Top Ad unit 728 × 90

Perubahan Makna

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemugnkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Pertama, Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi. Adanya perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau C. Misalnya, kata sastra pada mulanya bermakna ‘tulisan, huruf’ lalu berubah menjadi bermakna ‘bacaan’, kemudian berubah lagi menjadi bermakna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’. Selanjutnya berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imajinatif dan kreatif.’
Kedua, perkembangan sosial budaya. Perkembangan dalam masyarakat berkenaan dengan sikap sosial dan budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahan makna. Kata saudara mislanya, pada awalnya berarti ‘seperut’ atau ‘orang yang lahir dari kandungan yang sama’, tetapi kini kata saudara digunakan juga untuk menyebutkan orang lain, sebagai kata sapaan, yang diperkirakan sederajat, baik usia maupun kedudukan sosial.
Ketiga, perkembangan pemakaian kata. Setiap bidang kegiatan atau keilmuan biasnaya mempunyai sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidanya itu. Mislanya dalam bidang pertanian kita temukan kosalkata seperti menggarap, menuai, pupuk, hama, dan panen. Kosakata yang pada mulanya hanya digunakan dalam bidang-bidangnya itu dalam perkembangan kemudian digunakan juga dlam bidang-bidang lain, dengan makna yang baru atau agak lain dengan makna aslinya, yang digunakan dalam bidangnya. Misalnya, kata menggarap dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna ‘mengerjakan atau membuat.’ Contoh : menggarap skripsi, menggarap rancangan undang-undang.
Keempat, pertukaran tanggapan indra. Kelima alat indra kita mempunyai fungsinya masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Mislanya, rasa getir, panas, dan asin ditangkap dengan alat indra perasa, yaitu lidah. Gejala yang berkenaan dengan bunyi ditangkap oleh indra bernama telinga. Namun, dalam perkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukaran pemakaian alat indra untuk menangkap gejala yang terjadi di sekitar manusia itu. Misalnya, rasa pedas yang seharusnya ditangkap oleh indra perasa lidah menjadi ditangkap oleh pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas. Perubahan tanggapan indra ini disebut dengan istilah sinestesia.
Kelima, adanya asosiasi. Yang dimaksud dengan adanya asosiasi di sini adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu, sehingga dengan demikian bila disebut ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu. Misalnya, kata amplop. Makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’, tetapi dalam kalimat “Supaya urusan cepat beres, beri saja amplop.” Kata amplop bermakna ‘uang sogok.’

Perubahan Makna Reviewed by frank ucup on 4:28:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.