Showing posts with label Boy's and Girl's. Show all posts
Showing posts with label Boy's and Girl's. Show all posts

Wednesday, February 13, 2013

Bagaimana puasa orang yang mimipi basah ?

Hukum mimpi basah saat berpuasa

hukum mimpi basah saat puasaSalah satu hal yang membatalkan puasa adalah berjima’ atau bersetubuh dengan pasangan di siang hari di bulan Ramadhan. Tindakan percumbuan dengan pasangan ini merupakan tindakan yang disengaja, dimana orang masih bisa menghindari jika memang ingin menghindarinya. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang mengeluarkan mani pada saat dia sedang berpuasa itu batal puasanya. Namun bagaimana dengan tidur di siang hari ketika sedang berpuasa kemudian mimpi basah dan mengeluarkan mani?

Apa itu mimpi basah?

Yang pertama, kita akan bahas dulu, apa itu mimpi basah. Mimpi basah adalah emisi nokturnal yang berupa pengeluaran air mani atau semen dari dalam tubuh ketika sedang tertidur dan hanya dialami oleh lelaki. Umumnya mimpi basah dialami oleh remaja pria sebagai tanda dirinya sudah memasuki masa dewasa. Mimpi basah bisa dibarengi dengan mimpi erotis, bisa juga tidak, bahkan ada juga yang tidak bermimpi sama sekali.
Mimpi basah adalah mekanisme yang alami dan pasti terjadi pada lelaki, setidaknya sekali dalam hidupnya. Jika terjadi pada lelaki dewasa, umumnya bagi mereka yang tidak beristri atau beristri namun sudah lama tidak berhubungan badan sehingga vesikula seminalis (kantong sperma) telah penuh oleh sperma yang dihasilkan oleh testis. Oleh karena kantung sperma tidak mampu menampung lagi, maka stok sperma lama harus dibuang. Mekanisme ini diatur oleh otak dengan dikeluarkan pada malam hari, saat seorang lelaki sedang tidur. Jadi mimpi basah itu diluar kendali kesadaran seseorang.

Seseorang yang tidak sadar, amalnya tidak dicatat

Yang kedua, dalam Islam, orang yang menuntaskan sesuatu dalam keadaan tidak sadar, tidak dicatat amalnya oleh malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya:
Pena catatan amal itu diangkat (tidak dicatat amalnya) untuk tiga orang, yakni orang gila sampai dia sadar, orang tidur sampai dia bangun dan anak kecil sampai dia balig” HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tarmudzi, Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh Al-Albani.
Hal ini dikarenakan orang yang gila dan tidur tidak tidak memiliki kesadaran otak dan jiwanya, tidak dapat mengendalikan apa yang menjadi tindakannya sehingga tidak bisa dihakimi. Sedangkan anak kecil tidak memiliki kemampuan membedakan baik atau buruk, sama halnya dengan orang yang tidak sadar. Apakah itu amalan yang baik atau amalan yang buruku, keduanya tidak dapat dicatat.

Lalu, bagaimana puasa orang yang mimpi basah?

Para ulama bersepakat bahwa puasa orang yang mimpi basah tetap sah, namun dia berkewajiban untuk menyegerakan mandi junub setelah terbangun dan merasakan mani keluar dari tubuhnya. Puasanya tidak batal dikarenakan dia tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Seseorang yang tidur tidak memiliki kontrol atas dirinya, oleh karena itu keluarnya mani tidak disengaja. Demikian adalah hukum mimpi basah saat berpuasa di bulan Ramadhan, semoga ini bisa menjadi pencerahan bagi anda. (iwan)
sumber : ridwanaz.com

Larangan Wanita Haid menurut Islam



Larangan bagi wanita haid

Haid adalah suatu hal yang normal bagi wanita. Keluarnya darah dari organ reproduksi sebagai suatu mekanisme alamiah yang terjadi reguler setiap bulan memang harus diketahui oleh siapapun, termasuk bagi pria karena nantinya pria akan menjadi pendamping wanita dan mungkin memiliki anak wanita. Kali ini kita akan membahas mengenailarangan beribadah bagi wanita yang sedang haid.

Larangan yang pertama adalah sholat

Para ulama sepakat bahwa sholat diharamkan shalat bagi wanita yang haid dan nifas. Sholat yang diharamkan adalah semua sholat, baik yang wajib maupun sunnah. Para ulama juga sepakat bahwa wanita yang haid tidak memiliki kewajiban untuk mengqodho’ atau mengganti sholatnya setelah masa haidnya selesai.
Dari Abu Sa’id, Rasulullah bersabda, yang artinya:“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita”HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79
Ada pula hadits yang lain dari Mu’adzah yang mana ia berkata bahwa ada seorang wanita yang bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah kami perlu mengqodho’ shalat kami ketika suci?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang Haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqodho’nya” atau ‘Aisyah berkata, “Kami pun tidak mengqodho’nya”. HR. Bukhari no. 321

Larangan bagi wanita haid kedua adalah puasa

Selain sholat, wanita juga tidak diperbolehkan puasa disaat dalam masa haid, baik puasa wajib atau sunnah. Namun berbeda dengan sholat, wanita yang haid diharuskan mengqodho’ puasanya setelah ia suci. Puasa yang dimaksud harus diqodho’ adalah puasa pada bulan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adzah, ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah ra., yang artinya:
Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?” Maka Aisyah menjawab, “Apakah kamu dari golongan Haruriyah? “ Aku menjawab, “Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.” Dia menjawab, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat”HR. Muslim no. 335
Oleh karena itu para ulama bersepakat bahwa wanita yang dalam keadaan haid dan nifas tidak diwajibkan berpuasa namun tetap diwajibkan untuk mengqodho’ puasanya saat telah suci (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 28/ 20-21).
Larangan ini tampaknya merendahkan wanita, namun sebenarnya adalah penghargaan kepada wanita. Meskipun Rasulullah mengatakan bahwa ini adalah kurangnya agama wanita, namun bukan berarti Allah merendahkan posisi wanita. Sudah terbukti secara ilmiah bahwa gerakan sholat dapat mempengaruhi rahim yang justru menyebabkan wanita kesakitan. Sedangkan puasa pada saat haid justru akan merugikan kesehatan wanita. Padahal tujuan puasa selain untuk Allah adalah dimaksudkan juga untuk menyehatkan manusia.

Larang wanita berjima’ atau bersetubuh saat haid

Jima’ adalah berhubungan intim pada kemaluan. Disebutkan oleh Imam Nawawi ra. dalam Al Majmu’ 2:359, beliau berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.” Sedangkan Ibnu Taimiyah ra. dalam Majmu’ Al Fatawa, 21: 624 juga berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya
Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid (mahidh).” QS. Al Baqarah: 222
Menurut Imam Nawawi dalam Al Majmu’ 2:343, kata Mahidh dalam ayat diatas bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan ada pula yang mengatakan itu adalah tempat keluarnya darah haid, yakni kemaluan. Sedangkan menurut ulama syafi’iyah, yang dimaksud mahidh adalah darah haid.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, yang artinya:
Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639
Dalam Al Majmu’ 2:359, Al Muhamili menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i ra. berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”
Hubungan kelamin yang diperbolehkan dengan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim no. 302 disebutkan perkataan Rasulullah, yang artinya, “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).”
Dalam riwayat yang lain, disebutkan oleh ‘Aisyah ra., yang artinya:
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293
Imam Nawawi menyebutkan bahwa judul bab dari hadits diatas adalah “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Ini artinya mencumbui wanita yang sedang haid selain di kemaluan dan tidak tidak termasuk di tempat yang dilarang Allah serta berlebihan adalah diperbolehkan. Namun dalam hadits ini juga disebutkan bahwa kemungkinan besar orang tidak akan bisa menahan hasrat, sehingga lebih baik jika tidak dilakukan sama sekali.

Larangan wanita haid: Thawaf mengelilingi ka’bah

Wanita haid tidak diperkenankan thawat keliling ka’bah. Hal ini sesuai dengan hadits, dimana Rasulullah bersabda ketika ‘Aisyah haid pada saat berhaji, yang artinya:
Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211
Dalam hadits ini menjelaskan bahwa wanita haid dilarang untuk thawaf di ka’bah namun tidak dilarang melakukan rukun haji yang lainnya.

Larangan wanita haid: menyentuh mushaf Al-Quran

Orang yang berhadats, baik hadats besar maupun kecil tidak diperbolehkan menyentuh mushaf, baik seluruh atau sebagian. Ini adalah pendapat ulama dari semua madzhab yang ada. Dalil yang mendukungnya adalah firman Allah Ta’ala, yang artinya:
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” QS. Al Waqi’ah: 79
Selain itu Rasulullah juga bersabda, yang artinya:
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” HR. Al Hakim
Lalu, bagaimana jika wanita haid ingin membaca Al-Quran? Para ulama semua madzhab sepakat bahwa wanita haid boleh membaca Al-Quran, karena tidak ada dalil yang mendukung larangan bagi orang berhadats baik besar maupun kecil dalam membaca Al-Quran. Namun dalam membaca tersebut, mereka tidak boleh menyentuhnya. Dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 10:209-210 dikatakan bahwa “diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al-Quran. Alasannya adalah tidak ada dalil yang melarang hal tersebut. Namun seharusnya dalam membaca Al-Quran tersebut tidak sampai menyentuh mushafnya. Jika memang mau menyentuh mushaf Quran, maka seharusnya menggunakan pembatas seperti kain yang suci atau semacamnya.”

Hal-hal yang dibolehkan bagi wanita haid dan nifas

Menurut kesepakatan para ulama, wanita yang sedang haid dan nifas, diperbolehkan melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Membaca Al Quran tanpa menyentuhnya.
  2. Melakukan dzikir
  3. Bersujud ketika mendengar ayat sajadah karena sujud tilawah tidak dipersyaratkan thoharoh menurut pendapat mayoritas ulama.
  4. Menghadiri sholat ‘ied.
  5. Masuk masjid karena dalam hal ini tidak ada dalil yang melarangnya dan harus ada hajat atau keperluan.
  6. Melayani suami selama tidak melakukan jima’
  7. Tidur bersama suami.
Demikian adalah larangan dan apa yang diperbolehkan bagi wanita ketika haid dan nifas. Semoga dapat dipahami dan menambah wacana ilmu pengetahuan anda.

sumber : ridwanaz.com

Friday, December 7, 2012

Aurat Laki-laki

aurat laki laki1 120x120 Aurat Laki lakiAurat laki-laki selayaknya dipahami dan diketahuh oleh seorang muslim mana batas-batas anggota tubuh yang boleh dilihatkan dan yang tidak boleh untuk dipertontonkan. Selama ini yang sering dibahas adalah aurat wanita tetapi kali ini kami akan membahas aurat laki-laki sebab hukum menutup aurat yang wajib ditutup bagi laki-laki dan perempuan adalah sama.

 

Pertanyaan Tentang Aurat Laki-laki

Auratseorang  laki-laki bila dihadapan laki-laki lain dan dihadapan perempuan muhrim dan bukan muhrim apakah sama ? Apakah seperti yang selama ini didengar dan diketahui banyak orang yaitu antara pusar dan lutut didepan muhrim dan tidak ada aurat kalau didepan laki-laki lain? Karena dimasjid-masjid banyak kamar mandi yang terbuka, tempat kencing yang terbuka, kadang juga kamar mandinya satu dan luas sehingga mampu mengisi puluhan orang yang sedang mandi, buang air kecil atau bahkan buang air besar secara bersama-sama dalam satu tempat itu sehingga  kelihatan ?

Jawaban Pertanyaan Tentang Aurat Laki-laki

Aurat bagi seoarang laki-laki dibagi menjadi tiga :
1. ketika shalat atau dihadapan laki-laki lain atau perempuan muhrimnya yaitu  antara pusar dan lutut.
2. dihadapan perempuan yang bukan muhrimnya yaitu : seluruh badannya.
3. ketika sendiri (tanpa kehadiran orang lain) yaitu kemaluannya.
Adapun masalah kamar mandi masjid yang terbuka atau tidak ada penyekat, itu karena kurang fahamnya pengurus masjid (takmir masjid) terhadap masalah aurat laki-laki.

sumber : http://adehumaidi.com