Top Ad unit 728 × 90

Perkembangan Seni Drama

Dalam postingan kali ini, akan diuraikan sejarah perkembangan karya sastra berbentuk drama. Seperti kita ketahui bahwa cikal bakal seni drama ditemukan pada dinding piramida Mesir, 3500 Sebelum Masehi. Di situ terlukis, seorang pendeta berdiri di antara para jemaah. Wajahnya bertopeng. Sementara itu, tubuhnya berayun seperti tengah menceritakan sesuatu. Rupanya pendeta Mesir Kuno itu sedang melukiskan keagungan Sang Pencipta Langit dan Bumi. Ia memanfaatkan seni peran dalam menyampaikan ajarannya.

Pertunjukan drama yang lengkap, ditemukan pertama kali di Yunani, tahun 534 SM. Sebagai penghormatan para Dewa Dionisius, bangsa Yunani membuat upacara keagamaan yang berupa seni pertunjukkan. Pemerannya hanya seorang. Sang aktor berakting dan memerankan beberapa karakter sekaligus. Ia didampingi oleh grup paduan suara sekitar 50 orang. Sesekali, sang aktor melakukan dialog dengan mereka. Upacara keagamaan seperti ini lalu merupakan suatu tradisi. Seni drama di Yunani berkembangn pesat. Cerita yang terkenal hingga sekarang, salah satunya, Oedipus.

Pada zaman Romawi, cerita-cerita yang populer adalah cerita-cerita komedi. Mereka biasa mementaskannya di hari-hari libur atau hari besar. Para aktor dan aktrisnya tak lain adalah budak-budak. Para kator bertanggung-jawab pada majikan yang memberikan mereka peran. Tak hanya berakting, mereka juga menyanyi dan menari, menceritakan cerita komedi.
Tahun 1976, aktor dan penulis drama Perancis, Pierre de Beaumarchais menulis Le Mariage de Figaro (Perkawinan Figaro). Drama komedi ini penuh dengan kritik-kritik tajam; mengulas bagaimana kekejaman para bangsawan terhadap rakyatnya. Banyak drama lainnya yang ditentang Raja Louis XVI dan kemudian menjadi picu penggerak Revolusi Perancis (1789 – 1799).
Drama-drama sosial kemudian mulai tumbuh di abad 19. Seni drama tak lagi milik para bangsawan atau golongan menengah atas, melainkan milik rakyat kecil. Cerita yang diceritakan pun  mengacu pada nasib si miskin. Di dalam negeri, seni drama menjadi wadah mengungkapkan kritik pada penguasa. Tak hanya grup drama tradisional dan profesional, namun juga oleh mahasiswa di kampus-kampus.

Seni drama tradisional, khususnya, berkembang hampir di seluruh pelosok daerah dengan beragam variasi dan bentuk. Namanya pun berbeda-beda menurut daerah asal dari seni itu lahir. Di antaranya adalah wayang dan ketoprak dari Jawa Tengah, Lenong dari Jakarta, Randai dari Sumatera Barat, dan lain-lain.

Dram-drama yang berkembang di dunia Barat, yang kemudian disebut drama modern. Drama-drama itu masuk ke Indonesia sekitar tahun 1900 bersamaan dengan masuknya penjajah Portugis dan Belanda. Drama-drama yang dimaksud berupa opera, tambul, dan komedi bangsawan.
Sebelum perang kemerdekaan, munculnya penulis drama romantik yang terkenal, seperti Rustam Effendi, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, dan Armijin Pane. Tulisan Drama yang terkenal pada waktu itu antara lain:
a.    Bebasari karya Rustam Effendi
b.    Ken Arok dan Ken Dedes karya Muhammad Yamin
c.    Airlangga karya Muhammad Yamin
d.    Kertajaya karya Sanusi Pane
e.    Manusia Baru karya Sanusi Pane
f.    Lenggang Kencana karya Armijn Pane

Sesudah perang kemerdekaan, terjadihlah penyederhanaan penulisan drama dalam hal gaya bahasa, pembabakan dan dialog. Muncullah penulis drama yang terkenal pada masa ini seperti Usmar Ismail (yang kemudian dikenal sebagai pelopor perfilman Indonesia), Dr. Abu Hanifah (dengan nama samaran El Hakim), Idrus, Amal hamzah dan Aoh.

Sesudah tahun 1966 perkembangan drama semakin pesat, terutama setelah Dewan Kesenian Jakarta membuat tradisi lomba penulisan drama, sehingga muncul drama radio, drama panggung (teater), drama televisi, dan lain-lain.
Perkembangan Seni Drama Reviewed by frank ucup on 2:57:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.