Tuesday, July 7, 2015

Relasi Makna


Relasi makna merupakan hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa yang dimaksud disini dapat berupa kata, frase, maupun kalimat. Relasi makna dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan makna, ketercakupan makna, kegandaan makna, atau juga kelebihan makna. Bicara tentang relasi makna, biasanya berbicara tentang masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, homonim, hiponim, ambiguiti, dan redundansi.

Relasi Makna

Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata benar dengan kata betul; antara kata hamil dan frase duduk perut; dan antara kalimat Dika menendang bola dengan Bola ditendang Dika.
Relasi sinonim ini bersifat dua arah. Maksudnya, kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B, maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan satuan ujaran A. Secara konkret kalau kata benar bersinonim dengan kata betul, maka kata betul itu pun bersinonim dengan kata benar.
Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena beberapa faktor, sebagai berikut.
Pertama, faktor waktu. Misalnya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, kata hulubalang memiliki pengertian klasik sedangkan kata komandan tidak memiliki pengertian klasik. Dengan kata lain, kata hulubalang hanya cocok digunakan pada konteks yang bersifat klasik, sedangkan kata komandan tidak cocok untuk digunakan pada konteks klasik tersebut. Contoh lain, kata kempa bersinonim dengan kata stempel, namun kata kempa juga hanya cocok untuk digunakan pada konteks klasik.
Kedua, faktor tempat atau wilayah. Misalnya, kata saya dan beta adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kata saya dapat digunakan di mana saja, sedangkan kata beta hanya cocok untuk wilayah Indonesia bagian timur, atau dalam konteks masyarakat yang berasal dari Indonesia bagian timur.
Ketiga, Faktor keformalan. Mislanya, kata uang dan duit adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kata uang dapat digunakan dalam ragam formal dan tak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.
Keempat, faktor sosial. Umpamanya, kata saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonim, tetapi kata saya dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.
Kelima, bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kata matahari bisa digunakan dalam kegiatan apa saja, atau dapat digunakan secara umum; sedangkat kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus. Terutama dalam dunia satra.
Keenam, faktor nuansa makna. Umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dan engintip adalah sejumlah kata yang bersinonim. Namun antara yang satu dengan yang lainnya tidak selalu dapat dipertukarkan, karena masing-masing memiliki nuansa makna yang tidak sama.

Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya, kata buruk berantonim dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup, kata guru berantonim dengan kata murid, dan kata membeli berantonim dengan kata menjual.
Hubungan antara dua satuan ujaran yang berantonim juga bersifat dua arah. Kalau kata membeli berantonim dengan kata menjual, maka kata menjual berantonim dengan kata membeli.
Dilihat dari sifat hubunganya, maka antonim itu dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
Pertama, antonim yang bersifat mutlak. Misalnya kata hidup berantonim dengan kata mati, sebab sesuatu yang masih hidup tentunya belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya sudah tidak hidup lagi.
Kedua, antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Misalnya kata besar dan kecil berantonim secara relatif, juga antara kata jauh dan dekat dan antara kata gelap dan terang. Jenis antonim ini disebut antonim relatif, karena batas antara satu dengan yang lainya tidak dapat ditentukan secara jelas, batas tersebut dapat bergerak menjadi lebih atauh bahkan kurang.
Ketiga, antonim yang bersifat relasional. Misalnya antara kata membeli dan menjual, antara kata suami dan istri, dan antara kata guru dan murid. Antonim jenis ini disebut relasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain. Adanya membeli karena adanya menjual. Begitu pula dengan contoh-contoh yang lain.
Keempat, antonim yang bersifat hierarkial. Misalnya kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial, juga antara kata gram dan kilogram. Antonim ini disebut antonim hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hieraki.

Polisemi
Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Misalnya kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) Bagian tubuh manusia. Contoh “Kepalanya luka kena pecahan kaca.” (2) ketua atau pimpinan. Contoh “Kepala kantor itu sedang memimpin rapat.” (3) Sesuatu yang berada disebelah atas. Contoh “Kepala surat biasanya berisi nama dan alamat kantor.” (4) Sesuatu yang berbentuk bulat. Contoh “Kepala jarum itu terbuat dari plastik.” (5) Sesuatu atau bagian yang sangat penting. Contoh “Yang duduk di kepala meja itu tentu sangat penting.”

Homonim
Homonim adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang berbentuk “kebetulan” sama, maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna “inai” dan kata pacar yang bermakna “kekasih”, antara kata bisa yang bermakna “racun ular” dan kata bisa yang bermakna “sanggup”.

Homofon
Yang dimaksud dengan homofon adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaanya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda. Oleh karena itu, homofon biasanya ditandai dengan pelafalan yang sama, akan tetapi bentuk tulisan dan maknya berbeda. Misalnya kata bang yang berarti ‘kakak laki’ (singkatan dari kata abang) dan kata bank  yang berarti ‘lembaga keuangan.’ Contoh lainya, kata sanksi yang berati ‘konsekuensi’ dan kata sangsi yang berati ‘keraguan’.

Homograf
Yang dimaksud dengan homograf  adalah bentuk ujarannya sama (tulisan ortografinya), tetapi pelafalan dan maknya berbeda atau tidak sama. Mislanya kata apel yang berarti ‘buah apel’ dan kata apel yang berarti ‘perkumpulan’.

Hiponim
Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Mislanya antara kata merpati dan kata burung. Di sini kita lihat makna kata merpati adalah burung, tetapi burung bukan hanya merpati,  bisa juga perkutut, ataupun cendrawasih. Oleh karena itu, hiponim itu memiliki sifat yang lebih umum, dalam hal ini kata burung merupakan hiponim. Sedangkan kata merpati merupakan hipernim karena sifatnya lebih khusus.

Ambiguiti atau Ketaksaan
Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulisan, karena dalam bahasa tulisan unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Kemungkinan makna (1) dan (2) ini terjadi karena kata baru yang ada dalam kontruksi kalimat tersebut.

Redundansi
Istilah redundansi biasnaya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya kalimat Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika. Jadi, tanpa menggunakan preposisi oleh. Nah, penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan.

0 komentar:

Post a Comment