Wednesday, March 16, 2016

Catatan-Catatan Najwa Sihab

Najwa Sihab merupakan salah seorang presenter yang cukup dikagumi. Kepiwaian dan kecerdasannya serta sikap kritis saat membawakan sebuah acara di MetroTv membuatnya kian dikagumi oleh masyarakat. Tidak tanggung-tanggug program tv yang diberi nama "Mata Najwa" setiap episodenya selalu menghadirkan tokoh-tokoh ternama di Indonesia, terutama para pemimpin-pemimpin Negeri ini. Pasa awal acara ataupun akhir acara biasanya Najwa Sihab memberikan catatan-catannya terkait apa yang akan dibahasa dalam acara tersebut. Tidak jarang catatan-catatan tersebut memaksa kita untuk merenung bahkan berpikir kritis tentang suatu masalah yang dihadapi bangsa. Pada kesempatan kali ini, MampirDoelu berbagi catatan-catatan Najwa Sihab yang telah dirangkum dari beberapa episode tayangan "Mata Najwa". Semoga catatan-catatan ini bermanfaat, terlebih dapat dijadikan bahan renungan ataupun dasar untuk berpikir kritis.

MELIHAT KE TIMUR
Di timur ada eksotisme yang mempesona, ada juga kegelisahan yang membahana. Aroma rempah yang mengundang kolonialisme, derita panjang yang berujung nasionalisme. Lama dilupakan dalam pembangunan, dipanggang api pertikaian dan perseteruan. Timur bukan tanah yang dijanjikan, timur adalah tanah yang terus diberi janji dan harapan yang tak pasti. Mereka tak banyak meminta, hanya keadilan sebagaimana mestinya. Sebab Indonesia adalah barat, tengah dan timur, tak boleh ada bagian yang jatuh tersungkur.
Jika di timur ada yang terluka, di barat harus juga merasa duka.
Jika yang tergores ada padamu, yang mengerang haruslah suaraku.
Itulah persatuan dalam jiwa dan perasaan, bukan penderitaan berembel-embel persatuan. Timur adalah kita yang terjaga lebih dulu, timur adalah Indonesia yang tak sabar menunggu.

MANTRA LAYAR KACA
Media menggenggam publik luar biasa, katanya sabda lakunya menyerupai mantra.
Media selalu punya kesempatan emas, membangun keterlibatan sosial dan solidaritas.
Sebab media punya kewajiban publik, menyuguhkan hal penting menjadi menarik.
Terdepan mengawasi praktik korupsi, mengajak anak muda turut peduli nasib negeri ini.
Memberi suara kepada yang tak bisa bersuara, walau itu berarti mengusik penguasa.
Media yang kuat butuh rakyat yang terlibat, mengelola kebebasan dengan bertanggung jawab.
Menyumbang sehatnya demokrasi, saat orang berdaya dan turut berpartisipasi.
Membuat publik melek informasi, agar tak mudah termakan fitnah dan caci maki.

MENCARI PENDEKAR KPK
Dukungan publik masih cukup banyak, KPK harus secepatnya kembali bergerak.
Kinerja KPK perlu segera membaik, agar para koruptor tidak leluasa tanpa terusik.
Pemimpin baru harus bisa menjawab kebutuhan, memimpin KPK melewati berbagai karang persoalan.
Mutlak mereka yang bernyali, agar keberaniannya tak gampang terkebiri.
Kriminalisasi juga harus selekasnya dihentikan, agar orang-orang bersih bisa terlibat tanpa ketakutan.
Para penyeleksi di DPR juga harus ditekan, agar memilih bukan berdasar sempitnya kepentingan.
Indonesia kini sedang memanggil kembali, putra-putri terbaik yang sudi memberantas korupsi.
Anda tidak boleh diam, orang-orang bersih tidak boleh bungkam.
Rakyat menunggu pendekar KPK berikutnya, agar korupsi tidak terus merajalela, agar harapan tak lekas sirna.

GENERASI PEMBELAJAR
Jika pengajaran adalah transfer pengetahuan, pendidikan harus menumbuhkan kesadaran.
Mengaktifkan pikiran secara merdeka, agar kreatifitas tumbuh dengan leluasa.
Karena pengekangan hanya melahirkan pembungkaman dan kemandirian disalah arti dengan ketundukan.
Generasi pembelajar adalah generasi yang tak saja mendapat pengetahuan namun juga pemahaman.
Generasi ini lebih baik belajar mengerti agar lebih bijak pula memahami.
Menjadi pribadi dengan pikiran penuh keterbukaan, bukan penghafal diktat yang sekedar taat.
Terus belajar dan mencari selagi muda, tidak hanya ikut dengan cuma-cuma dan tanpa bertanya.
Jangan takut salah dan berbuat alpa, sebab dari situ para pembelajar bisa dewasa.
Karena hidup adalah rangkaian tanya demi tanya, dan generasi pembelajar selalu berusaha mencari jawabannya.

SIHIR SELERA IMPOR
Budaya pop melaju tak kenal permisi, larut bersama arus utama globalisasi.
Indonesia punya seperempat miliar manusia, lebih banyak terpengarah geliat dunia.
Warga negara terjebak menjadi konsumen, negara berpuas diri menjadi penguntip.
Padahal senin dan budaya kita tak kalah magis, jangan sampai tenggelam dengan tragis.
Di dalam budaya pop ada kelihaian meracik kemasan, serta keunggulan dalam pemasaran.
Indonesia seharusnya punya tawaran jelas, mengemas khasanah dan adiluhung identitas.
Dua ratus lima puluhan juta warga berhak berbangga, menjadi pemberi daripada hanya penerima.

DARAH MUDA
Indonesia punya tujuh puluh juta anak muda, kekuatan besar yang tak boleh tersia-sia.
Di tengah kecamuk materialisme hidup, generasi muda harus terus berkata sanggup.
Dahulu merdeka dari penjajah, kini dari kebiasaan buruk yang tak mau berubah.
Membangun karya dalam sunyi, dengan ikhlas karena cinta pada negeri.
Kebanggaan profesi bukan karena materi, tapi seberapa banyak bisa mengabdi.
Menilai hidup dari kerja nyata, bukan semata posisi dan harta benda.
Berani muncul melawan arus, mendobrak kepalsuan yang terlanjur serius.
Jika kaum tua mudah lelah dalam kemapanan, anak muda datang menghentak dengan gebrakan.

KERJA KABINET KERJA
Kabinet Kerja pantas dievaluasi, yang buruk mutlak dikritisi yang bagus pantas diapresiasi.
Presiden tak boleh tinggal diam, jika ada program penting yang tenggelam.
Tak boleh ada waktu yang tersita untuk dihabiskan hanya dengan retorika.
Mereka yang bekerja dengan sepenuh hati, jangan takut dengan evaluasi.
Tidak perlu khawatir dengan reshuffle selama bekerja dengan akuntabel.
Penting bekerja gigih siang dan malam, demi rakyat yang tak ingin hidupnya karam.
Tanggalkan saja segala polesan dan urusan citra, tunjukkan keberanian dan kerja-kerja nyata.
Terobosan harus terus dilakukan, tidak melulu sibuk cari perhatian.
Hanya itu satu-satunya cara, agar Nawa Cita tak menjadi sekadar cerita.

HABIBIE DAN SUARA ANAK NEGERI
Proklamasi harusnya tak berhenti sekadar deklarasi, sebab merdeka mestinya bukan alat propaganda.
Indonesia adalah kata kerja, mimpi-mimpi yang harus digubah menjadi nyata.
Tugas demi tugas sudah menunggu di depan mata, kita semua yang harus menuntaskannya.
Tak ada tempat untuk pesimisme, masa depan harus dijemput dengan antusiasme.
Kita adalah anak panah yang harus meluncur, sangat banyak sawah ladang yang mesti dicangkul.
Tanah air adalah petak-petak yang harus diolah, tanah air adalah lautan yang harus dibelah.
Keberanian menjadi panglima/ keseriusan sebagai bendera dan optimisme menjelma sepucuk doa.
Semua harus kita yang mengerjakan, tak ada gunanya mengharap uluran tangan.
Karena nasionalisme bukan slogan mati, tapi pengorbanan kolektif membela visi.

MEREKA YANG PERKASA
Dalam narasi-narasi hidup yang nyata, perempuan menjadi kekuatan tak terbatas.
Mereka aktif mencegah kebodohan, berjuan untuk kelestarian hutan dan alam.
Saat pembangunan meperparah kemiskinan, ada perempuan yang utama menjadi korban.
Seumur hidup membebaskan diri dari sistem patriaki, benteng terakhir perlawanan terhadap globalisasi.
Mereka berada di barisan paling depan, memastikan urusan hidup keluarga.
Tindakan perempuan diilhami hidup sehari-hari, langkahnya panjang sebab tak hanya mengurus diri sendiri.
Katanya kaum bagi urusan-urusan kecil, tapi menjadi agung dan besar karena dipikul hingga akhir.
Tak akan ada pemberdayaan lebih kekal berkelanjutan, tanpa melibatkan perempuan.

MEMBUKA DAPUR KPK
Koruptor seperti pemakan segala, apa yang tersedia dengan rakus dilahapnya.
Tiap kali ada kesempatan koruptor tak akan begitu saja melewatkan.
Dari pegawai rendahan yang berebut recehan hingga atasan yang berbagi jatah milyaran.
Semua berlomba mengeruk harta, semua berkelit dengan lincahnya.
Orang baik pun akan mereka goda dengan perangkap yang tak disangka-sangka.
KPK harus rajin menjemput bola dengan orang-orang baik yang masih tersis.
Mereka harus dijaga dan diajak bekerjasama sebab merekalah partner KPK yang sebenarnya.
Publik harus terus dirangkul dengan keterbukaan yang betul-betul.
Kepercayaan wajib untuk dijaga karena itulah modal yg utama.
Barisan anti korupsi harus dirapatkan tercerai berai bukan suatu pilihan.
Sebab KPK tak bisa sendirian melawan korupsi harus saling bergandengan.

TELISIK TEMPERATUR POLITIK
Enam bulan kekuasaan dijalankan, sudah cukup menyimpan banyak catatan.
Harga yang tinggi, ekonomi dan sektor energi menjadi awal pemicu sangsi.
Komitmen yang labil soal isu korupsi, menggerus rasa percaya begitu dini.
Gaya komunikasi yang kerap tak berisi, membuat kita bertanya apakah para petinggi ini sesungguhnya mengerti?
Pengatur Republik harus percaya diri, menjalankan visi karena mandate telah diberi.
Presiden pemimpin tertinggi negeri, tidak pantas direduksi sebatas petugas partai sendiri.
Rakyat butuh negarawan, kita tidak memilih Presiden partisan.
Karena Presiden yang terhormat, ialah yang berdiri tegak di atas kepentingan rakyat.

BELAJAAR DARI GURU BANGSA TJOCROAMINOTO
Jika sejarah menjadi guru kebijaksanaan, tokoh sejarahlah yang mengkongkritkan keteladanan.
Bukan hanya teladan kesuksesan, tapi juga kegagalan dan pergerakan yang dicetuskan.
Tokoh sejarah memercikkan api inspirasi, hanya jika dipelajari secara rinci.
Sejarah akan menjadi dogma, andai dibaca dengan cara yang biasa.
Riwayat Tjokro amatlah kaya warna, diwarnai sengkarut kuasa dan pertikaian yang tak biasa.
Dari seorang Ratu Adil yang diharapkan, hingga pemimpin partai yang terlibat pertikaian.
Tapi Tjokro jadi simpul yang mempertemukan, berbagai aliran kebangsaan di hari kemudian.
Rumah Tjokro menjadi perguruan, tempat pejuang muda ditempa berbagai pelajaran.
.Di sana pikiran dikembangkan, keberanian dinyalakan perjuangan akhirnya dikobarkan.
Tjokro dan rumahnya menjadi teladan, tentang senioritas yang menghidupkan dan bukan mengkerdilkan.

KALA JADI JK
Pasangan Jokowi-JK adalah realitas politik, bergandengan karena dinilai paling unggul secara statistik.
Presiden Jokowi melambangkan sosok rakyat biasa, Wapres JK memancarkan kerja keras dan jiwa yang terbuka.
Kini saatnya mengurus negara, dukungan persepsi dan statistik saja tidak cukup membangung bangsa.
5 Bulan bersama keduanya kerap tampak beda, perbedaan itu telanjang seperti sengaja dibuka.
Masih terlalu pagi untuk dinilai tidak kompak, tapi berpotensi membuat meja bersama retak.
Perbedaan tak mungkin dihindari, selama dalam kebenaran membangun negeri.
Penting meninggalkan kepentingan pribadi, karena rakyat menanti pembuktian janji.
Waktunya untuk memberi teladan, kekuasaan hanya mulia digunakan untuk pengabdian.

PENGGERAK ASA
Demokrasi bukan hanya penguasa dan birokrasi yang kuat tapi rakyat yang bebas berserikat.
Warga biasa yang sudi terlibat berbuat atas nama solidaritas karena hobi dan minat.
Gerakan mereka membumi dan nyata karena hidup memang sederhana ingar-bingar hanya bunga-bunganya.
Semakin banyak gerakan sosial yang spesifik bukti warga lebih berdaya dari negaranya.
Negara dan penguasa boleh kembang-kempis warga dan bangsa harus selalu eksis.
Di tengah dunia penuh kompetisi buta kita butuh gerakan mendahulukan kerja sama.
Kesediaan warga berbagi apa yang mereka bisa sadar nilai bahagia terletak pada berdaya bersama.
Ketika pikiran elit semakin rumit berebut kuasa tengoklah langkah warga semakin tulus semakin sederhana.

SIDANG RAKYAT
560 wakil rakyat bukan sembarang, mereka dipilih untuk lantang & kencang.
Gajinya 18 kali lipat pendapatan per kapita, nomor 4 teratas gaji DPR sedunia.
Segala fasilitas relatif diberi, tunjangan anak-istri & uang saku ke luar negeri.
Jadi wajar kalau kita punya harapan tinggi.
Anggota parlemen yang betul mengurus publik, bukan humas kepentingan partai politik.
Di tengah terbelahnya poros koalisi, adakah kepentingan rakyat masih dijunjung tinggi?
Kita mau wakil rakyat yang berkinerja hebat, bukan yang hanya jago mengurusi politik sesaat.
Jangan biarkan kita putus asa melihat sistem politik yang tak mengubah apa-apa.
Sudah waktunya politik kembali ke khittahnya, membuat kebijakan publik yang bermutu mengubah hidup warganya.
Kita butuh wakil yang bisa jadi mata, telinga dan rasa, tentang segala perkara yang kerap menghimpit dada.

PEMICU KONTROVERSI
Politik Indonesia semakin mirip pentas pertunjukkan aktor-aktor politik mahir memainkan peran.
Protagonis dan antagonis beradu kemahiran saling berebut jadi pusat perhatian.
Kontroversi menjadi bumbu yang menghidupkan agar pertunjukkan terus laris diperbincangkan.
Seperti pentas yang perlu badut dan punakawan politik pun diramaikan sosok-sosok menggemaskan.
Drama demi drama tak habis-habisnya mengemuka kontroversi demi kontroversi terus menyita tenaga.
Rakyat diajak jadi penonton yang bertepuk tangan yang bayar tiket berupa pajak dan aneka pungutan.
Antara yang serius kerja dan yang sekadar cari nama akhirnya tak jelas lagi batasnya.
Inilah resikonya jika politik dipenuhi drama urusan publik pun menjelma jadi sekadar telenovela.
BARISAN ANTI KORUPSI
Bung Karno pernah bilang ini, berjuang melawan bangsa sendiri, akan sulit sekali.
Yang dilawan di masa penjajahan, jauh lebih tampak terang benderang.
Tapi korupsi sulit diperangi, sebab pelakunya orang kita sendiri.
Koruptor punya segala, dari harta dan kuasa, hingga kaki tangan di mana-mana.
Namun mimpi bebas korupsi tak boleh pudar, dan cita-cita harus terus berpijar.
Yel-yel harus tetap dikumandangkan, keberanian mesti terus diacungkan.
Barisan antikorupsi jangan sampai bungkam, perlawanan tak boleh teredam.
Kita mungkin bukan kumpulan bergenderang-berpalu, tapi barisan ini akan terus melaju.
Koruptor tak akan berpangku tangan, tapi kami tak sudi diam dan terbungkam.
Saatnya kita rapatkan barisan, menolak tunduk pada ancaman dan ketakutan.
Sebab semua demi anak cucu kita, dan perjuangan pun tak akan pernah sia-sia.

BELAJAR DARI GUS DUR
Gus Dur seorang pelintas batas, berbagai sekat ia terabas.
Ia tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori, sebab kiprahnya melintasi berbagai teritori.
Seorang kyai, sekaligus politisi.
Ia penulis, sekaligus aktivis.
Jadi Presiden tak membuatnya terkekang, kekuasaan tak membuat komitmennya berkurang.
Yang minoritas diangkatnya secara terhormat, dilumerkannya berbagai prasangka yang melekat.
Akibatnya Gus Dur sering dihinggapi praduga, padahal dia yang cairkan banyak prasangka.
Tapi dia bisa santai menghadapi tekanan, sebab jabatan baginya bukanlah tujuan.
Sebelum lawan mencemooh dan mengejeknya, Gus Dur lebih dulu menertawakan dirinya.
Humor menjadi jalan pembebasan, dari bujuk rayu kuasa yang menjerumuskan.
Toh hidup hanya menunda kekalahan, santai sajalah dengan kekuasaan.
Dengan itulah Gus Dur jadi amat berbobot, begitu saja kok repot.