Top Ad unit 728 × 90

ALIRAN BEHAVIORISME (Tingkah laku)


1.    ALIRAN BEHAVIORISME (Tingkah laku)
          Menurut teori tingkah laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau lebih tepat perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Meskipun semua penganut aliran ini setuju dengan premis dasar ini, namun mereka berbeda dalam beberapa hal penting.Tokoh-tokohnya antara lain :
a.       Edward L. Thorndike
           Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan melalui lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Edward L. Thordike (1874-1949) pertama kalinya tentang kecerdasan hewan (Animal Intelijent ) pada 1898.
           Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
b.      Robert M. Gagne
           Lahir pada 21 Agustus 1918.Teori belajar Hierarki Gagne didasarkan pada pembelajaran yang merupakan faktor sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Hal ini memunculkan pemikiran Gagne bahwa pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons yang diharapkan.
Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
1. Belajar isyarat (signal learning)
2. Belajar stimulus respon
3. Belajar merantaikan (chaining)
4. Belajar asosiasi verbal (verbal Association)
5. Belajar membedakan (discrimination)
6. Belajar konsep (concept learning)
7. Belajar dalil (rule learning)
8. Belajar memecahkan masalah (problem solving)
c.       B.F. Skinner
           B.F. Skinner (104-1990) berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise).
           Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat.
           Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.
Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain:
1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
7. Dalam pembelajaran, digunakan shaping.


d.      Ivan Petrovich Pavlov
           Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryyaza, Rusia.Ia Mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapat pengulangan respon yang diinginkan,sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinyaPavlo melakukan percobaan terhadap anjing yang diberi stimulis bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing.Dari hasil percobaan,sinyal (pertanda)sangat penting dalam adaptasi hewan terhadap sekitarnya.
           Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi kerena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan.Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
e.       David Ausubel
           Lahir pada 25 Oktober 1918 di Brooklyn New York.Belajar menurut Ausubel adalah proses internal yang tidak dapat diamatisecara langsung. Perubahan terjadi dalam kemampuan seseorang untuk bertingkahlaku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan dalam tingkah laku hanyalahsuatu reflek dari perubahan internal (berbeda dengan aliran behaviorisme, alirankognitif mempelajari aspek-aspek yang tidak dapat diamati secara langsungseperti, pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreativitas, harapan dan pikiran).
           Belajar bermakna menurut Ausubel merupakan suatu proses dikaitkannya informasi barupada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorangfaktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telahdiketahui siswa.Pandangan Ausubel agak berlawanan dengan Burner yang beranggapanbahwa belajar dengan menemukan sendiri (discovery learning) adalah sesuaidengan hakikat manusia sebagai seorang yang mencari-cari secara aktif danmenghasilkan pengetahuan serta pemahaman yang sungguh-sungguh bermakna Sedang menurut Ausubel kebanyakan orang belajar terutama dengan menerimadari orang lain (reception learning).
           Kedua pandangan tersebut sangat mirip yakni sebuah konstruksipengetahuan baru yang sesungguhnya bergantung pada sistem pembelajaran yangbermakna. Hanya saja discovery learning Burner menonjolkan corak berpikirinduktif sedangkan reception learning Ausubel menonjolkan corak berpikirdeduktif. Sebagai konsekuensinya, Ausubel mencanangkan mengajar yangdisebutkan “mengajar dengan menguraikan” (expository teaching).Psikologi pendidikan yang diterapkan oleh Ausubel adalah bekerja untuk mencari hukum belajar yang bermakna.
f.       Baruda
           Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun dengan menggunakan hahasa yang baik dan benar, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematik, maka siswa akan menirunya. Jika contoh-contoh yang dilihatnya kurang baik ia pun menirunya. Dengan demikian guru harus menjadi manusia model yang profesional. Teori social learning (belajar sosial), anak belajar dari meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain. Dengan demikian, lingkungan adalah faktor penting yang mempengaruhi perilaku, meskipun proses kognitif juga tidak kalah pentingnya manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan polanya sendiri

2.         ALIRAN KONTRUKTIVISME
a.      Jean Piaget
         Jaen Piaget lahir di Neuchâtel, Swiss, 9 Agustus 1896 – meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun) adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak danteori perkembangan kognitifnya. Menurut Ernst von Glasersfeld, Jean Piaget adalah juga "perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan". Karya Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif.
         Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme, teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Menurut Piaget setiap organisme harus dapat beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat bertahan hidup. Analog dengan hal tersebut manusia (siswa) pada kenyataanya berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secara kognitif. Maka siswa harus mengembangkan skema pemikiran yang lebih umum atau rinci atau perlu perubahan, menjawab, menginterpretasikan pengalaman tersebut. Dengan cara ini pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang.   Konstruktivisme menekankan perkembangan dan konsep dan pengertian yang lebih mandalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Pengetahuan berguna jika pengetahuan tersebut mampu memecahkan persoalan yang ada. Pengetahuan merupakan proses yang terus berkembang.
         Adapun Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa kecakapan kognitif atau intelektual anak dan orang dewasa mengalami kemajuan melalui empat tahap (dalam Hudojo, 2003), yaitu sensori-motor (lahir sampai 2 tahun); pra-operasional (2 sampai 7 tahun): operasi konkret (7 sampai 11 atau 12 tahun), dan operasi formal (lebih dari 11 atau 12 tahun). Dalam pandangan Piaget pengetahuan didapat dari pengalaman, dan perkembangan mental siswa bergantung pada keaktifannya berinteraksi dengan lingkungan (Slavin, 2000)

b.      Jarome S. Brunner
Bruner yang memiliki nama lengkap Jerome S.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan  agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir.
Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar, atau memperoleh pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan. Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.
Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang perkembangan intelektual anak.Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:
1.         Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
  Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
2.         Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
  Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual.
3.         Tahap evaluasi
  Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi.
        J. S. Bruner dalam belajar matematika menekankan pendekatan dengan bentuk spiral. Pendekatan spiral dalam belajar mengajar matematika adalah menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkrit secara intuitif, kemudian pada tahap-tahap yang lebih tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa) konsep ini diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika. Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara intuitif  keanalisis dari eksplorasi kepenguasaan.
c.    Gestalt
               Aktivasi cabang olahraga harus dilakukan secara keseluruhan,bukan sebagai pelaksanaan gerak secara terpisah-pisah.Karena itu guru atau pelatih harus menanamkan pengertian agar siswa atau atlet sadar akan keseluruhan kegiatan. Dengan kata lain,pemecahan keseluruhan aktivitas menjadi bagian-bagian yang terpisah akan menyebabkan siswa tidak mampu mengaitkan bagian-bagian tersebut.Karena itu keuntungan utama dari keseluruahn permaianan yaitu menuntut siswa untuk mempersatukan bagian menjadi sebuah unit yang terpadu.
               Kelebihan dan kekurangan teori Gestal Kelebihan teori ini lebih melihat manusia sebagai seorang individu yang memiliki keunikan, dimana mereka harus berhubungan dengan lingkungan yang ada disekitar mereka. Dengan teori Gestalt yang lebih menekankan akan pentingnya pengertian dalam mempelajari sesuatu, maka akan lebih berhasil dalam mencapai kematangan dalam proses belajar.Teori ini juga memiliki kelemeahan, karena menurut Gestalt sesuatu yang dipelajari dimulai dari keseluruhan, maka dikawatirkan akan menimbulkan kesulitan dalam proses belajar, sebab beban yang harus ditanggung sangatlah banyak.
d.      William Brownell
         Teori belajar William Brownell didasarkan atas keyakinan bahwa anak-anak memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau secara terus menerus untuk waktu tang lama. Salah satu cara bagi anak-anak untuk mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan menggunakan benda-benda tertentu  ketika mereka mempelajari konsep matematika.       Sebagai contoh, pada anak-anak baru pertama kali di perkenelkan dengan konsep membilang, mereka akan lebih mudah memahami konsep itu jika mereka menggunakan benda kongkrit yang mereka kenal ;seperti mangga, kelereng,bola atau sedotan. Dengan kata lain,teori belajar William brownel ini mendukung penggunaan benda-benda kongret untuk dimanipulasikan sehingga anak-anak dapat memahami makna dari konsep dan keterampilan baru yang mereka pelajari. Teori belajar William Brownell ini dikenal dengan nama meaning theory.

e.        Zalton P. Dienes
       Zalton P. Dienes meyakini bahwa dengan menggunakan berbagai sajian (representasi)tentang suatu konsep matematika, anak-anak akan dapat memahami secara penuh konsep tersebut jika di bandingkan dengan hanya menggunakan satu macam sajian saja. Sebagai contoh, jika guru ingin mengajarkan konsep persegi, maka guru disarankan untuk menyajikan beberapa gambar persegi dengan ukuran sisi berlainan. Contoh lain, pada sat guru akan mengenalkan konsep bilangan tiga kepada siswa, guru disarankan menggunakan tiga mangga, tiga kelereng, tiga bola, tiga pensil, dan tiga benda kongkret lain.

f.       Van Hiele
         Suatu karakteristik tahap berpikir Van Hiele adalah bahwa kecepatan untuk berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya lebih banyak dipengaruhi oleh aktifitas dalam pembelajaran. Dengan demikian, pengorganisasian pembelajaran, isi, dan materi merupakan faktor penting dalam pembelajaran, selain guru juga memegang peran penting dalam mendorong kecepatan berpikir siswa melalui suatu tahapan. Tahap berpikir yang lebih tinggi hanya dapat dicapai melalui latihan-latihan yang tepat bukan melalui ceramah semata. Dalam perkembangan berpikir, van Hiele (dalam Clements dan Battista, 1992:436) menekankan pada peran siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara aktif. Siswa tidak akan berhasil jika hanya belajar dengan menghapal fakta-fakta, nama-nama atau aturan-aturan, melainkan siswa harus menentukan sendiri hubungan-hubungan saling Keterkaitan antara konsep-konsep geometri daripada proses-proses geometri.
g.      Dubinsky (APOS)
         Teori APOSTeori kita ini dimulai dengan hipotesis bahwa pengetahuan matematika terdiri dalam individu kecenderungan untuk berurusan dengan situasi yang dirasakan masalah matematika denganmembangun mental yangtindakan, proses, dan benda-benda dan mengorganisir mereka dalam skema untuk memahami situasi dan memecahkan masalah. Dalam referensi untuk konstruksi-konstruksi mental yang kita sebut Teori APOS
h.      Vygotsky (ZPDI)
         Vygotsky mengemukakan bahwa jalan pikiran siswa harus dimengerti dari latar sosial budaya dan sejarahnya. Menurut Vygotsky (1978:134) perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang sesuai dengan teori sosiogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat turunan (derivative) atau merupakan turunan yang bersifat sekunder, artinya pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber­sumber sosial di luar dirinya. Berarti siswa harus bersikap aktif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya.
Vygotsky mengemukakan konsepnya tentang zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Menurutnya, perkembangan siswa dapat dibedakan kedalam dua tingkatan, yaitu tingkatan perkembangan aktual dan tingkatan perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan siswa untuk menyelesaikan tugas­tugas dan memecahkan berbagai masalah secara mandiri (kemampuan intramental). Sedangkan tingkat perkembangan potensial
tampak dari kemampuan siswa untuk menyelesaikan tugas­tugas dan memecahkan masalah ketika siswa dibimbing, atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten (kemampuan intermental)..
        Konsep­konsep kunci yang dicatat Vygotsky adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan dan belajar bersifat context dependent atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai bentuk fundamental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan social.
ALIRAN BEHAVIORISME (Tingkah laku) Reviewed by frank ucup on 10:25:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.