Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Wednesday, August 31, 2016

Langkah-Langkah Menulis Teks Cerita Sejarah

Penulisan teks cerita sejarah dilakukan agar generasi sebuah bangsa dapat melihat sejarah masa lampau yang dialami untuk menjadi koreksi dan perbaikan di masa yang akan datang. 
Contoh 1:
 Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
Pada tanggal 6 Agustus 1945 Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom sehingga Jepang menyerah kepada Amerika dan sekutu. Lima hari kemudian Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat bertemu dengan Marsekal Terauchi wakil dari Jepang. Pada hari itu didapatkan kepastian Indonesia dapat merdeka dalam beberapa hari. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945, sekitar 15 pemuda menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Para pemuda pejuang pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 menculik Soekarno, Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok. Soekarno, Hatta dan anggota PPKI lainnya malam itu juga rapat dan menyiapkan teks Proklamasi yang kemudian dibacakan pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945.

Paragraf di atas merupakan Orientasi.
Dari orientasi yang ada, langkah selanjutnya menggali informasi dengan mengidentifikasi masalah. Kita dapat mengindentifikasi dengan menjawab beberapa pertanyaan memakai yang berhubungan dengan teks misalnya:
  1. Peristiwa yang terjadi adalah Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
  2. Yang terlibat dalam peristiwa itu adalah Soekarno, Hatta, Radjiman Wedyodiningrat, Marsekal terauchi, dan anggota PPKI.
  3. Peristiwa detik-detik proklamasi diadakan pada Bulan Agustus.
  4. Peristiwa itu terjadi di Indonesia
  5. Peristiwa itu terjadi karena Indonesia ingin memproklamasikan kemerdekaannya
  6. Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 sekaligus diperingati sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Contoh 2:
Perhatikan paragraf di bawah ini !
Sunan Drajat, salah satu tokoh wali songo penyebar agama Islam di Pulau Jawa peninggalannya dilestarikan oleh Pemerintah Daerah Lamongan berupa Musium Sunan Drajat. Terletak disebelah timur Makam. Musium ini diresmikan pada tanggal 1 maret 1992. Pembangunannya mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Timur. Pada tahun 1992 mengadakan pemugaran Cungkup dan pembangunan Gapura Paduraksa. Pada tahun 1993 dilanjutkan dengan pemugaran Masjid Sunan Drajat. Sampai pada tahun 1994 membangun pagar kayu berukir, renovasi paseban, bale rante serta Cungkup Sitinggil. Tepat pada tanggal 14 Januari 1994 Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman meresmikan renovasi tersebut.

Paragraf di atas merupakan Orientasi
Dari orientasi yang ada, langkah selanjutnya menggali informasi dengan menulis kronologi peristiwa.
Sejarah Pembangunan “Museum Sunan Drajat” salah satu tokoh wali songo penyebar agama islam di Pulau Jawa. Pada tahun :
Tahap I 1992 : pemugaran cungkup dan pembangunan gapura paduraksa
Tahap II 1993 : pemugaran masjid Sunan Drajat
Tahap III 1994 : pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paseban, bale rante serta cungkup sitinggil. 

Langkah Terakhir, setelah kita menganalisis struktur teks cerita sejarah memakai analisis identifikasi atau analisis kronologi, kita dapat menulis ulang teks cerita sejarah dengan memakai bahasa kita sendiri sesuai analisis struktur paragraf yang sudah kita lakukan pada langkah sebelumnya. Tahapan ini dinamakan reorientasi.

Point-Pont Penting
  1. Teks cerita sejarah merupakan sebuah wacana yang berisi sejarah/ asal-usul sebuah kejadian yang dianggap penting dan membawa perubahan besar dalam sebuah perkembangan masyarakat di dunia.
  2. Langkah-langkah menulis teks cerita sejarah dapat dilakukan dengan : 

             a. Orientasi : Mengenalkan teks peristiwa sejarah 
             b. Menganalisis urutan peristiwa : dapat dilakukan dengan 
                 • Mengidentifikasi masalah (Urutan peristiwa identifikasi) 
                 • Menulis kronologi kejadian dengan tahapan-tahapan (Urutan peristiwa kronologi) 
             c. Reorientasi : menulis ulang teks cerita sejarah dengan memakai bahasa kita sendiri sesuai 
                 analisis struktur paragraf yang sudah kita lakukan pada langkah sebelumnya. 

Menulis Teks Cerita Sejarah

Kali ini kita akan mempelajari cara menulis teks cerita sejarah. Seperti kita ketahui teks cerita sejarah bersumber dari media tulis dan nontulis. Media tulis dapat berupa teks wacana sedangkan media nontulis dapat berupa prasasti, monumen, candi, foto, video, dsbnya.
Perhatikan gambar di bawah ini!

Cobalah amati kelas kalian ketika belajar di sekolah. Pastinya kalian akan mendapati gambar Burung Garuda terpasang rapi diapit oleh gambar presiden dan wakil presiden.

Gambar Pancasila di atas bila kita susun menjadi teks cerita sejarah akan memiliki banyak judul cerita. Contohnya “Sejarah Lahirnya Pancasila”, “Sejarah Semboyan Bangsa Indonesia ‘Bhineka Tunggal Ika’ ”, dan sebagainya. Lantas bagaimanakah cara menulis teks cerita sejarah yang tepat? 

Marilah kita cermati contoh-contoh di bawah ini!
Contoh 1:
Sejarah Lahirnya Pancasila
Sejarah lahirnya pancasila sebagai dasar negara Indonesia didasari oleh pernyataan UUD 1945 alenia ke-4. :…”maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Sebagai dasar negara Indonesia, tidak hanya sekali dua kali pancasila hampir diruntuhkan dari bumi pertiwi. Peristiwa yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 30 September 1965. Tewasnya tujuh pahlawan revolusi menjadi sejarah abadi Bangsa Indonesia bahwa Pancasila memang tidak mudah untuk digulingkan. Dengan darah ribuan rakyat Indonesia Pancasila mampu menunjukkan kesaktiannya. Kini setiap tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari Kesaktian Pancasila.

Teks cerita sejarah di atas dapat ditulis ulang dengan cara mencari tema paragraf ke II. Mengapa paragraf kedua? Karena pada paragraf kedua berisi analisis teks.
Paragraf I : Orientasi (Pengenalan)
Paragraf II : Analisis dengan cara:
      a. Urutan Peristiwa Identifikasi
      b. Urutan Peristiwa Kronologi
Reorientasi (Menulis ulang memakai bahasa sendiri)
Hari lahir dan kesaktian Pancasila sebagai dasar negara diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Contoh 2:
Perhatikan paragraf di bawah ini !
Tokoh Nasionalisme Indonesia yang paling berjasa salah satunya adalah Gajah Mada. Gajah Mada seorang Panglima perang yang mengantarkan Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan pada 1313. Dengan Sumpah Palapanya, Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara Indonesia. Jasanya yang paling besar bagi Kerajaan Majapahit ialah memberantas Pemberontakan Ra Kuti dan menyelamatkan Prabu Jayanegara. 

Teks cerita sejarah dapat ditulis memakai frasa nomina dan verba.
  • Frasa Nomina ialah kalimat yang memakai susunan kata benda.
  • Tokoh Nasionalisme Indonesia yang paling berjasa salah satunya adalah Gajah Mada. 
  • Frasa Verba ialah kalimat yang memakai susunan kata kerja.
  • Gajah Mada seorang Panglima perang yang mengantarkan Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan pada 1313. Dengan Sumpah Palapanya, Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara Indonesia.
  • Jasanya yang paling besar bagi Kerajaan Majapahit ialah memberantas pemberontakan Ra Kuti dan menyelamatkan Prabu Jayanegara. 

Point-Point Penting
  1. Teks cerita sejarah dapat ditulis ulang sesuai langkah-langkah penulisan teks cerita sejarah yaitu orientasi (pengenalan), analisis (urutan peristiwa identifikasi atau kronologi), dan reorientasi (menulis ulang).
  2. Teks cerita ulang dapat ditulis dengan memakai frase nomina (kata benda) dan frase verba (kata kerja)

Membandingkan Dua Teks Cerita Sejarah

Saat menonton televisi, acara apa yang lebih kamu sukai: berita atau film?
Kemukakan alasanmu dengan menunjukkan kekurangan dan kelebihan dari setiap acara tersebut.
Jika kamu dapat mengajukan alasannya secara jelas dan argumentatif, kamu telah membandingkan dua hal yang berbeda, yaitu berita dan film. Kegiatan membandingkan seperti itu tidak hanya dilakukan untuk menilai sesuatu secara asal-asalan. Kamu dapat melatih daya kritis untuk melihat persamaan dan perbedaan di antara kedua hal yang sedang kamu bandingkan.
Begitu pula saat membaca suatu teks. Kemampuan membandingkan dua buah teks harus dimiliki untuk melatih kemampuan analisis berdasarkan argumentasi yang kuat. Pada mater ini, kamu akan mempelajari langkah-langkah membandingkan dua buah teks cerita sejarah. Simak pembahasan berikut ini!

Membandingkan Dua Teks Cerita Sejarah
Membandingkan dua teks cerita sejarah berarti mencari persamaan dan perbedaan di antara dua teks cerita sejarah berdasarkan parameter tertentu. Parameter adalah patokan atau tolok ukur perbandingan. Saat membandingkan dua teks cerita sejarah, parameter yang digunakan adalah struktur teks cerita sejarah, gaya bahasa yang digunakan, dan isi teks cerita sejarah. Tujuan membandingkan dua teks cerita sejarah adalah untuk menilai persamaan dan perbedaan kedua teks sehingga melatih daya kritis saat membaca dan menganalisis dua teks cerita sejarah.

Pertama, dilihat dari strukturnya, teks cerita sejarah umumnya memiliki struktur sebagai berikut:
1. Judul,yaitu kata atau frasa kunci yang mewakili keseluruhan isi teks cerita,
2. Orientasi, yaitu paragraf pembukaan yang mengantarkan pada isi,
3. Rangkaian peristiwa, yaitu paragraf yang berisi rekaman sejarah;
4. Reorientasi, yaitu paragraf yang menutup teks cerita.

Kedua, berdasarkan gaya bahasanya, aspek-aspek yang dapat dibandingkan adalah penggunaan kata, istilah, dan ungkapan di dalam kedua teks. Kita dapat melihat, apakah kata, istilah, dan ungkapan yang digunakan dalam kedua teks merupakan istilah khusus sejarah yang maknanya dapat dimengerti dengan mudah atau tidak. Pemahaman terhadap makna kata, istilah, dan ungkapan dalam teks cerita sejarah bergantung pada banyaknya membaca, termasuk membuka kamus.

Ketiga, parameter terakhir yaitu isi teks cerita sejarah. Membandingkan dua teks sejarah dapat dilihat berdasarkan isi teks tersebut. Hal yang perlu dilakukan adalah menginterpretasi isi kedua teks sejarah dengan saksama agar diperoleh persamaan dan perbedaan isi di antara kedua teks yang dibandingkan.

Secara sederhana, ketiga parameter tersebut dapat dilihat pada langkah-langkah membandingkan dua teks cerita sejarah berikut.
  1. Membaca kedua teks cerita sejarah yang akan dibandingkan secara saksama;
  2. Menandai dan mencatat kata, istilah, dan ungkapan yang tidak dimengerti pada kedua teks tersebut;
  3. Mencari makna kata, istilah, dan ungkapan yang tidak dimengerti dari kedua teks dengan menggunakan kamus;
  4. Membuat parameter perbandingan yang terdiri atas struktur isi teks, gaya bahasa, dan isi teks;
  5. Menganalisis persamaan dan perbedaan dari kedua teks cerita sejarah berdasarkan parameter yang telah dibuat;
  6. Membuat simpulan berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut.

Bacalah dua teks cerita sejarah berikut ini!
Teks 1
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Lembah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, ini berdiri pada abad ke-5 Masehi. Nama Kutai sendiri diambil dari nama daerah tempat ditemukannya prasasti Kutai. Prasasti tersebut berupa tujuh yupa yang berisi tulisan mengenai sejarah kerajaan Hindu pertama tersebut. Tulisan pada yupa merupakan pahatan yang menggunakan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa.
Prasasti Kutai berisi silsilah raja-raja Kutai. Raja terkuat Kutai adalah Mulawarman yang diyakini merupakan orang Indonesia asli. Hal tersebut dibuktikan dengan nama kakeknya yang menggunakan nama Indonesia pula, yaitu Kudungga. Namun, Kudungga belum menganut Hindu. Ajaran Hindu baru dikenal saat kerajaan tersebut dikuasai oleh Aswawarman. Aswawarman juga dianggap sebagai wamsakarta atau pendiri keluarga raja.
Ajaran Hindu masuk ke kerajaan Kutai sebagai pengaruh dari India. Pada masa Aswawarman dikenal upacara Vratyastoma yang dilakukan saat seseorang masuk ajaran agama Hindu. Setelah melakukan upacara Vratyastoma, orang tersebut kemudian memiliki kasta sebagai penanda status sosialnya. Upacara tersebut juga menunjukkan pengaruh brahmana di Kutai yang masih kuat. Para brahmana juga banyak dipengaruhi oleh agama Siwa sehingga terdapat beberapa persamaan pada upacara yang dilakukannya.

Teks 2
Agama Islam merupakan agama terbesar pertama di Indonesia. Proses masuknya Islam ke Indonesia mengalami perjalanan yang panjang. Terlebih pada mulanya, Indonesia didominasi oleh kekuatan kerajaaan-kerajaan Hindu Buddha yang sangat besar. Lahirnya kekuatan Islam tidak terlepas lahirnya Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di ujung barat Kepulauan Nusantara.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Aceh ini didirikan pada tahun 1267 M oleh Meurah Silu. Keberadaan Kerajaan Samudera Pasai dapat dibuktikan dengan penemuan-penemuan arkeologis berupa makam raja-raja Pasai dan reruntuhan bangunan pusat kerajaan di Kecamatan Samudera, Lhokseumawe.
Raja pertama Kerajaan Samudera Pasai adalah Malik as-Saleh. Malik as-Saleh adalah nama Meurah Silu setelah masuk agama Islam. Malik as-Saleh merupakan sultan atau raja Islam pertama dalam sejarah Indonesia. Ia memimpin Kerajaan Samudera Pasai selama 29 tahun, yaitu antara tahun 1297 hingga 1326 M. Setelah itu, kepemimpinan digantikan oleh Sultan Muhammad Malikul Zahir, Sultan Ahmad Laidkudzahi, dan seterusnya.

Mari kita bandingkan.
Berdasarkan strukturnya, perbandingan kedua teks di atas adalah:
  1. Persamaan: teks di atas terdiri atas tiga paragraf, sama-sama tidak memiliki paragraf penutup, dan pada bagian pemaparan dijelaskan asal-muasalan kerajaan dengan bukti arkeologisnya.
  2. Perbedaan: teks 1 tanpa pendahuluan sedangkan teks 2 dengan pendahuluan terlebih dahulu.

Berdasarkan gaya bahasanya, teks 1 lebih banyak menggunakan istilah sejarah daripada teks 2, seperti prasasti, yupa, dan wamsakarta. Adapun teks 2 menggunakan bahasa yang mudah dimengerti tanpa adanya istilah sejarah yang perlu dicari terlebih dahulu maknanya,

Berdasarkan isinya, kedua teks cerita sejatah di atas sama-sama menjelaskan sejarah kerajaan di Indonesia disertai dengan bukti keberadaannya. Di dalam kedua teks juga dijelaskan corak agama dan raja-raja yang memimpinnya. Namun, perbedaannya adalah teks 1 menjelaskan kerajaan Hindu, sedangkan teks 2 menjelaskan kerajaan Islam. Selain itu, teks 2 tidak menjelaskan sejarah masuknya agama ke kerajaan seperti tertulis pada teks 1.

Poin-Poin Penting
  1. Teks cerita sejarah adalah teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan;
  2. Membandingkan dua teks cerita sejarah berarti mencari persamaan dan perbedaan di antara dua teks cerita sejarah berdasarkan struktur teks, gaya bahasa, dan isi teks tersebut.

Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah

Sebagai suatu teks, teks cerita sejarah memiliki ciri kebahasaan tersendiri. Ciri kebahasaan tersebut antara lain tecermin dalam beberapa hal berikut.
1. Frasa Nomina dan Verba
   Frasa di antaranya terdiri atas frasa nomina dan verba. Sesuai namanya, frasa nomina merupakan kelas kata nomina yang diperluas, seperti: gadis cantik, rumah megah, ruang tidur, kantor berita, dan lain-lain. Berdasarkan fungsinya, frasa nomina terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
  1. Frasa nomina modifikatif, yaitu gabungan kata yang bersifat membatasi atau menerangkan unsur utamanya. Misalnya: rumah mewah (rumah yang mewah, bukan rumah yang kecil), ketua kelompok, dan uang receh. 
  2. Frasa nomina koordinatif, yaitu gabungan kata yang memiliki kedudukan setara dan tidak saling menerangkan. Salah satu cirinya, gabungan kata tersebut dapat dihubungkan dengan konjungsi dan/atau. Misalnya: sandang (dan) pangan, hak kewajiban, dan lahir batin.
  3. Frasa nomina apositif, yaitu gabungan kata yang berfungsi sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan pada kata atau frasa tertentu. Misalnya: Arman, teman adikku, datang ke rumah tadi pagi. Frasa teman adikku menerangkan kata Arman.

Sama halnya dengan frasa nomina, frasa verba juga terbagi menjadi tiga jenis berikut.
  1. Frasa verba modifikatif, seperti: Ibu bekerja keras untuk membahagiakan anaknya.
  2. Frasa verba koordinatif, seperti: Premanisme merusak dan menghancurkan nilai-nilai luhur Pancasila.
  3. Frasa verva apositif, seperti: Bisnis yang dijalankannya, berdagang pakaian secara daring, semakin sukses saat ini.

2. Konjungsi Temporal
    Dalam teks cerita sejarah biasanya digunakan konjungsi temporal. Konjungsi temporal adalah kata penghubung yang menyatakan urutan tindakan atau waktu yang biasanya ada dalam teks cerita sejarah. Konjungsi temporal terdiri atas dua bagian, yaitu konjungsi temporal sederajat dan konjungsi temporal tidak sederajat.
Konjungsi temporal sederajat yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur dalam kalimat yang sederajat atau setara. Konjungsi ini biasanya digunakan dalam kalimat majemuk setara. Konjungsi temporal sederajat di antaranya adalah lalu, kemudian, selanjutnya, dan sebelumnya. Misalnya: Jepang menyerah kepada sekutu, kemudian meninggalkan koloninya satu per satu.
Adapun konjungsi temporal tidak sederajat yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur dalam kalimat yang tidak sederajat atau setara. Konjungsi ini biasanya digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat. Konjungsi temporal tidak sederajat di antaranya adalah apabila, jika, bilamana, hingga, ketika, saat, sambil, sebelum, sampai, sejak, selama, sementara, seraya, dan tatkala. Misalnya: Perang dingin terjadi setelah perang dunia II berakhir.

3.  Nominalisasi
  Nominalisasi adalah pembentukan nomina dari kelas kata lain dengan menggunakan afiks (imbuhan) tertentu. Pembentukan nomina tersebut dapat berasal dari kelas kata verba, adjektiva, atau nomina lainnya. Teks cerita sejarah merupakan jenis teks penceritaan ulang (rekon/recount). Dalam teks penceritaan ulang seringkali ditemukan nomina yang merupakan hasil nominalisasi. Pemberian imbuhan terhadap kata yang mengalami nominalisasi disebut dengan afiksasi. Afiksasi yang sering terjadi dalam nominalisasi antara lain sebagai berikut:
a. Sufiks –an, -at, -si, -ika, -in, -ir, -tur, -ris, -us, -isme, -is, -isasi, -isida, -ita, -or, dan –tas.
    Contoh: bacaan (baca+an), manisan (manis+an), sosialisasi (sosial+isasi), dan kritikus (kritik+us).
b. Prefiks ke-, pe-, dan se-.
    Contoh: ketua (ke+tua), pedagang (pe+dagang), dan sekelas (se+kelas).
c. Konfiks ke-an, pe-an, dan per-an.
    Contoh: pengaturan (pe+atur+an), pertunjukan (per+atur+an), dan kekayaan (ke+kaya+an).
d. Infiks –el- dan –er-.
    Contoh: gelembung (gembung+el), telunjuk (tunjuk+el), dan jemari (jari+em).
e. Kombinasi afiks pemer-, keber-an, kese-an, keter-an, pember-an, pemer-an, penye-an, perse-an,
    Contoh: keberhasilan (keber+hasil+an), keterlibatan (keter+libat+an)

Mari kita analisis
Setelah membaca teks cerita sejarah di atas secara saksama, kita dapat menganalisis ciri kebahasaan teks tersebut melalui tiga hal berikut.
Pertama, Penggunaan frasa nomina dan verba
Dalam teks cerita sejarah di atas, ditemukan beberapa frasa nomina berikut.
Frasa nomina modifikatif, seperti: hari bahasa ibu dan kemerdekaan Pakistan.
Frasa nomina koordinatif, seperti: kedua wilayah juga memiliki kondisi sosial budaya yang berbeda.
Frasa nomina apositif, seperti: .... dideklarasikan dalam konferensi pendidikan di Karachi, ibukota Pakistan.
Selain itu, terdapat juga beberapa frasa verba berikut.
Frasa verba modifikatif, seperti: Masyarakat Pakistan Timur akhirnya dapat menggunakan bahasa Bengali.
Frasa verba koordinatif, seperti: .... masyarakat Pakistan Timur mulai melakukan dan menggencarkan aksi protes ....

Kedua, Konjungsi temporal
Dalam teks cerita sejarah di atas juga digunakan beberapa konjungsi temporal seperti pada contoh berikut. 
  • Pertikaian antara Pakistan Barat dan Pakistan Timur memburuk saat pemerintah menyatakan akan mengadopsi bahasa Urdu sebagai bahasa resmi negara (tidak sederajat).
  • Setelah deklarasi tersebut, masyarakat Pakistan Timur mulai melakukan dan menggencarkan aksi protes pada tahun 1947 (tidak sederajat).

Ketiga, Nominalisasi
Nominalisasi yang terdapat dalam teks cerita sejarah di atas antara lain sebagai berikut.
- kemerdekaan, yaitu ke- + merdeka + -an, dibentuk dari konfiks dan adjektiva.
- peringatan, yaitu pe-(N) + ingat + -an, dibentuk dari konfiks dan verba.
- Pemerintah, yaitu pe-(N) + perintah, dibentuk dari prefiks dan verba.

Analisis Isi Teks Cerita Sejarah

Pada topik kali ini kita bersama-sama akan mempelajari bagaimana menganalisis isi cerita teks cerita sejarah baik lisan maupun tulisan. Menganalisis artinya menguraikan atau memaparkan, sedangkan isi artinya bagian penting dari sebuah pembicaraan. Jadi menganalisis isi artinya menguraikan bagian penting dari sebuah pembicaraan dalam hal ini teks cerita sejarah.

Batu tulis atau prasasti memiliki beberapa informasi penting. Bisa jadi dari tulisannya memberitakan sebuah kejadian. Dari jenis batunya dapat menginformasikan tahun terjadinya suatu peristiwa, dan sebagainya itulah yang dinamakan menganalisis isi.
Apabila sebuah teks cerita sejarah yang kita analisis, maka kita dapat mengetahui jenis kalimat, informasi yang terdapat dalam teks, dan proses afiksasi kata-kata dalam teks tersebut.

Contoh 1:
Sejarah Lahirnya Lagu Indonesia Raya
Indonesia tanah airku.
Tanah tumpah darahku.
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibumu. ... itulah cuplikan sekilas lagu ‘Indonesia Raya’. Lagu ini selalu dinyanyikan pada setiap upacara dan pertemuan penting di negara kita.

Lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Syairnya yang berbunyi tanah tumpah darahku menyiratkan makna nasionalisme para pemuda Indonesia, sedangkan syairnya ‘merdeka’ dulu dinyanyikan dengan kata ‘mulia’. Syair tersebut diubah karena Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. Lagu yang diciptakan W.R Supratman ini kini menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Teks cerita sejarah di atas terdiri dari empat kalimat.
  1. Lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan pada Konggres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. 
  2. Syairnya yang berbunyi tanah tumpah darahku menyiratkan makna nasionalisme para pemuda Indonesia, sedangkan syairnya ‘merdeka’ dulu dinyanyikan dengan kata ‘mulia’. 
  3. Syair tersebut diubah karena Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. 
  4. Lagu yang diciptakan W.R Supratman ini kini menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Poin-Poin Penting
  1. Teks cerita sejarah dapat didapatkan secara tulis maupun nontulis.
  2. Teks cerita sejarah dapat dianalisis dari segi pembentukan kata (proses afiksasi), menganalisis kata depan, menganalisis struktur kalimat, menganalisis EYD, dsbnya. 

Makna Kata, Istilah, dan Ungkapan dalam Teks Cerita Sejarah

Pada materi ini, kita akan mempelajari istilah-istilah yang biasa terdapat dalam suatu teks cerita sejarah. Apa itu teks cerita sejarah? Bagaimana langkah-langkah memahami kata, istilah, dan ungkapan dalam teks cerita sejarah? Simak pembahasan materi berikut ini.

Makna Kata, Istilah, dan Ungkapan dalam Teks Cerita Sejarah
Teks cerita sejarah adalah teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan. Teks tersebut berisi latar belakang atau asal-muasal terjadinya suatu peristiwa penting yang terjadi di masa silam. Peristiwa tersebut disebut memiliki nilai kesejarahan karena mengandung pelajaran dan pendidikan bagi orang-orang di masa kini dan masa mendatang.

Sebuah teks cerita sejarah umumnya memiliki struktur sebagai berikut:
1. Judul, yaitu kata atau frasa kunci yang mewakili keseluruhan isi teks cerita,
2. Orientasi, yaitu paragraf pembukaan yang mengantarkan pada isi,
3. Rangkaian peristiwa, yaitu paragraf yang berisi rekaman peristiwa sejarah,
4. Reoerientasi, yaitu paragraf yang menutup teks cerita.

Di dalam teks cerita sejarah banyak ditemukan beragam istilah yang berhubungan dengan sejarah. Istilah adalah kata atau gabungan kata yang mengungkapkan suatu gagasan atau konsep dalam bidang keilmuan tertentu. Maka, istilah sejarah adalah semua kata atau ungkapan yang menunjukkan gagasan atau konsep yang berhubungan dengan ilmu sejarah.

Beberapa kamus yang dapat digunakan untuk mencari makna istilah sejarah adalah sebagai berikut:
  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka. KBBI merupakan kamus rujukan terlengkap untuk mencari arti kata dalam bahasa Indonesia, termasuk istilah bidang ilmu tertentu. KBBI tersedia dalam versi cetak atau dalam jaringan (daring);
  2. Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI),
  3. Kamus Istilah Sejarah, yaitu kamus yang secara khusus memuat arti dari istilah-istilah ilmu sejarah.

Dengan demikian, langkah-langkah untuk memahami makna kata, istilah, dan ungkapan dalam teks sejarah adalah sebagai berikut:
  1. Membaca teks cerita sejarah secara saksama;
  2. Menandai kata-kata atau ungkapan tertentu yang tidak dipahami, terutama ungkapan yang merupakan istilah sejarah;
  3. Mencari makna kata-kata dan ungkapan tersebut dalam kamus kemudian mencatatnya.

Perhatikan teks cerita sejarah berikut ini!
    Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Lembah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, ini berdiri pada abad ke-5 Masehi. Nama Kutai sendiri diambil dari nama daerah tempat ditemukannya prasasti Kutai. Prasasti tersebut berupa tujuh yupa yang berisi tulisan mengenai sejarah kerajaan Hindu pertama tersebut. Tulisan pada yupa merupakan pahatan yang menggunakan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa.
      Prasasti Kutai berisi silsilah raja-raja Kutai. Raja terkuat Kutai adalah Mulawarman yang diyakini merupakan orang Indonesia asli. Hal tersebut dibuktikan dengan nama kakeknya yang menggunakan nama Indonesia pula, yaitu Kudungga. Namun, Kudungga belum menganut Hindu. Ajaran Hindu baru dikenal saat kerajaan tersebut dikuasai oleh Aswawarman. Aswawarman juga dianggap sebagai wamsakarta atau pendiri keluarga raja.
     Ajaran Hindu masuk ke kerajaan Kutai sebagai pengaruh dari India. Pada masa Aswawarman dikenal upacara Vratyastoma yang dilakukan saat seseorang masuk ajaran agama Hindu. Setelah melakukan upacara Vratyastoma, orang tersebut kemudian memiliki kasta sebagai penanda status sosialnya. Upacara tersebut juga menunjukkan pengaruh brahmana di Kutai yang masih kuat. Para brahmana juga banyak dipengaruhi oleh agama Siwa sehingga terdapat beberapa persamaan pada upacara yang dilakukannya.

Mari kita ulas makna, istilah, dan ungkapan yang ada dalam teks.
Pada teks di atas, kita menemukan beberapa kata yang merupakan istilah sejarah. Untuk dapat mengetahui makna kata tersebut, kita dapat melihatnya di kamus. Berikut makna istilah-istilah tersebut.
  • Prasasti : piagam yang ditulis pada batu atau tembaga dan sebagainya; 
  • Yupa : prasasti yang dipahatkan pada tiang atau tugu batu;
  • Hindu : ajaran agama yang berkitab suci Weda;
  • Wamsakarta : pendiri keluarga raja pada masa kerajaan Hindu-Budha;
  • Vratyastoma : upacara pemberian kasta yang dilakukan saat seseorang baru memasuki agama Hindu;
  • Kasta : golongan, tingkat, atau derajat manusia dalam masyarakat beragama Hindu;
  • Brahmana : salah satu golongan dalam kasta yang terdiri atas pendeta;
  • Siwa : salah satu sekte dalam agama Hindu yang menganut Dewa Siwa (salah satu dewa Trimurti atau tiga dewa yang dianggap sebagai satu kesatuan dalam agama Hindu).

Poin-Poin Penting
  1. Teks cerita sejarah adalah teks teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan.
  2. Istilah sejarah adalah semua kata atau ungkapan yang menunjukkan gagasan atau konsep yang berhubungan dengan ilmu sejarah.
  3. Makna kata, istilah, dan ungkapan dalam teks cerita sejarah dapat diketahui dengan melihat kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), atau Kamus Istilah Sejarah.


Interpretasi Isi Teks Cerita Sejarah

Perhatikan gambar berikut ini!

      
Siapakah sosok dalam gambar tersebut?
Setiap orang tentu kenal dengan sosok pahlawan nasional Republik Indonesia tersebut. Dia adalah Pangeran Diponegoro yang dikenal sebagai pemimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro pada tahun 1825 hingga 1830. Peristiwa perang tersebut termasuk kisah hidupnya ditulis dalam sebuah naskah berjudul Babad Diponegoro. Naskah tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga di dunia setelah diakui sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of The World). Melalui naskah kuno tersebut, kita dapat mengetahui kehidupan Diponegoro serta sejarah Jawa pada umumnya. Hal ini tidak terlepas dari upaya para peneliti (sejarawan dan filolog) yang berhasil mengantarkan isi naskah tersebut kepada seluruh masyarakat, termasuk kita saat ini.
Di antara kegiatan yang dilakukan para peneliti tersebut adalah menafsirkan isi naskah sebagai sumber sejarah. Kegiatan tersebut sejatinya tidak hanya dapat dilakukan para peneliti. Kita pun dapat melakukan hal serupa dengan melakukan penafsiran terhadap teks-teks cerita sejarah yang biasa kita baca. Penasfiran itu disebut juga dengan interpretasi.
Pada materi ini, kamu akan mempelajari langkah-langkah menginterpretasi isi teks cerita sejarah. 

Silakan dibaca dengan saksama!
Teks cerita sejarah adalah teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan. Teks tersebut berisi latar belakang atau asal-muasal terjadinya suatu peristiwa penting yang terjadi di masa silam. Peristiwa tersebut disebut memiliki nilai kesejarahan karena mengandung pelajaran dan pendidikan bagi orang-orang di masa kini dan masa mendatang.
Sebuah teks cerita sejarah umumnya memiliki struktur sebagai berikut:
1. Judul,yaitu kata atau frasa kunci yang mewakili keseluruhan isi teks cerita,
2. Orientasi, yaitu paragraf pembukaan yang mengantarkan kepada isi,
3. Rangkaian peristiwa, yaitu paragraf yang berisi cerita sejarah,
4. Reorientasi, yaitu paragraf yang menutup teks cerita.

Sebagaimana disebutkan di atas, teks cerita sejarah mengandung pelajaran atau pendidikan bagi orang di masa kini dan masa mendatang. Maka, kita perlu memahami isi suatu teks cerita sejarah dengan baik untuk mendapatkan pelajaran dan pendidikan tersebut. Memahami suatu teks cerita sejarah dapat dilakukan dengan melakukan interpretasi isi teks cerita sejarah.
Interpretasi adalah penafsiran, penilaian, atau pemaknaan terhadap suatu teks. Interpretasi isi teks cerita sejarah berarti menafsirkan, menilai, atau memaknai isi teks cerita sejarah yang telah dibaca. Dengan menginterpretasi isi teks sejarah, maka akan diketahui fakta-fakta yang terjadi di masa lalu untuk dijadikan pelajaran atau pendidikan di masa kini dan masa mendatang.
Menginterpretasi isi teks cerita sejarah dapat dilakukan dengan memperhatikan langkah-langkah berikut ini.
1. Membaca teks secara teliti;
2. Mencatat istilah-istilah yang tidak diketahui dan mencari maknanya;
3. Menandai topik utama dari setiap paragraf;
4. Menandai poin-poin penting dari setiap paragraf;
5. Menafsirkan isi poin-poin penting tersebut;
6. Menulis ulang poin penting tersebut sebagai interpretasi terhadap isi teks.

Perhatikan teks cerita sejarah berikut ini!

    Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Lembah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, ini berdiri pada abad ke-5 Masehi. Nama Kutai sendiri diambil dari nama daerah tempat ditemukannya prasasti Kutai. Prasasti tersebut berupa tujuh yupa yang berisi tulisan mengenai sejarah kerajaan Hindu pertama tersebut. Tulisan pada yupa merupakan pahatan yang menggunakan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa.
      Prasasti Kutai berisi silsilah raja-raja Kutai. Raja terkuat Kutai adalah Mulawarman yang diyakini merupakan orang Indonesia asli. Hal tersebut dibuktikan dengan nama kakeknya yang menggunakan nama Indonesia pula, yaitu Kudungga. Namun, Kudungga belum menganut Hindu. Ajaran Hindu baru dikenal saat kerajaan tersebut dikuasai oleh Aswawarman. Aswawarman juga dianggap sebagai wamsakarta atau pendiri keluarga raja.
      Ajaran Hindu masuk ke kerajaan Kutai sebagai pengaruh dari India. Pada masa Aswawarman dikenal upacara Vratyastoma yang dilakukan saat seseorang masuk ajaran agama Hindu. Setelah melakukan upacara Vratyastoma, orang tersebut kemudian memiliki kasta sebagai penanda status sosialnya. Upacara tersebut juga menunjukkan pengaruh brahmana di Kutai yang masih kuat. Para brahmana juga banyak dipengaruhi oleh agama Siwa sehingga terdapat beberapa persamaan pada upacara yang dilakukannya.

Mari interpretasikan.
Setelah membaca teks cerita sejarah di atas, interpretasi yang dapat dilakukan terhadap isi teks tersebut adalah sebagai berikut.
1. Topik utama paragraf pertama adalah Kerajaan Kutai sebagai kerajaan pertama di Indonesia. Poin        penting dari paragraf tersebut adalah:
      a. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama di Indonesia;
      b. Kerajaan Kutai bercorak agama Hindu;
      c. Keberadaan kerajaan Kutai diketahui melalui prasasti yupa;
      d. Prasasti yupa menggunakan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa.

2. Topik utama paragraf kedua adalah prasasti yupa yang berisi silsilah raja-raja Kutai. Poin penting       dari paragraf tersebut adalah:
     a. Raja Kutai yang terkuat adalah Raja Mulawarman
     b. Agama Hindu pertama kali diterima Kerajaan Kutai pada saat dipimpin Raja Aswawarman;
3. Topik utama paragraf ketiga adalah agama Hindu yang diterima Kerajaan Kutai berasal dari India.       Poin penting dari paragraf tersebut adalah:
     a. Salah satu kegiatan yang menunjukkan Kutai sebagai kerajaan Hindu adalah adanya upacara               vratyastoma, yaitu upacara pemberian kasta yang dilakukan saat seseorang masuk agama Hindu;
     b. Para Brahmana di kerajaan Kutai banyak dipengaruhi oleh agama Siwa.

Poin-Poin Penting
  1. Teks cerita sejarah adalah teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan;
  2. Teks cerita sejarah dapat berupa fiksi seperti novel sejarah atau nonfiksi seperti artikel, buku, catatan ilmiah, atau biografi tokoh;
  3. Menginterpretasi teks cerita sejarah berarti menafsirkan, menilai, atau memaknai isi teks cerita sejarah sehingga mengetahui fakta-fakta sejarah untuk dijadikan pelajaran atau pendidikan di masa kini dan masa mendatang.

Struktur Isi Teks Cerita Sejarah

Apakah kalian sering membaca teks cerita sejarah? Apa tujuan kita mempelajari teks cerita sejarah? Teks cerita sejarah apa saja yang sering kalian baca? Lalu bagaimana struktur teks cerita sejarah?
Sering kali kita mendengar cerita sejarah dari nenek moyang kita terdahulu bukan? sejarah tetang masa-masa penjajahan Belanda-Jepang, sejarah masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam bahkan sampai sejarah tentang kemerdekaan Indonesia. 
      Nah, sejarah itu apa sih? Sejarah adalah cerita yang terjadi di masa lampau yang bisa dijadikan pelajaran dan dikenang di masa sekarang. Sejarah ada untuk dipelajari agar dapat dipetik hikmahnya. Mempelajari teks cerita sejarah sangat penting apalagi dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Saat ini, hal yang dipelajari bukan sekadar pengetahuan bahasa saja, melainkan sebagai teks yang bertujuan untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya dalam konteks kehidupan akademis, sosial, dan budaya. 
Sekarang, mari kita mengenal struktur teks cerita sejarah. Struktur teks sejarah diantaranya sebagai berikut.
Struktur alur dalam teks cerita sejarah:
  • Orientasi (pengenalan)
  • Rangkaian Peristiwa
  • Reorientasi (Pengulangan)

Teks cerita sejarah diawali dengan pengenalan cerita yang terjadi di masa lampau kemudian diceritakan urutan peristiwa yang terjadi secara berurutan. 

Perhatikan contoh teks cerita sejarah berikut ini

Kota Tua dalam Ingatan

Sebagai pusat kota, pusat perdagangan, sekaligus permukiman penting di Asia sejak abad ke -16, Kota Tua adalah situs yang harus dijaga. Kota ini hanya seluas 15 H tapi arti sejarahnya sangatlah besar bagi Indonesia.
Kota Tua Jakarta

Dimulai tahun 1526, penyerangan pelabuhan Sunda Kelapa oleh Fatahillah yang dikirim Kesultanan Demak menyebabkan penamaan Jayakarta pada kota yang memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa ini. Tahun 1619, VOC di bawah komando Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta dan mengubah namanya menjadi Batavia. Nama itu diambil sebagai penghormatan kepada leluhur bangsa Belanda, Batavieren. Oleh Belanda, kota ini dilengkapi benteng (kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa yang diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan kanal. Pembangunan Batavia selesai pada tahun 1650 yang kemudian dijadikan kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kota ini menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda.
Tahun 1942, Batavia, setelah mengalami perluasan wilayah, berganti nama menjadi Jakarta lalu menjadi ibu kota Indonesia. Namun, 15 H yang menjadi awal terbentuknya kota Jakarta, kita kenang sebagai Kota Tua.

Mari Kita Analisis!
Teks cerita di atas termasuk teks cerita sejarah karena bersumber pada peristiwa sebenarnya di masa lalu. Teks cerita sejarah di atas memiliki tokoh, alur dan latar sebagai berikut.
Tokoh: Fatahillah, Jan Pieterszoon Coen, dan VOC.
Alur:
  1. Orientasi: Paragraf 1 terdapat pengenalan Kota Tua yang akan diungkap sejarahnya pada bagian rangkaian peristiwa.
  2. Rangkaian peristiwa: Paragraf 2 dan 3 mengungkapkan kumpulan peristiwa yang melatarbelakangi sejarah yang diungkapkan dalam bagian orientasi.
  3. Reorientasi: Pada akhir paragraf 3 disebutkan pengulangan bahwa 15 H yang menjadi awal terbentuknya kota Jakarta, kita kenang sebagai Kota Tua.

Poin-Poin Penting
  • Teks cerita sejarah adalah salah satu jenis teks yang menceritakan kisah masa lampau yang benar-benar terjadi.
  • Teks cerita sejarah memiliki unsur tokoh, alur, dan latar.
  • Struktur teks cerita sejarah adalah orientasi, peristiwa dan reorientasi.
  • Teks sejarah berfungsi untuk mengenal lebih dalam tentang asal-usul sesuatu (tempat, kejadian. Peristiwa) sejak zaman dulu hingga sekarang.

Monday, February 1, 2016

Perkembangan Seni Drama

Dalam postingan kali ini, akan diuraikan sejarah perkembangan karya sastra berbentuk drama. Seperti kita ketahui bahwa cikal bakal seni drama ditemukan pada dinding piramida Mesir, 3500 Sebelum Masehi. Di situ terlukis, seorang pendeta berdiri di antara para jemaah. Wajahnya bertopeng. Sementara itu, tubuhnya berayun seperti tengah menceritakan sesuatu. Rupanya pendeta Mesir Kuno itu sedang melukiskan keagungan Sang Pencipta Langit dan Bumi. Ia memanfaatkan seni peran dalam menyampaikan ajarannya.

Pertunjukan drama yang lengkap, ditemukan pertama kali di Yunani, tahun 534 SM. Sebagai penghormatan para Dewa Dionisius, bangsa Yunani membuat upacara keagamaan yang berupa seni pertunjukkan. Pemerannya hanya seorang. Sang aktor berakting dan memerankan beberapa karakter sekaligus. Ia didampingi oleh grup paduan suara sekitar 50 orang. Sesekali, sang aktor melakukan dialog dengan mereka. Upacara keagamaan seperti ini lalu merupakan suatu tradisi. Seni drama di Yunani berkembangn pesat. Cerita yang terkenal hingga sekarang, salah satunya, Oedipus.

Pada zaman Romawi, cerita-cerita yang populer adalah cerita-cerita komedi. Mereka biasa mementaskannya di hari-hari libur atau hari besar. Para aktor dan aktrisnya tak lain adalah budak-budak. Para kator bertanggung-jawab pada majikan yang memberikan mereka peran. Tak hanya berakting, mereka juga menyanyi dan menari, menceritakan cerita komedi.
Tahun 1976, aktor dan penulis drama Perancis, Pierre de Beaumarchais menulis Le Mariage de Figaro (Perkawinan Figaro). Drama komedi ini penuh dengan kritik-kritik tajam; mengulas bagaimana kekejaman para bangsawan terhadap rakyatnya. Banyak drama lainnya yang ditentang Raja Louis XVI dan kemudian menjadi picu penggerak Revolusi Perancis (1789 – 1799).
Drama-drama sosial kemudian mulai tumbuh di abad 19. Seni drama tak lagi milik para bangsawan atau golongan menengah atas, melainkan milik rakyat kecil. Cerita yang diceritakan pun  mengacu pada nasib si miskin. Di dalam negeri, seni drama menjadi wadah mengungkapkan kritik pada penguasa. Tak hanya grup drama tradisional dan profesional, namun juga oleh mahasiswa di kampus-kampus.

Seni drama tradisional, khususnya, berkembang hampir di seluruh pelosok daerah dengan beragam variasi dan bentuk. Namanya pun berbeda-beda menurut daerah asal dari seni itu lahir. Di antaranya adalah wayang dan ketoprak dari Jawa Tengah, Lenong dari Jakarta, Randai dari Sumatera Barat, dan lain-lain.

Dram-drama yang berkembang di dunia Barat, yang kemudian disebut drama modern. Drama-drama itu masuk ke Indonesia sekitar tahun 1900 bersamaan dengan masuknya penjajah Portugis dan Belanda. Drama-drama yang dimaksud berupa opera, tambul, dan komedi bangsawan.
Sebelum perang kemerdekaan, munculnya penulis drama romantik yang terkenal, seperti Rustam Effendi, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, dan Armijin Pane. Tulisan Drama yang terkenal pada waktu itu antara lain:
a.    Bebasari karya Rustam Effendi
b.    Ken Arok dan Ken Dedes karya Muhammad Yamin
c.    Airlangga karya Muhammad Yamin
d.    Kertajaya karya Sanusi Pane
e.    Manusia Baru karya Sanusi Pane
f.    Lenggang Kencana karya Armijn Pane

Sesudah perang kemerdekaan, terjadihlah penyederhanaan penulisan drama dalam hal gaya bahasa, pembabakan dan dialog. Muncullah penulis drama yang terkenal pada masa ini seperti Usmar Ismail (yang kemudian dikenal sebagai pelopor perfilman Indonesia), Dr. Abu Hanifah (dengan nama samaran El Hakim), Idrus, Amal hamzah dan Aoh.

Sesudah tahun 1966 perkembangan drama semakin pesat, terutama setelah Dewan Kesenian Jakarta membuat tradisi lomba penulisan drama, sehingga muncul drama radio, drama panggung (teater), drama televisi, dan lain-lain.

Sunday, January 31, 2016

Peribahasa dalam Bahasa Indonesia

Peribahasa adalah kalimat atau perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu.
Ada beberapa ciri-ciri peribahasa, sebagai berikut.
  1.   Merupakan kalimat atau perkataan yang tetap susunannya.
     Kelompok kata Berbilang dari esa, mengaji dari alif tidak bisa diubah, misalnya menjadi Berbilang dari satu, mengaji mulai dari huruf alif. Walaupun maknanya sama atau hampir sama, tetapi dengan perubahan-perubahan semacam itu, makna konotasi kalimat itu berubah pula.

   2.  Mengandung makna kias.
        Makna yang terkandung dalam peribahasa bukanlah makna yang sebenarnya, melainkan makna kias atau makna konotatif. 

Beberapa contoh peribahasa bahasa Indonesia yang sering kita temui, yakni :
1.   Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.
      Artinya : Orang yang mau enaknya sendiri.
2.   Kalah jadi abu, menang jadi arang.
      Artinya : Dalam suatu pertengkaran, kalah menang sama-sama rugi.
3.   Bagai abu di atas tanggul.
      Artinya : Kekhawatiran terhadap jabatannya.
4.   Mengabui mata orang.
      Artinya : Suka menipu orang lain.
5.   Ada udang di balik batu.
      Artinya : Mempunyai keinginan yang disembunyikan.
6.   Ada gula ada semut.
      Artinya : Dimana ada banyak kenikmatan, disitu banyak orang yang berdatangan.
7.   Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan.
      Artinya : Bersama-sama berbahagia dan bersama-sama menderita.
8.   Adakah buaya menolak bangkai.
      Artinya : Sekalipun hartanya sudah melimpah, tetapi masih terus merasa kurang.
9.   Harap pada yang ada, cemas pada yang tiada.
      Artinya : Orang yang tidak sabar.
10.  Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah.
       Artinya : Hidup di lain daerah harus dapat mengikuti adat yang berlaku.
11.  Air susu dibalas dengan air tuba.
       Artinya : Kebaikan dibalas dengan kejahatan.
12.  Air tenang menghanyutkan.
       Artinya : Orang yang pendiam biasanya pandai.
13.  Air laut pun ada pasang surutnya.
       Artinya : Rezeki seseorang selalu berubah-ubah, terkadang untung terkadang rugi.
14.  Air beriak tanda tak dalam.
       Artinya : Orang yang bodoh banyak bicara.15.  Seperti menuang secangkir air di lautan.
       Artinya : Melakukan suatu pekerjaan yang sia-sia.
16.  Menjilat ludah.
       Artinya : Memminta kembali sesuatu yang telah diberikan.
17.   Mengairi sawah orang.
       Artinya : Melakukan pekerjaan tetapi orang lain yang diuntungkan.
18.  Air tenang jangan dikira tidak berbuaya.
       Artinya : Orang yang diam bukan berarti penakut.
19.   Seperti air membasuk kaki.
       Artinya : Memberi seuatu yang tak dihargai.
20.  Air mata jatuh ke perut.
       Artinya : Kesedihan yang disembunyikan.
21.  Sambil menyelam minum air.
       Artinya : Sekali bertindak dapat menyelesaikan dua pekerjaan.
22.   Membasuh muka dengan air liur.
       Artinya : Orang yang namanya telah tercemar.
23.  Hidup berakal mati beriman.
       Artinya : Hendaknya kita berpanjang akal dalam mengerjakan sesuatu.
24.  Hidup bagai akar benalu.
       Artinya : Hidup hanya menggantung kepada orang lain.
25.  Tiada rotan, akarpun jadi.
       Artinya : Kalau tak ada yang baik, yang kurang baikpun dapat digunakan.
26.  Menerkam ayam di dalam telor.
       Artinya : Memastikan seuatu yang tidak mungkin dapat ditentukan.
27.  Ayam dapat, musang pun dapat.
       Artinya : Berhasil menangkap pencuri berikut dengan barang-barang curiannya.
28.  Mencabik baju di dada.
       Artinya : Menceritakan aib sendiri kepada orang lain.
29.  Balik belakang lain bicara.
       Artinya : Merugikan teman sendiri, munafik.
30.  Menjual bedil kepada lawan.
       Artinya : Menyusahkan diri sendiri.

Struktur Isi dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Prosedur Kompleks

Teks Prosedur Kompleks merupakan salah satu materi yang ada dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia jenjang pendidikan menengah atas (SMA) kelas X semester dua. Kurangnya sumber referensi yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa, maka melalui posting ini sahabat MampirDoelu akan memberikan ringkasan materi tentang teks tersebut.
Pengertian Teks Prosedur Kompleks
Teks Prosedur Kompleks adalah teks yang berisi tentang langkah-langkah yang tersusun secara sitematis untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari kita akan banyak menemukan teks semacam ini tatkala kita ingin mengetahui cara-cara atau tahapan melakukan sesuatu. Misalnya yang menjelaskan tahapan-tahapan cara membuat KTP. Tetapi perlu dipahami bahwa yang termasuk dalam teks prosedur adalah segala bentuk tahapan-tahapan yang tersusun secara sistematis dan dibuat oleh manusia. Sebab tahapan-tahapan yang secara alami ada, misalnya tahapan-tahapan terjadinya hujan, bukan termasuk teks prosedur melainkan teks eksplanasi.

Struktur Isi Teks Prosedur Kompleks
Dalam teks prosedur kompleks terdapat beberapa struktur isi yang membentuknya, yakni sebagai beriktu:
1.    Judul
2.    Tujuan
3.    Langkah-langkah
Contoh :
Cara Membuat Alamat Email
Tujuan
      Pada zaman yang serba canggih saat ini, memiliki alamat email sepertinya sudah menjadi keharusan bagi beberapa kalangan. Namun, tahukah Anda bagaimana cara membuat alamat email? Ada beberapa tahapan yang harus Anda ikuti jika Anda ingin membuat alamat Email.

Langkah-Langkah
       Terlebih dahulu pastikan bahwa Anda sudah terhubung dengan koneksi internet, setalah itu Anda harus tentukan, apakah alamat email yang Anda buat dengan akun yahoo atau gmail. Jika Anda telah menentukan pilihan, misalnya dengan menggunakan gmail. Maka langkah berikutnya Anda harus membuka situs https://mail.google.com, setelah itu pilih create account hingga muncul tampilan isian data, Anda kemudian diminta untuk mengisi data tersebut secara lengkap. Adapun isian data yang harus Anda isi adalah nama lengkap, alamat email yang diinginkan, kata sandi, tanggal lahir, jenis kelamin dan nomor telpon Anda. Setalah semua data diisi dengan benar maka selanjutnya klik next step hingga alamat email Anda siap untuk digunakan.

Ciri-Ciri Kebahasaan
Ada beberapa ciri-ciri kebahasaan dalam teks prosedur kompleks, yakni sebagai berikut:
1.  Menggunakan konjungsi temporal (konjungsi yang berkaitan dengan urutan waktu)
     Contoh : Kemudian, setelah itu, berikutnya, dll
2.  Terdapat kalimat imperatif (kalimat yang berisi perintah atau larangan)
     Contoh : Aduklah adonan tersebut hingga rata.
3.  Terdapat kalimat deklaratif (kalimat yang berisi pernyataan)
     Contoh : Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam membuat pisang goreng.
4.  Terdapat kalimat introgatif (kalimat yang berisi pertanyaan)
     Contoh : Apakah yang harus Anda lakukan saat membuat SIM?
5.  Terdapat kata kerja material dan tingkah laku
6.  Terdapat partisipan.

Sunday, January 24, 2016

Morfem dan Jenis-Jenis Morfem

Pengertian Morfem
Morfem adalah suatu bahasa terkecil (bagian morfologi) yang bermakna leksikal atau gramatikal.
Jenis-Jenis Morfem
1.  Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata.
     Contoh : makan, minum, tidur
2.  Morfem terikat adalah morfem yg tidak dapat berdiri sendiri dan selalu terikat pada morfem lain.
     Contoh : me-, ber-
3.  Terikat morfologis adalah keterikatan pada bentuk lain (tataran kata).
     Contoh : me-, di-, anjur, juang, temu.
4.  Terikat sintaksis adalah keterikatan pada konstruksi kalimat.
     Contoh : untuk, dan, ke, di.
5.  Morfem Unik adalah morfem yang terikat pada bentuk tertentu atau muncul dalam satu 
sebagai pembentuk kata yang lebih kompleks.
     kemungkinan.
    Contoh : siur pada simpang siur.

Cara Menghitung Morfem
1. Semua morfem bebas dihitung satu buah. 
    Contoh : Ibu ingin makan roti.  = 4 morfem
2. Morfem terikat
    a. Afiks (prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks) dihitung norma berdasarkan wujudnya.
        Contoh : ber-, -er-, me-kan, memper-
        Pada kata “bergurau” terdapat satu morfem bebas “gurau” dan satu morfem terikat “ber-“.
    b. Afiks yang berupa konfiks dihitung sebagai satu morfem normal berdasarkan wujudnya.
        Contoh : pe-an, ke-an, per-an, ke-kan, pe-i, per-kan.
        Pada kata “pelarian” terdapat satu morfem bebas “lari” dan satu morfem terikat “pe-an”.

Thursday, September 3, 2015

Intepretasi Isi Teks Anekdot

Teks prosedur kompleks terdiri atas pendahuluan, isi, dan penutup. Penutup umumnya berisi kesimpulan maupun saran-saran. Jika teks itu dalam bentuk artikel, ketiga hal tersebut dalam bentuk paragraf. Teks prosedur kompleks dalam bentuk paragraf tentu lebih panjang lebar uraiannya dibandingkan dalam bentuk tahap-tahap yang lebih sederhana. Kedua bentuk itu tetap mempunyai persamaan yaitu bagian pendahuluan, isi, dan penutup selalu ada pada bagian awal tulisan, tengah, dan akhir. Langkah atau bagian yang paling banyak tentu pada bagian isi atau pembahasan.
Teks prosedur kompleks yang ditulis secara runtut, sistematis, lebih mudah memandu seseorang untuk membuat, melakukan suatu pekerjaan lebih baik. Dengan kata lain seseorang yang mau membaca cermat lalu melaksanakan dengan benar setiap prosedur kompleks dalam bidang apa pun akan lebih berhasil pekerjaannya.
Perhatikan!

Cermati salah satu contoh kutipan artikel berikut.
Sampai saat ini masih banyak warga masyarakat yang mengadakan acara tujuh bulanan untuk para istri yang baru hamil pertama kali 1). Terutama di lingkungan masyarakat Jawa hal ini masih sering dilaksanakan 2). Tujuan ritual tujuh bulanan atau mitoni sebenarnya sangat baik yaitu mohon kesehatan, keselamatan agar si jabang bayi kelak lahir sehat 3). Si ibu diberi kesehatan dan kekuatan selama masa kehamilan hingga melahirkan 4). Jabang bayi yang lahir diharapkan kelak menjadi manusia yang berbudi pekerti mulia, berguna bagi keluarga, nusa dan bangsa 5). Anak diharapkan dapat menjadi kebanggaan keluarga dan menjadi contoh bagi generasi muda seusianya 6). Itulah sebabnya harapan ini sering digambarkan dengan lukisan Rama Shinta 7). Lukisan itu dibuat pada sepasang kelapa gading yang kulit luarnya berwarna kuning muda 8). Harapannya adalah sang anak yang lahir berkarakter seperti tokoh Rama yang mengutamakan kepentingan negara, sanggup memerangi kejahatan dan membela yang lemah 9).
Mari Kita Interpretasi!
Bagian pendahuluan teks tersebut adalah kalimat ke-1 dan ke- 2.
Bagian isi kalimat ke-3 sampai ke-7.
Bagian penutup adalah kalimat ke-8 dan ke-9.

Contoh interpretasi dari teks di atas
Warga masyarakat Jawa banyak yang masih menjalankan tradisi mitoni atau tujuh bulanan bagi ibu hamil. Tradisi itu ternyata memiliki makna yang dalam. Tradisi itu dilaksanakan sebagai rangkaian doa memohon kesehatan dan kebaikan pada Tuhan. Selain itu, ada harapan yang sangat tinggi terhadap jabang bayi dalam tradisi itu. Orang tua berharap anak yang akan terlahir berkarakter seperti tokoh pewayangan Rama. Karakter itu adalah mengutamakan kepentingan negara, sanggup memerangi kejahatan, dan melindungi yang lemah. Sungguh harapan yang luar biasa.

Ciri-Ciri Bahasa Teks Eksposisi

Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengomunikasikan ide kepada orang lain, baik itu komunikasi lisan maupun tertulis. Dari segi tujuannya komunikasi tertulis, ada berbagai bentuk tulisan yang dapat digunakan, diantaranya bentuk eksposisi atau paparan.
Teks eksposisi ialah teks yang memaparkan keadaan, proses, atau suatu masalah dengan sejelas-jelasnya. Dalam karangan eksposisi ini, pengarang bertujuan memberikan informasi atau penjelasan dengan cara mengembangkan gagasan dengan harapan pembaca benar-benar mengetahui informasi atau penjelasan yang disampaikan itu.

Ciri-ciri bahasa teks eksposisi:
  1. Bersifat nonfiksi/ilmiah: teks eksposisi memaparkan informasi atau pengetahuan sering kali dilengkapi dengan pendapat para ahli, contoh, dan fakta-fakta.
  2. Bersifat informatif/menjelaskan /memaparkan: teks eksposisi bertujuan memberikan informasi atau penjelasan dengan cara mengembangkan gagasan dengan harapan pembaca benar-benar mengetahui informasi atau penjelasan yang disampaikan itu.
  3. Berdasarkan fakta: teks eksposisi menggunakan fakta-fakta untuk membuat rumusan dan kaidah yang dikemukakan itu lebih konkret.
  4. Tidak memengaruhi: teks eksposisi tidak berusaha untuk memengaruhi pendapat orang lain, tetapi berusaha menerangkan dan menguraikan suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan seseorang setelah membaca uraiannya.
  5. Sering menggunakan kata pronomina (kita atau saya).
  6. Menggunakan istilah.
  7. Menggunakan bahasa baku.
  8. Akhir teks berupa penegasan: bagian akhir dari teks eksposisi berupa penguatan kembali atau penegasan terhadap pendapat yang telah ditunjang oleh fakta-fakta.Cirinya berupa kesimpulan bahwa apa yang diuraikan itu penting.
Perhatikan!Contoh :
Salah satu cara menyejahterakan kehidupan masyarakat desa adalah dengan menggerakkan agrobisnis yang berbasis bahan baku apa yang tersedia di kawasan tersebut. Basis bahan baku tersedia ini sangat penting agar proses terakhir jatuhnya tidak mahal. Misalnya, agroindustri kelapa. Di negeri kita ini , kelapa merupakan produk yang ada di setiap daerah pedesaan, baik di padalaman maupun di pesisir. Seluruh penduduk negara kita mengonsumsi kelapa. Budidaya buah kelapa dengan segala hasil olahannya dapat dijadikan sandaran hidup masyarakat pedesaan. Dengan demikian, kelapa memberi manfaat ekonomi yang penting bagi kesejahteraan penduduk di pedesaan.
Perhatikan Ulasan Berikut!
Dari kutipan tersebut terbukti bahwa teks eksposisi memang faktual, memberi pengetahuan bagi pembaca, menggunakan pronomina (kata ganti kita), terdapat penggunaan istilah agrobisnis, dan menggunakan bahasa baku. Di samping itu, ada penutup yang berupa penegasan pentingnya budidaya kelapa di Indonesia.

Struktur Isi Teks Eksposisi

Dalam materi kali ini, kalian diajak untuk mengenal definisi dan struktur teks eksposisi agar mampu menganalisis dan memahami isinya, baik lisan maupun tulisan.
Definisi Teks Eksposisi
Teks eksposisi adalah suatu teks yang berfungsi untuk memaparkan dan menjelaskan suatu informasi. Tujuan tersebut dapat dengan mudah kita pahami berdasarkan kata bahasa Inggrisnya, yaitu expose yang berarti ‘menyingkap’ atau ‘membongkar’.
Teks eksposisi dapat berisi satu topik (permasalahan) tertentu. Topik yang berisi permasalahan tersebut lalu dikaji berdasarkan sudut pandang penulis. Di sini tugas penulis adalah berusaha membuktikan, mengevaluasi, atau mengklarifikasi permasalahan tersebut.
Struktur Teks Eksposisi
Struktur teks eksposisi terdiri atas tiga bagian: (1) tesis, (2) argumentasi, dan (3) penegasan ulang.
1. Tesis
    Tesis adalah bagian yang berisi  sudut  pandang penulis  terhadap  permasalahan yang diangkat. Istilah ini mengacu ke suatu bentuk pernyataan atau bisa juga sebuah teori yang nantinya akan diperkuat oleh argumen. Dalam teks eksposisi, bagian ini merupakan bagian penting yang muncul di awal teks walau ada kemungkinan dapat diletakkan kembali pada bagian akhir (penegasan ulang).

Contoh tesis teks eksposisi
Kopi dapat membantu menjaga kesehatan mulut dan gigi.
2.  Argumentasi
    Argumentasi adalah bentuk alasan atau bukti yang digunakan untuk memperkuat pernyataan dalam tesis walaupun dalam pengertian yang umum, argumentasi juga dapat digunakan untuk menolak suatu pendapat. Argumentasi dapat berupa pernyataan umum (generalisasi) atau dapat juga berupa data hasil temuan penelitian, pernyataan para ahli atau fakta-fakta yang didasari atas referensi yang dapat dipercaya.

Contoh argumentasi
  • Kopi ternyata mengandung senyawa yang bersifat antibakteri sehingga dapat membunuh bakteri yang bersarang dalam mulut.
  • Kopi juga mengandung zat trigonelline yang mencegah gigi berlubang.
3.  Penegasan Ulang/Simpulan
    Ini adalah bagian terakhir dari struktur teks eksposisi. Bagian ini mengandung pernyataan simpulan yang menegaskan kembali tesis yang telah dikemukakan di awal teks dan dibuktikan atau diperkuat oleh unsur argumen pada poin kedua.

Contoh penegasan ulang
Kopi yang mengandung senyawa antibakteri terbukti dapat menjaga kesehatan mulut dari bakteri dan mampu mencegah gigi berlubang karena mengandung zat *trigonelline.*

Sifat/Ciri Teks Eksposisi
Sebuah teks eksposisi, walaupun menonjolkan sisi faktual, harus tetap menunjukkan bahwa teks tersebut muncul atas dasar sudut pandang penulis. Dengan demikian, teks eksposisi dapat dilihat dari sifat kebahasaannya melalui penggunaan kata-kata yang menunjukkan sikap penulis, seperti penggunaan pronomina/ kata ganti orang (saya, kami, kita) atau penggunaan kata-kata bernada opini (seharusnya, dapat, bisa).
Selain hal di atas, teks eksposisi pun harus mampu menghubungkan fakta-fakta agar tercipta susunan yang sistematis/runut. Hal ini membuat teks eksposisi sarat dengan penggunaan konjungsi/kata sambung yang menunjukkan berbagai macam hubungan makna, seperti
a. sebab-akibat/kausalitas : dengan demikian, oleh sebab itu, oleh karena itu, jadi
b. pertentangan/konsesif : namun, akan tetapi, meskipun demikian
c. kronologi : kemudian, lalu,
Teks eksposisi (expose) berisi penjelasan/pembeberan/pembuktian suatu permasalahan yang dikembangkan berdasarkan sudut pandang penulis.
Struktur teks eksposisi terbagi atas tiga hal:
  •  Tesis (pernyataan awal)
  • Argumentasi (pembuktian)
  • Penegasan ulang (simpulan)
Ciri teks eksposisi
    a. Penunjukan sikap penulis melalui penggunaan pronomina dan kata bernada saran
    b. Adanya hubungan yang sistematis antara satu fakta dan fakta yang lain melalui penggunaan kata hubung.

Monday, August 24, 2015

Langkah-Langkah Konversi Teks Anekdot Menjadi Teks Drama Pendek

Ada beberapa bentuk teks anekdot, yakni naratif (monolog), dialog (drama), dan puisi.
Bentuk teks anekdot bisa diubah dari naratif (monolog) menjadi dialog (drama) atau sebaliknya dari dialog (drama) menjadi teks monolog (naratif).
Teks naratif
Teks naratif adalah teks cerita.
Teks naratif anekdot harus memiliki kejelasan tokoh, alur peristiwa, dan latar.

Drama
Drama adalah cerita sandiwara.
Ciri-ciri drama adalah menggunakan dialog dalam bercerita. Selain itu, ekspresi tokoh juga dilukiskan dalam bentuk mimik dan pantomimik.

Langkah-langkah mengubah teks anekdot naratif menjadi teks drama:
1.  Bacalah teks anekdot dengan cermat.
2.  Cermatilah tokoh dan apa yang dikatakan oleh tokoh (kalimat langsung).
Ciri kalimat tidak langsung adalah sebagai berikut.
a.  Tidak menggunakan tanda petik
b.  Bentuk kalimat berita
c.  Menggunakan kata ganti orang ketiga: ia, -nya, mereka
    Contoh: Ia berdoa agar orang yang tak ikhlas memberi bantuan dihanyutkan.
Ciri kalimat langsung adalah sebagai berikut.
a.  Menggunakan tanda petik.
b.  Bentuk kalimat adalah kalimat tanya, perintah, ajakan, seru, maupun larangan.
c.  Menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua: saya, kamu, kami
     Contoh: Ia berdoa, “hanyutkanlah orang yang tak ikhlas memberi bantuan.”
Ubahlah pernyataan yang menjelaskan keadaan tokoh menjadi ekpresi (mimik dan pantomimik) setelah atau sebelum dialog.

Perhatikan!
KUHP DALAM ANEKDOT

(1) Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja.
(2) Saat sesi tanya-jawab tiba, Ali bertanya kepada pak dosen, “Apa kepanjangan KUHP, Pak?” Pak dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad. “Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta pak dosen. Dengan tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara, Pak …!”
(3) Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban itu?” Dasar Ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas, “Peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, Pak …!” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak.
(4) Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal.
Mari konversi!
KUHP DALAM ANEKDOT
Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja.
Saat sesi tanya-jawab tiba.
Ali : (Ali mengacungkan jari telunjuknya) “Pak, apa kepanjangan dari KUHP?”
Pak Dosen : “O, ya. Pertanyaan yang bagus. Siapa yang tahu kepanjangan KUHP?”(sambil melemparkan pandang ke semua mahasiswa).
Terlihat Ahmad sedang sibuk dengan HP barunya.
Pak Dosen : “Nah, Ahmad, coba kamu jawab apa kepanjangan dari KUHP?”
Ahmad : “Apa, Pak? Kepanjangan KUHP, Pak? Ehm..”
(berpikir sejenak) “Kasih Uang Habis Perkara”
Mahasiswa lain tertawa, sedangkan Pak Dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Pak Dosen : “Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban itu?”
Ahmad : “Peribahasa Inggris yang mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, Pak”
Mahasiswa tercengang, berpandang-pandangan, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Langkah-Langkah Konversi Teks Anekdot Menjadi Teks Monolog

Sebelumnya, kalian sudah dapat menilai sebuah teks anekdot. Sekarang,kalian akan belajar bagaimana mengonversi teks anekdot tersebut menjadi teks monolog.
Teks naratif
Teks naratif adalah teks cerita.
Teks naratif anekdot harus memiliki kejelasan tokoh, alur peristiwa, dan latar.
Teks monolog
Monolog adalah cerita yang disampaikan oleh satu orang.
Langkah-langkah mengonversi teks naratif menjadi teks monolog:
1.  Bacalah teks dengan seksama
2.  Cermatilah apa yang dikatakan oleh tokoh utama dan tokoh yang lain.
3.  Perhatikan kalimat langsung yang ada dalam teks naratif.
Ciri kalimat tidak langsung adalah sebagai berikut:
a.  Tidak menggunakan tanda petik
b.  Bentuk kalimat berita
c.  Menggunakan kata ganti orang ketiga: ia, -nya, mereka
    Contoh: Ia berdoa agar orang yang tak ikhlas memberi bantuan dihanyutkan.
Ciri kalimat langsung adalah sebagai berikut:
a.  Menggunakan tanda petik
b.  Bentuk kalimat adalah kalimat tanya, perintah, ajakan, seru, maupun larangan.
c.  Menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua: saya, kamu, kami
    Contoh: Ia berdoa, “hanyutkanlah orang yang tak ikhlas memberi bantuan.”
Ubahlah dialog tersebut menjadi teks monolog atau dengan satu tokoh saja yang berbicara. Walaupun berbentuk monolog, teks anekdot tetap mempertahankan ciri-ciri teks anekdot, yakni struktur abstraksi-orientasi-krisis-reaksi-koda, memiliki amanat, memiliki unsur lucu/konyol/jengkel.

Perhatikan!
KUHP DALAM ANEKDOT
(1) Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja.
(2) Saat sesi tanya-jawab tiba, Ali bertanya kepada Pak Dosen. “Apa kepanjangan KUHP, Pak?” Pak Dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad. “Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta pak dosen. Dengan tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara, Pak …!” 
(3) Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan Pak Dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban itu?” Dasar Ahmad, pertanyaan Pak Dosen dijawabnya dengan tegas, “Peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, Pak …!” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak.
(4) Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal.
Mari konversi!
KUHP DALAM ANEKDOT
Seorang dosen fakultas hukum sedang memberikan kuliah hukum pidana dalam salah satu kelas.Suasana kelas biasa-biasa saja. Sampai saat sesi tanya jawab berlangsung. Salah satu mahasiswa, Ali, menanyakan tentang kepanjangan KUHP. Dosen tersebut melempar pertanyaan itu untuk mahasiswa lain, Ahmad. Ahmad berkata bahwa dia akan berfikir dulu lalu segera menjawab bahwa KUHP adalah Kasih Uang Habis Perkara. Ahmad berkata bahwa dia tahu hal itu dari pengalaman sebagaimana yang dikatakan dalam peribahasa Inggris yang menyebutkan pengalaman adalah guru yang terbaik. Mereka berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak.
Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal.

Evaluasi Teks Anekdot (Kelebihan dan Kekurangan)

Teks anekdot merupakan teks yang lucu/jengkel/konyol tapi mengandung ajaran moral. Oleh sebab itu, teks anekdot sering ditulis/dibaca seseorang untuk menghilangkan rasa stress. Akan tetapi, setiap teks anekdot memiliki tingkat kelucuan/kejengkelan/kekonyolan yang berbeda-beda sehingga tingkat humor pun berbeda-beda.
Teks anekdot yang baik adalah teks yang memiliki unsur lucu/jengkel/konyol, memiliki pesan moral sebagai pencerahan, dan strukturnya jelas.

Untuk mengevalusi teks anekdot, kita memerlukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini.
1. Siapa partisipan/tokoh dalam teks tersebut?
2. Siapa yang kita sindir?
3. Sudah runtutkah rangkaian peristiwanya?
4. Bagaimana kelengkapan struktur teks abstraksi-orientasi-krisis-reaksi-koda?
5. Apakah ada unsur lucu/jengkel/konyol?
6. Apakah anekdot itu memberikan pencerahan bagi pembaca?
7. Bagaimana ketepatan penggunaan bahasa teks anekdot itu?
8. Apakah teks tersebut sesuai dengan topik?
Perhatikan Contoh:
Orang Tuaku Sayang, Anakku Malang
        Setiap hari orang tua Iwan selalu bekerja. Mereka jarang pulang di rumah karena harus mengisi acara seminar maupun diklat. Sudah satu bulan lamanya mereka tidak bertemu anaknya. Rasa kangen pun mendera. Sang bapak ingin menguji anaknya, apakah dia mencintai dan merindukannya.
Bapak: Wan, apakah kamu sayang terhadap orang tuamu?
Iwan: sangat sayang. Aku selalu merindukan ayah dan ibu ketika aku sendiri di rumah (Jawab Iwan bohong)
Bapaknya lega mendengar perkataan Iwan. Beliau percaya kalau anaknya sangat menyayangi orangtua.
Ayahnya kemudian berdoa, “Ya, Allah terimakasih kau telah titipkan hamba seorang anak yang baik. Berikan dia hukuman jika salah.”
Seketika itu, Iwan jatuh dan pingsan.
Bapaknya segera melarikannya ke rumah sakit. Iwan langsung mendapatkan pertolongan tim medis dan masuk ruang ICU. Ayahnya hanya menangis.
Mari evaluasi! 
  • Partisipan yang terlibat dalam teks anekdot di atas adalah Bapak, Iwan, dan tim medis. Tokoh-tokoh tersebut memiliki peran masing-masing.
  • Teks tersebut menyindir orang tua dan anak. Orang tua yang selalu meninggalkan anak karena pekerjaan dan anak yang membohongi orangtua.
  • Rangkaian peristiwa di atas sudah runtut dan logis. Dimulai dengan abstraksi dan ditutup dengan koda. Krisis dalam teks di atas juga memiliki unsur konyol, Ayahnya kemudian berdoa, “Ya, Allah terimakasih kau telah titipkan hamba seorang anak yang baik. Berikan dia hukuman jika salah.” Seketika itu, Iwan jatuh dan pingsan.
  • Bahasa yang digunakan dalam teks tersebut sudah tepat.
  • Judul teks tersebut sudah tepat karena mewakili keseluruhan isi teks.
Dari evaluasi di atas, dapat dikatakan teks anekdot ‘Orang Tuaku Sayang, Anakku Malang’ termasuk teks anekdot yang bagus.

Langkah-Langkah Abstraksi Teks Anekdot

Abstrak bisa dimaknai suatu hal yang penting/inti. Mengabstraksi teks anekdot berarti meringkas teks anekdot. Ringkasan disusun dalam paragraf yang memiliki satu kesatuan makna.

Langkah-langkah mengabstraksi teks anekdot sebagai berikut.
1. Membaca teks anekdot.
2. Menentukan pokok-pokok teks anekdot.

Pokok-pokok teks anekdot sebagai berikut:
1. Partisipan adalah penokohan
2. Peristiwa penting adalah inti peristiwa dari setiap bagian abstraksi-orientasi-krisis-reaksi-koda
3. Latar
4. Kelucuan/kejengkelan/kekonyolan
5. Hikmah

Perhatikan Contoh:
POLITISI BLUSUKAN BANJIR
Pada malam Jumat, paling banyak ditemukan politisi melakukan blusukan, termasuk Darman (maaf bukan nama sebenarnya dan bukan sebenarnya nama). Darman mendatangi kampung yang diterjang banjir paling parah. Kebetulan di sana banyak wartawan meliput sehingga dia makin semangat menyerahkan bingkisan.
Darman juga tidak mau menyia-nyiakan sorotan kamera wartawan. Dia mencari strategi agar tetap menjadi perhatian media. Darman berusaha masuk ke tempat banjir dan menceburkan diri ke air. Sial baginya, dia terperosok ke selokan dan terseret derasnya air. Darman berusaha sekuat tenaga melawan arus, tetapi tak berdaya, dia hanyut.
Untung regu penolong sangat sigap. Meskipun terseret cukup jauh, Darman masih bisa diselamatkan. Dia dibawa ke posko kesehatan dan dibaringkan di bangsal. Waktu itu semua bangsal penuh oleh orang pingsan. Darman kaget melihat orang yang ada di situ. Semuanya dia kenal, para politisi sedang blusukan. Lebih kaget lagi ketika dia melihat doa tertulis di dinding: “Ya Allah, hanyutkanlah mereka yang tak ikhlas”. Darman pingsan!
Mari kita abstraksi!
Partisipan dalam teks di atas adalah Darman, wartawan, regu penolong, masyarakat. Tokoh utama: Darman
    Peristiwa penting Pada malam Jumat, sejumlah politisi melakukan “blusukan” ke daerah-daerah banjir. Mereka membawa sembako untuk dibagi-bagikan kepada korban banjir. Tidak ketinggalan, Darman juga meninjau salah satu daerah yang menjadi korban banjir. Ia menebar senyum dan menjadi pusat perhatian warga. Akan tetapi, Darman sial. Ia terperosok ke selokan dan terseret oleh banjir. Darman ditolong oleh regu penyelamat. Lalu, ia dibawa ke tempat yang aman. Darman pingsan setelah melihat ada tulisan “Ya Allah, hanyutkanlah mereka yang tak ikhlas” yang menempel di dinding.

Karakteristik Teks Anekdot

Teks anekdot berbeda dengan teks lain. Ciri yang membedakan teks anekdot dengan teks yang lain adalah sebagai berikut.
1.  Struktur teks
    Teks anekdot yang baik memiliki struktur abstraksi-orientasi-krisis-reaksi-koda. Tidak selalau teks anekdot memiliki lima bagian tersebut. Akan tetapi, bagian yang harus ada dalam teks anekdot adalah orientasi-krisis-reaksi.
  • Abstraksi berupa cerita pembuka yang akan menggambarkan awal cerita.
  • Orientasi yaitu peninjauan yang menggambarkan situasi awal cerita. Orientasi akan membangun konteks pembaca terhadap suatu cerita.
  • Krisis yaitu bagian cerita yang menggambarkan keadaan yang genting atau terjadinya konflik yang dialami oleh tokoh (terjadinya ketidakpuasan atau kejanggalan).
  • Reaksi yaitu tanggapan tokoh terhadap konflik yang muncul.
  • Koda yaitu penutup cerita atau keadaan akhir cerita.
Kaidah teks • Memiliki ajaran moral/mengandung pelajaran • Memiliki unsur lucu/konyol/menjengkelkan • Menyindir • Bahasa, kebahasaan yang sering digunakan dalam penulisan teks anekdot adalah perbandingan, perumpamaan, dan konjungsi temporal dan sebab akibat.
Bandingkan kedua teks berikut ini!
Teks mana yang termasuk teks anekdot?
Teks 1
Tertib lalu lintas harus ditegakkan. Hari ini polisi menggelar operasi di Jalan Was.
Polisi: Mengapa kamu tidak pakai helm
Pengendara: Helm saya hilang, Pak
Polisi: kalau hilang, beli atau bayar denda di sini?
Pengendara: kalau saya beli helm, saya tidak punya uang untuk bayar denda. Pasti nanti saya juga disuruh bayar denda karena saya juga tidak punya SIM.
Polisi:????
Polisi mengeluarkan surat tilang. Motor pengendara harus ditinggal.

Teks 2
Sejak bertemu dengan dia, hidupku menjadi lebih berarti. Dia sahabat baikku. Setiap hari aku mendapatkan wejangan-wejangan darinya. Salah satunya adalah wejangan bagaimana cara menikmati hidup agar tidak tamak dan selalu bersyukur. “Seandainya bisa, manusia pasti akan menggenggam dunia,” katanya suatu saat.
Mari kita ulas! 
Teks 1 berbentuk drama sedangkan teks 2 berbentuk cerita. Kedua teks di atas memiliki ajaran/pesan moral. Akan tetapi, teks 1 adalah teks anekdot sedangkan teks 2 bukan teks anekdot. Hal ini disebabkan oleh sebagai berikut.
Teks 1 adalah teks anekdot sebab memiliki struktur sebagai berikut. Abstraksi : Operasi tertib lalu lintas Orientasi : tertib lalu lintas harus ditegakkan Krisis : pengendara ditilang Reaksi : polisi mengeluarkan surat tilang Koda : pengendara harus meninggalkan kendaraan di TKP

Teks 2 tidak memiliki struktur seperti teks 1.
Selain struktur teks, hal yang tampak berbeda dari kedua teks tersebut adalah unsur lucu/jengkel/konyol. Teks 1 memiliki unsur tersebut, sedangkan teks 2 tidak memilikinya.
Teks 1 berisi sindiran terhadap seseorang yang tidak tertib lalu lintas. Sedangkan teks 2 memiliki amanat yang kuat yaitu hidup harus selalu bersyukur dan tidak tamak.