. Nadzar inilah yang dicela oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tentang nadzar diatas.

Maka dari itu yang patut direnungkan oleh mereka yang bernadzar adalah jangan dijadikan kebiasaan, meskipun bentuknya muthlaq dan tidak bermaksud mengharapkan imbalan dari Allah Ta’ala. Hal ini dikarenakan bisa saja dalam pelaksanaannya terjadi ketidaksempurnaan dan menjerumuskan ke dalam dosa.


Penyimpangan dalam nadzar

 Meskipun nadzar adalah ibadah, banyak juga penyimpangan yang dilakukan seputar nadzar oleh kaum muslim. Bahkan penyimpangan tersebut termasuk dalam kategori maksiat kepada Allah, sebagian lagi masuk dalam kesyirikan dan kekufuran. Paparan dibawah ini membahas penyimpangan tersebut:

Bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah

Semisal orang berkata, “aku bernadzar demi Allah untuk mencuri”. Jelas sekali bahwa nadzar seperti ini hukumnya haram, meskipun niatnya ditujukan kepada Allah. Tentu saja tidak dimungkinkan beribadah kepada Allah dengan kemaksiatan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni:

لا وفاء لنذر في معصية

Tidak boleh menunaikan nadzar dalam rangka bermaksiat kepada Allah.” HR. Muslim No. 1641

Bahkan untuk hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang untuk membatalkan nadzarnya dan membayar kaffarah sumpah, sesuai dengan hadits dibawah ini:

من نذر نذرا في معصيةفكفارته كفارة يمين

Barangsiapa yang bernadzar dalam rangka bermaksiat kepada Allah, maka (hendaknya dirinya membayar) kaffarah sumpah.” HR. Abu Dawud No. 3322

Bernadzar kepada selain Allah 

Ini semisal orang berucap di depan kuburan orang shalih, “Aku bernadzar demi orang fulan si orang shalih ini” atau “aku bernadzar demi dia yang ada di kuburan ini. Tentu saja hal ini tidak diragukan lagi dalam Islam termasuk perbuatan syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam karena telah memalingkan ibadahnya kepada selain Allah. Ada juga penyimpangan nadzar yang merupakan turunan dari penyimpangan ini dan sering dilakukan oleh orang awam. Hal ini seperti yang dibahas oleh Syaikh Qasim Al Hanafi dalam Syarh Durail Bihar, diantaranya:

  1. Nadzar yang dilakukan di sisi kuburan-kuburan, mengharapkan kembalinya orang yang dicintai atau telah lama menghilang.
  2. Orang sakit yang mengharap kesembuhan atau seseorang yang memiliki suatu kebutuhan lalu mendatangi kuburan orang shalih serta memohon untuk disembuhkan atau dicukupi kebutuhannya.

Jenis nadzar ini disepakati sebagai nadzar yang batil dengan dua alasan, yakni:

  1. Hal ini suatu bentuk bernadzar kepada makhluk, sedangkan nadzar kepada makhluk hukumnya haram. Nadzar adalah ibadah, sehingga hanya kepada Allah semata nadzar boleh ditujukan.
  2. Yang menjadi obyek nadzar adalah seonggok mayit, atau bahkan seonggok tanah yang tidak mampu berbuat apapun, jangankan bagi orang lain, bagi dirinya saja tidak mampu.
  3. Pelaku nadzar percaya dan berkeyakinan kuat bahwa mayit tersebut dapat melakukan sesuatu (memberikan manfaat) di samping Allah. Padahal sudah jelas keyakinan tersebut adalah terlarang dan termasuk dalam kekufuran.

Nadzar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam karena menjadikan mayit sebagai perantara kepada Allah Ta’ala. Orang yang berkeyakinan seperti ini digolongkan oleh Allah sebagai orang musyrik dalam firmanNya, yang artinya:

Dan mereka menyembah (sesembahan) selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”QS. Yunus: 18

Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya:

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” QS. Az Zumaar: 3

Pada kedua ayat diatas, Allah secara gamblang memberitahu kepada kita bahwa keyakinan syirik beredar luas di kalangan muslimin, terutama bahwa mayit orang yang shalih dapat menjadi perantara yang mendekatkan seseorang kepada Allah ta’ala.

Bernadzar dengan sebagai bentuk buruk sangka kepada Allah 

Sebagian pelaku nadzar, meskipun hanya untuk Allah saja niatnya, namun di dalam hatinya menyakini bahwa kebutuhan atau keinginan mereka tidak akan terkabul jika mereka tidak bernadzar. Hal ini merupakan satu bentuk berburuk sangka kepada Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi dan Maha Pemurah kepada hamba-Nya. Allah tidak mengharapkan imbalan dari apa yang Dia berikan kepada makhlukNya. Oleh karena itu, jika niatnya seperti ini, maka nadzar ini termasuk ke dalam nadzar yang bathil. (iwan)

sumber : ridwanaz.com

Azab kubur karena kesalahan buang air kecil

Azab kubur karena kesalahan buang air kecil

Anda pernah memasuki toilet di mall atau hotel? Yang kami maksud disini adalah toilet umum yang dipergunakan orang banyak. Untuk toilet pria, sekarang ini didominasi oleh urinoir yang berupa bejana kecil permanen yang menempel ke tembok dengan ruangan terbuka tanpa sekat satu sama lain. Orang yang sedang kencing dapat menyaksikan dan disaksikan oleh orang lain. Dengan tanpa malu berdiri di depan urinoir dan setelah selesai langsung mengangkat pakaian dan merapikannya tanpa membasuh alat vital. Maka orang tersebut dalam keadaan najis jika berlaku demikian.
Azab kubur karena kesalahan buang air kecil
Hal ini persis apa yang dilakukan oleh orang-orang non-islam. Mereka melakukan dua perkara yang diharamkan, yakni diantaranya adalah tidak menjaga aurat dari pandangan orang lain dan yang kedua adalah tidak membersihkan najis yang tersisa dari kencingnya. Padahal Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya merupakan maslahat bagi penganutnya. Salah satunya adalah aturan untuk menghilangkan najis. Dalam Islam, umatnya disyariatkan untuk melakukan Istinja’ (membersihkan diri dengan air) dan Istijmar (membersihkan kotoran dengan batu). Islam juga menerangkan bagaimana cara melakukan hal tersebut hingga dapat mencapai kebersihan yang maksimal.
Sementara itu saat ini banyak orang yang menganggap enteng masalah membersihkan najis ini. Akibat yang timbul adalah badan dan bajunya masih kotor. Maka dari itu bisa jadi sholatnya tidak sah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa perbuatan tidak membersihkan najis setelah buang air kecil ini salah satu dari penyebab tertimpanya seseorang dengan azab kubur.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Suatu kali Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati salah satu kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa di alam kuburnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda – benar (dlm riwayat lain: Sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba”HR: Bukharidalam Fathul Baari: 1/317
Selain itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya:
Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil”HR: Ahmad dalam Shahihul Jami’ No. 1213
Kesalahan buang air kecil itu antara lain adalah tidak cebok setelah buang air kecil, menyudahi hajat dengan tergesa-gesa padahal kencingnya belum habis, kencing dengan posisi atau tempat tertentu yang menjadikan percikan air kencing kembali mengenainya dan tidak teliti atau dengan sengaja meninggalkan istinja’ dan istijmar. Semoga kita terhindar dari sikap yang demikian. (iwan)
Sumber: ridwanaz.com

Bagaimana puasa orang yang mimipi basah ?

Hukum mimpi basah saat berpuasa

hukum mimpi basah saat puasaSalah satu hal yang membatalkan puasa adalah berjima’ atau bersetubuh dengan pasangan di siang hari di bulan Ramadhan. Tindakan percumbuan dengan pasangan ini merupakan tindakan yang disengaja, dimana orang masih bisa menghindari jika memang ingin menghindarinya. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang mengeluarkan mani pada saat dia sedang berpuasa itu batal puasanya. Namun bagaimana dengan tidur di siang hari ketika sedang berpuasa kemudian mimpi basah dan mengeluarkan mani?

Apa itu mimpi basah?

Yang pertama, kita akan bahas dulu, apa itu mimpi basah. Mimpi basah adalah emisi nokturnal yang berupa pengeluaran air mani atau semen dari dalam tubuh ketika sedang tertidur dan hanya dialami oleh lelaki. Umumnya mimpi basah dialami oleh remaja pria sebagai tanda dirinya sudah memasuki masa dewasa. Mimpi basah bisa dibarengi dengan mimpi erotis, bisa juga tidak, bahkan ada juga yang tidak bermimpi sama sekali.
Mimpi basah adalah mekanisme yang alami dan pasti terjadi pada lelaki, setidaknya sekali dalam hidupnya. Jika terjadi pada lelaki dewasa, umumnya bagi mereka yang tidak beristri atau beristri namun sudah lama tidak berhubungan badan sehingga vesikula seminalis (kantong sperma) telah penuh oleh sperma yang dihasilkan oleh testis. Oleh karena kantung sperma tidak mampu menampung lagi, maka stok sperma lama harus dibuang. Mekanisme ini diatur oleh otak dengan dikeluarkan pada malam hari, saat seorang lelaki sedang tidur. Jadi mimpi basah itu diluar kendali kesadaran seseorang.

Seseorang yang tidak sadar, amalnya tidak dicatat

Yang kedua, dalam Islam, orang yang menuntaskan sesuatu dalam keadaan tidak sadar, tidak dicatat amalnya oleh malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya:
Pena catatan amal itu diangkat (tidak dicatat amalnya) untuk tiga orang, yakni orang gila sampai dia sadar, orang tidur sampai dia bangun dan anak kecil sampai dia balig” HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tarmudzi, Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh Al-Albani.
Hal ini dikarenakan orang yang gila dan tidur tidak tidak memiliki kesadaran otak dan jiwanya, tidak dapat mengendalikan apa yang menjadi tindakannya sehingga tidak bisa dihakimi. Sedangkan anak kecil tidak memiliki kemampuan membedakan baik atau buruk, sama halnya dengan orang yang tidak sadar. Apakah itu amalan yang baik atau amalan yang buruku, keduanya tidak dapat dicatat.

Lalu, bagaimana puasa orang yang mimpi basah?

Para ulama bersepakat bahwa puasa orang yang mimpi basah tetap sah, namun dia berkewajiban untuk menyegerakan mandi junub setelah terbangun dan merasakan mani keluar dari tubuhnya. Puasanya tidak batal dikarenakan dia tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Seseorang yang tidur tidak memiliki kontrol atas dirinya, oleh karena itu keluarnya mani tidak disengaja. Demikian adalah hukum mimpi basah saat berpuasa di bulan Ramadhan, semoga ini bisa menjadi pencerahan bagi anda. (iwan)
sumber : ridwanaz.com

Larangan Wanita Haid menurut Islam



Larangan bagi wanita haid

Haid adalah suatu hal yang normal bagi wanita. Keluarnya darah dari organ reproduksi sebagai suatu mekanisme alamiah yang terjadi reguler setiap bulan memang harus diketahui oleh siapapun, termasuk bagi pria karena nantinya pria akan menjadi pendamping wanita dan mungkin memiliki anak wanita. Kali ini kita akan membahas mengenailarangan beribadah bagi wanita yang sedang haid.

Larangan yang pertama adalah sholat

Para ulama sepakat bahwa sholat diharamkan shalat bagi wanita yang haid dan nifas. Sholat yang diharamkan adalah semua sholat, baik yang wajib maupun sunnah. Para ulama juga sepakat bahwa wanita yang haid tidak memiliki kewajiban untuk mengqodho’ atau mengganti sholatnya setelah masa haidnya selesai.
Dari Abu Sa’id, Rasulullah bersabda, yang artinya:“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita”HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79
Ada pula hadits yang lain dari Mu’adzah yang mana ia berkata bahwa ada seorang wanita yang bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah kami perlu mengqodho’ shalat kami ketika suci?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang Haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqodho’nya” atau ‘Aisyah berkata, “Kami pun tidak mengqodho’nya”. HR. Bukhari no. 321

Larangan bagi wanita haid kedua adalah puasa

Selain sholat, wanita juga tidak diperbolehkan puasa disaat dalam masa haid, baik puasa wajib atau sunnah. Namun berbeda dengan sholat, wanita yang haid diharuskan mengqodho’ puasanya setelah ia suci. Puasa yang dimaksud harus diqodho’ adalah puasa pada bulan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adzah, ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah ra., yang artinya:
Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?” Maka Aisyah menjawab, “Apakah kamu dari golongan Haruriyah? “ Aku menjawab, “Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.” Dia menjawab, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat”HR. Muslim no. 335
Oleh karena itu para ulama bersepakat bahwa wanita yang dalam keadaan haid dan nifas tidak diwajibkan berpuasa namun tetap diwajibkan untuk mengqodho’ puasanya saat telah suci (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 28/ 20-21).
Larangan ini tampaknya merendahkan wanita, namun sebenarnya adalah penghargaan kepada wanita. Meskipun Rasulullah mengatakan bahwa ini adalah kurangnya agama wanita, namun bukan berarti Allah merendahkan posisi wanita. Sudah terbukti secara ilmiah bahwa gerakan sholat dapat mempengaruhi rahim yang justru menyebabkan wanita kesakitan. Sedangkan puasa pada saat haid justru akan merugikan kesehatan wanita. Padahal tujuan puasa selain untuk Allah adalah dimaksudkan juga untuk menyehatkan manusia.

Larang wanita berjima’ atau bersetubuh saat haid

Jima’ adalah berhubungan intim pada kemaluan. Disebutkan oleh Imam Nawawi ra. dalam Al Majmu’ 2:359, beliau berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.” Sedangkan Ibnu Taimiyah ra. dalam Majmu’ Al Fatawa, 21: 624 juga berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya
Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid (mahidh).” QS. Al Baqarah: 222
Menurut Imam Nawawi dalam Al Majmu’ 2:343, kata Mahidh dalam ayat diatas bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan ada pula yang mengatakan itu adalah tempat keluarnya darah haid, yakni kemaluan. Sedangkan menurut ulama syafi’iyah, yang dimaksud mahidh adalah darah haid.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, yang artinya:
Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639
Dalam Al Majmu’ 2:359, Al Muhamili menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i ra. berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”
Hubungan kelamin yang diperbolehkan dengan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim no. 302 disebutkan perkataan Rasulullah, yang artinya, “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).”
Dalam riwayat yang lain, disebutkan oleh ‘Aisyah ra., yang artinya:
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293
Imam Nawawi menyebutkan bahwa judul bab dari hadits diatas adalah “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Ini artinya mencumbui wanita yang sedang haid selain di kemaluan dan tidak tidak termasuk di tempat yang dilarang Allah serta berlebihan adalah diperbolehkan. Namun dalam hadits ini juga disebutkan bahwa kemungkinan besar orang tidak akan bisa menahan hasrat, sehingga lebih baik jika tidak dilakukan sama sekali.

Larangan wanita haid: Thawaf mengelilingi ka’bah

Wanita haid tidak diperkenankan thawat keliling ka’bah. Hal ini sesuai dengan hadits, dimana Rasulullah bersabda ketika ‘Aisyah haid pada saat berhaji, yang artinya:
Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211
Dalam hadits ini menjelaskan bahwa wanita haid dilarang untuk thawaf di ka’bah namun tidak dilarang melakukan rukun haji yang lainnya.

Larangan wanita haid: menyentuh mushaf Al-Quran

Orang yang berhadats, baik hadats besar maupun kecil tidak diperbolehkan menyentuh mushaf, baik seluruh atau sebagian. Ini adalah pendapat ulama dari semua madzhab yang ada. Dalil yang mendukungnya adalah firman Allah Ta’ala, yang artinya:
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” QS. Al Waqi’ah: 79
Selain itu Rasulullah juga bersabda, yang artinya:
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” HR. Al Hakim
Lalu, bagaimana jika wanita haid ingin membaca Al-Quran? Para ulama semua madzhab sepakat bahwa wanita haid boleh membaca Al-Quran, karena tidak ada dalil yang mendukung larangan bagi orang berhadats baik besar maupun kecil dalam membaca Al-Quran. Namun dalam membaca tersebut, mereka tidak boleh menyentuhnya. Dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 10:209-210 dikatakan bahwa “diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al-Quran. Alasannya adalah tidak ada dalil yang melarang hal tersebut. Namun seharusnya dalam membaca Al-Quran tersebut tidak sampai menyentuh mushafnya. Jika memang mau menyentuh mushaf Quran, maka seharusnya menggunakan pembatas seperti kain yang suci atau semacamnya.”

Hal-hal yang dibolehkan bagi wanita haid dan nifas

Menurut kesepakatan para ulama, wanita yang sedang haid dan nifas, diperbolehkan melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Membaca Al Quran tanpa menyentuhnya.
  2. Melakukan dzikir
  3. Bersujud ketika mendengar ayat sajadah karena sujud tilawah tidak dipersyaratkan thoharoh menurut pendapat mayoritas ulama.
  4. Menghadiri sholat ‘ied.
  5. Masuk masjid karena dalam hal ini tidak ada dalil yang melarangnya dan harus ada hajat atau keperluan.
  6. Melayani suami selama tidak melakukan jima’
  7. Tidur bersama suami.
Demikian adalah larangan dan apa yang diperbolehkan bagi wanita ketika haid dan nifas. Semoga dapat dipahami dan menambah wacana ilmu pengetahuan anda.

sumber : ridwanaz.com

Wednesday, February 6, 2013

Berkaitan dengan Tayamum


Tayamum

Dalam Islam diajarkan untuk pemeluknya bahwa dalam beribadah kita harus suci. Oleh karena itu itu disyariatkan adanya bersuci. Cara bersuci yang dikenal dalam Islam meliputi mandi, wudhu dan tayamum. Dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai tayamum.

Pengertian Tayamum

Pengertian Tayamum yang didefinisikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin adalah sebagai berikut:
  • Jika diartikan secara bahasa, tayamum artinya bermaksud atau menyengajakan. Hal ini sesuai dengan ungkapan orang arab yakni tayyamamtu asy syai’a yang maknanya qashadtuhu (saya menginginkannya).
  • Menurut terminologi syariat, yang dimaksud dengan tayamum adalah membasuh wajah dan kedua telapak tangan dengan menggunakan ash-sha’id suci yang menggantikan bersuci menggunakan air jika memang tidak bisa menggunakan air.
Secara syariat, tayamum adalah suatu keistimewaan dari umat Islam. Hal ini membuktikan bahwa Allah itu adil dan memudahkan manusia sebagai wujud dari kasih sayang-Nya.
cara Tayamum

Dalil pensyari’atan tayamum

Mengenai tayamum, ada beberapa dalil yang membenarkan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
Dan (apabila) kemudian kalian tidak berhasil menemukan air maka bertayamumlah dengan tanah yang suci.” QS. An-Nisaa’: 43
Diriwayatkan oleh ‘Imran bin Hushain ra., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada seorang lelaki yang memisahkan diri tidak ikut shalat berjamaah bersama orang-orang. Maka beliau pun bertanya kepadanya, “Wahai fulan, apakah yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang ?”Lelaki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya mengalami junub sedangkan air tidak ada.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya engkau bersuci dengan ash-sha’id, itu saja sudah cukup bagimu.” HR. Bukhari no. 348 dalam At-Tayamum
Dalam terminologi diatas, ada kata ash sha’id. Apa itu ash sha’id? Ash sha’id adalah permukaan bumi dan segala sesuatu yang ada diatasnya. Maka dari itu diperbolehkan tayamum dengan apa saja yang masih layak disebut sebagai permukaan bumi. Demikian adalah pendapat dari Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Malik dan Ibnu Taimiyah dalam Shahih Fiqih Sunnah I/198. Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam ketiadaan air, maka diperbolehkan bersuci dengan tayamum. Dalam hadits ini juga kita dapat melihat bahwa tayamum memiliki kedudukan setara seperti bersuci dengan air, namun dengan syarat air tidak ada atau ada ketidaksanggupan untuk memakainya. (Tanbiihul Afhaam wa Taisirul ‘Allaam, jilid 1 hal. 113-114)

Penyebab yang membolehkan tayamum

Secara syariat tayamum dapat dilakukan jika ada keadaan sebagai berikut:
  1. Tidak ada air yang cukup untuk bersuci
  2. Tidak sanggup memakai air
  3. Kekhawatiran yang timbul mengenai bahaya jika badan tersentuh air karena sakit yang diderita atau hawa dingin yang terlalu parah.
Bahkan menurut beberapa ulama, orang yang khawatir bahwa kematian akan menjemputnya pada saat hawa dingin sangat menusuk diperbolehkan tayamum karena serupa orang sakit. (Shahih Fiqih Sunnah I/196). Dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ra., ia bercerita sebagai berikut:
Pada suatu saat kami bepergian dalam sebuah rombongan perjalanan. Tiba-tiba ada seorang lelaki diantara kami yang tertimpa batu sehingga menyisakan luka di kepalanya. Beberapa waktu sesudah itu dia mengalami mimpi basah. Maka dia pun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah menurut kalian dalam kondisi ini saya diberi keringanan untuk bertayamum saja?” Menanggapi pertanyaan itu mereka menjawab, “Menurut kami engkau tidak diberikan keringanan untuk melakukan hal itu, sedangkan engkau sanggup memakai air.” Maka orang itu pun mandi dan akhirnya meninggal. Tatkala kami berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau mendapat laporan tentang peristiwa itu. Beliau bersabda, “Mereka telah menyebabkan dia mati! Semoga Allah membinasakan mereka. Kenapa mereka tidak mau bertanya ketika tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat ketidaktahuan adalah dengan bertanya. Sebenarnya dia cukup bertayamum saja.” HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim

Tata cara bersuci dengan tayamum

Setelah membahas mengenai bagaimana hukum bersuci jika tidak ada air dan anjurannya. Maka kini kita akan membahas mengenai tata cara bersuci dengan tayamum. Hal ini dimuat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ammar bin Yasir, yakni:
‘Saya pernah mengalami junub dan ketika itu saya tidak mendapatkan air (untuk mandi, pen). Oleh karena itu saya pun bergulung-gulung di tanah (untuk bersuci, pen) dan kemudian saya menjalankan shalat. Maka hal itu pun saya ceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Sebenarnya sudah cukup bagimu bersuci dengan cara seperti ini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memukulkan kedua telapak tangannya di atas tanah dan meniup keduanya. Kemudian dengan kedua telapak tangan itu beliau membasuh wajah dan telapak tangannya.’ HR. Bukhari dan Muslim
Dari hadits diatas dan beberapa hadits lainnya mengenai tata cara tayamum yang benar, maka yang benar hanyalah menepukkan telapak tangan satu kali ke tanah atau permukaan bumi lainnya, lalu kemudian meniupnya. Setelah itu membasuhkan kedua telapak tangan ke wajah dan telapak tangan lainnya hinggga pergelangan tangan, baik luar maupun dalam. (Shahih Fiqih Sunnah I/202-203)
Dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin bahwa tata cara tayamum karena junub tidak berbeda dengan tayamum karena hadats kecil, yakni dengan cara menepuk kedua telapak tangan ke tanah sekali dan membasuh wajah, telapat tangan kanan dan kirinya. Sedangkan syaikh Ibnu Bassam menerangkan bahwa tayamum hanya memerlukan satu tepukan saja, dimana pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama seperti Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq dan ulama ahli hadits. Tentu saja pendapat ini didasari oleh hadits yang shahih.

Bertayamum menggunakan dinding

Selain pada permukaan bumi secara langsung, seperti misalnya tanah, batu dan lain sebagainya, bertayamum juga dapat dilakukan dengan dinding. Hal ini sesuai dengan salah satu hadits sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa dia berkata; Saya datang bersama dengan ‘Abdullah bin Yasar bekas budak Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala kami bertemu dengan Abu Jahim bin Al-Harits bin Ash-Shamah Al-Anshari maka Abu Jahim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang dari arah sumur Jamal. Kemudian ada seorang lelaki yang menemuinya dan mengucapkan salam kepada beliau. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya hingga beliau menyentuh dinding (dengan tangannya, pen) kemudian membasuh wajah dan kedua telapak tangannya. Baru setelah itu beliau mau menjawab salamnya.” Muttafaq ‘alaih / Al Wajiz hal. 57
Dengan adanya hadits diatas menunjukkan bahwa menggunakan dinding sebagai media tayamum itu diperbolehkan. Demikian ulasan lengkap kami mengenai tayamum dan tata cara bertayamum. Semoga bermanfaat. (iwan)
sumber : ridwanaz.com

Wednesday, January 30, 2013

Hukum wanita menggunakan parfum di mata Islam


Hukum Wanita Mengenakan Parfum


Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum?
Jawaban :
Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul.
Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya.

[Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H]
***
Yang dimaksudkan hadits larangan tersebut adalah sebagai berikut:
Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,
تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات
Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107)
Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,
لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها
Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118)
Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.