Wednesday, March 27, 2013

Pagerank Status: SEO Tools Ringan & Lengkap untuk Chrome






Tidak ada pekerjaan rutin seorang Blogger yang memiliki porsi sama besar dengan menulis konten; kecuali satu hal: mengecek kondisi dan perkembangan blog; baik dari Segi SEO, traffic, aktivitas social media, dan bahkan pendapatan. Seberapa jauh perkembangan traffic blog menurut Alexa? Bagaimana keadaan pengunjung blog saya? Apakah optimasi SEO yang saya lakukan sudah tepat? dan masih banyak

Wednesday, March 20, 2013

USULAN JUDUL SKRIPSI DAN DOSEN PEMBIMBING



USULAN JUDUL SKRIPSI DAN DOSEN PEMBIMBING

1.    a.  Judul Penelitian                 :Peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan metode kolaborasi pada siswa kelas VI SMP Negeri 28 Purworejo tahun ajaran 2012/2013
b.  Bidang Penelitian              : Pendidikan
2.    Peneliti                                   :
a.     Nama                               : Panji Pradana
b.    NIM                                : 0921100144
c.     Program Studi                 : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
d.    Fakultas                           : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
3.    Pembimbing I:
a.      Nama                               : Drs. Bagiya, M. Hum.
b.      NIP                                  : 19640208 1990031002
c.      Fakultas                           : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
4.    Pembimbing II:
a.      Nama                               : Umi Faizah, M.Pd.
b.      NIP/NBM                       : 1056645
c.      Fakultas                           : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
5.    Lokasi Penelitian                    : SMP Negeri 28 Purworejo
6.    Lama Penelitian                      :
                                            Purworejo, 7 Maret 2013
                   Menyetujui,
                  Pembimbing I,                               Pembimbing II,                       Peneliti,



Drs. Bagiya, M. Hum.                                     Umi Faizah, M.Pd.              Harisun
NIP 19640208 1990031002                           NBM 1056645                   NIM 092110097


Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia




Drs. Bagiya, M. Hum.
NIP 19640208 1990031002

SURAT PERNYATAAN BEASISWA



SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini,
saya;
                        Nama               : Ika Dwi Saputra
                        NIM                : 112144188
                        Program Studi : FKIP
                        Fakultas           : Matematika
                                                Universitas Muhammadiyah Purworejo

Dengan ini menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa pada saat ini saya tidak sedang atau belum pernah  memperoleh beasiswa  dari pihak/sumber manapun.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

                                                                                                Purworejo,………….Maret 2013

                                                                                                                                                                                                                                                                    (Ika Dwi Saputra)
                                                                                                Tanda tangan & nama terang

Wednesday, March 13, 2013

Widget Random Posts untuk Blogger dan Cara Memasangnya






Random posts widget atau widget daftar artikel acak adalah widget blog yang dulu (sekitar 2 tahun yang lalu) cukup trending di kalangan blogger, baik untuk pengguna Blogger maupun WordPress. Meskipun kini jarang digunakan, tapi menurut saya widget ini merupakan alat yang cukup memiliki value dalam memperkaya navigasi blog; terutama dalam memberikan tawaran bagi pengunjung ketika melakukan

Tuesday, March 5, 2013

usulan penelitian



JUDUL :
UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI BARU MENGGUNAKAN METODE KOLABORASI PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

A.    Latar Belakang Masalah
Keterampilan berbahasa memiliki empat komponen, yakni keterampilan menyimak (listening skill), keterampilan berbicara (speaking skill), Keterampilan membaca (reading skill), dan keterampilan menulis (writing skill). (Tarigan, 1994: 2). Setiap keterampilan itu berhubungan erat dengan cara yang beraneka ragam. Keempat keterampilan itu pada dasarnya merupakan satu kesatuan, yakni catur tunggal. Setiap keterampilan itu erat pula hubungannya dengan proses-proses-proses yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir (Tarigan, 1994: 2). Dalam konteks alami, fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa Indonesia lebih banyak melatih peserta didik terampil berbahasa.
Salah satu keterampilan berbahasa yang dikembangkan adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan, 1994: 3).
Pembelajaran menulis di kelas X SMA terdiri atas delapan standar kompetensi yang dijabarkan dalam 15 kompetensi dasar. Dalam pembelajaran di kelas, setiap satu pertemuan bertitik pada satu kompetensi dasar. Berkaitan dengan tulisan ini, kompetensi dasar yang dipilih adalah menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima.
Sebagian orang mungkin menganggap menulis itu mudah karena mereka menganggap bahasa tulisan identik dengan bahasa lisan. Tentu saja hal itu tidak sesederhana dan semudah membalikkan telapak tangan. Menulis tidak hanya menuangkan kata-kata atau ucapan belaka. Artinya, tulisan tidak sama dengan ujaran. Tulisan melibatkan kerja keras (A. Chaedar Alwasiah, Senny Suzanna Alwasiah, 2005: 42).
Apakah menulis itu memerlukan bakat? Berbahagialah anda yang merasa tidak mempunyai bakat dalam menulis karena menurut sebagian ahli, bakat bukanlah syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis. Keterampilan menulis diawali oleh minat, kreatifitas, sebilangan latihan, dan penalaran yang tajam akan fenomena sosial yang ada, dan tidak kalah pentingnya adalah kebiasaan membaca sebagai sumber bacaan (A. Chaedar Alwasiah, Senny Suzanna Alwasiah, 2005: 43).
Kemampuan menulis bisa dikembangkan lewat latihan. Latihan ini bisa dikembangkan di bangku sekolah pada siswa tingkat SMA terutama kelas X, namun untuk mengajarkan keterampilan menulis tidaklah mudah, perlu strategi yang jitu untuk mencapai keberhasilan dalam pengajarannya. Dengan latihan yang intensif, siswa berlatih dan selalu berlatih dan tanpa mereka sadari mereka telah memiliki kemampuan menulis.
Keterampilan menulis memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dibandingkan dengan keempat keterampilan berbahasa lainnya. Hal itu terbukti dengan adanya kenyataan bahwa banyak ulama di Indonesia yang memiliki ribuan santri. Ketika wafat mereka meninggalkan masjid dan madrasah yang megah, dan ribuan jilid kitab kuning. Sedikit sekali yang meninggalkan karya tulis mereka sendiri. Ini, membuktikan bahwa memahami teks dan menyampaikannya secara lisan relatif lebih mudah daripada mengungkapkannya dalam sebentuk tulisan. Hal yang sama berlaku juga di SMA terutama pada siswa SMA kelas X yang kurang menyukai kegiatan menulis. Siswa tidak akan menjadi penulis yang baik jika hanya diberondongi dengan teori menulis saja. Guru yang tidak mempunyai kemampuan menulis cenderung mengajarkan teori kepada peserta didik karena menjejalkan teori lebih mudah daripada latihan-latihan menulis. Padahal teori bisa diajarkan secara induktif, yakni siswa menemukan sendiri teori itu dari proses latihan. Guru yang mengajar menulis sebaiknya seorang penulis supaya ia memiliki empati terhadap peserta didik dan menghargai profesionalisme penulis karena ia sendiri merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang penulis.
Dalam PP No. 19/2005 Pasal 19, disebutkan proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselelenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian seuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Depdiknas, 2009: 2).
Kompetensi dasar yang harus dicapai siswa mengenai materi menulis puisi baru adalah mampu menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima. Menurut silabus kelas X SMA Tahun Pelajaran 2012-2013, indikator pencapaian kompetensi menulis puisi baru antara lain, (1) siswa mampu mengidentifikasi puisi baru berdasarkan bait, irama, dan rima, (2) siswa mampu menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima, (3) siswa mampu menyunting puisi baru yang dibuat teman. Hal itu tentu saja tidak mudah dilakukan oleh siswa kelas X SMA.
Upaya peningkatan keterampilan menulis puisi baru melalui model  kolaborasi pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru. Dengan model ini, peserta didik dapat bertegur sapa dan berbagi ilmu pengetahuan tentang menulis puisi baru kepada teman sejawatnya dan kepada guru. Siswa juga dapat mengembangkan potensi dan kesenangannya yang dituangkan dalam bentuk puisi baru, selain itu peserta didik dapat saling memberi saran dan kritikan terhadap karya yang dibuat oleh teman.
Peneliti memilih model  kolaborasi karena model ini diasumsikan dapat mengatasi permasalahan siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru.
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu diadakan penelitian tentang “Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Baru Menggunakan Metode Kolaborasi Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013”. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 4 Purworejo dengan pertimbangan (1) guru mata pelajaran mengizinkan untuk siswanya diteliti dan berkolaborasi untuk mengadakan perbaikan pembelajaran, (2) Siswa kelas X masih kurang terampil dalam menulis puisi baru.
B.     Penegasan Istilah
Peneliti akan memberikan penegasan pada beberapa istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini agar tidak terjadi kesalahan penafsiran judul. Istilah yang perlu ditegaskan akan dipaparkan di bawah ini.
1.    Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas (Tim Penyusun KBBI, 2008: 1447).
2.    Menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain (Tarigan,1994: 3).
3.    Puisi baru adalah puisi karya penyair Indonesia setelah adanya pengaruh atau persentuhan dengan kesusastraan Barat, terutama Belanda (Haryanta Agus, dan Suryanto Alex, 2007: 53).
4.    Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (Depdiknas, 2008: 910).
5.    Kolaborasi adalah suatu teknik pengajaran menulis dengan melibatkan teman sejawat untuk saling mengoreksi (A. Chaedar Alwasiah, Senny Suzanna Alwasiah, 2005: 21).
Berdasarkan penegasan istilah di atas, upaya peningkatan kemampuan menulis puisi baru adalah usaha yang dilakukan untuk mendapatkan perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya dalam hal menulis puisi baru. Upaya tersebut dilakukan melalui pembelajaran dengan menggunakan metode kolaborasi.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini dipaparkan sebagai berikut.
1.    Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar menulis puisi baru siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo setelah mengikuti pembelajaran melalui metode kolaborasi?
2.    Bagaimanakah perubahan motivasi menulis puisi baru siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo melalui metode  kolaborasi?

D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut.
a.    Mendeskripsikan prestasi belajar menulis puisi baru peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Purworejo setelah mengikuti pembelajaran melalui metode kolaborasi.
b.    Mendeskripsikan motivasi menulis puisi baru peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Purworejo melalui metode  kolaborasi.

E.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai kegunaan, baik secara teoretis maupun praktis.

a.      Kegunaan Teoretis
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah khasanah pengembangan pengetahuan keterampilan menulis puisi baru serta memberikan alternatif dalam pemilihan teknik pembelajaran menulis. Metodekolaborasi dapat dijadikan salah satu solusi efektif dalam upaya mengatasi kesulitan menulis puisi baru. Selain itu, kegunaan penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori pembelajaran menulis puisi baru melalui model kolaborasi.
b.      Kegunaan Praktis
1.    Kegunaan bagi mahasiswa
Penelitian ini memiliki kegunaan praktis bagi mahasiswa, yakni memperkaya wawasan mahasiswa tentang penggunaan metode  kolaborasi. Selain itu, mahasiswa juga dapat berlatih sebagai peneliti.
2.    Kegunaan bagi peserta didik
Selain mahasiswa, penelitian ini juga memiliki kegunaan praktis bagi siswa selaku objek penelitian, antara lain (1)  membantu menumbuhkan minat siswa untuk menulis, (2) memberikan variasi pembelajaran kepada mereka, (3) mengenalkan metode kolaborasi kepada siswa.
3.    Kegunaan bagi guru
Penelitian ini juga memilki kegunaan praktis bagi guru, yakni membantu guru mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi dan inovatif. Selain itu, dapat juga menambah wawasan guru tentang pembelajaran menulis puisi baru melalui metode kolaborasi.
4.    Kegunaan bagi satuan pendidikan
Kegunaan penelitian ini bagi satuan pendidikan adalah adanya peningkatan pembelajaran keterampilan berbahasa, terutama keterampilan menulis.

F.     Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai keterampilan berbahasa khususnya keterampilan menulis sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Dari penelitian tersebut banyak dihasilkan manfaat yang dapat menunjang proses pembelajaran menulis khususnya menulis puisi baru yang dahulu kurang efektif sekarang menjadi lebih baik. Dalam hal ini, peneliti mengkaji hasil penelitian Henri Sussantria (2012) dan Widowati (2007).
Henri mengkaji “Pembelajaran Menulis Puisi di SMA dengan Media Video Lagu”. Media pembelajaran video lagu adalah rekaman gambar hidup yang terekam bersamaan dengan nyanyian dan musik yang digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik, 1989: 12). Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa pembelajaran menulis puisi dengan media video lagu dapat memunculkan kreatifitas peserta didik untuk menulis puisi atas apa yang telah disimaknya.
Ada persamaan dan perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Henri dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Persamaannya, yakni sama-sama meneliti tentang pembelajaran menulis puisi di SMA. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian yang dilakukan oleh Henri, yaitu penulis meneliti menggunakan metode kolaborasi sedangkan Henri menggunakan media video lagu. Metode kolaborasi tergolong metode baru dibandingkan dengan metode media video lagu.
Penelitian Widowati berjudul “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Teknik Pengamatan Objek Langsung Pada Siswa Kelas X MA  Al Asror Patemon Gunungpati Semarang Tahun Pelajaran 2006-2007”. Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa pembelajaran menulis puisi dengan teknik pengamatan objek langsung dapat meningkatkan kualitas hasil menulis puisi siswa kelas X MA  Al Asror Patemon Gunungpati Semarang.
Ada persamaan dan perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Widowati dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Persamaannya, yakni sama-sama meneliti tentang pembelajaran menulis puisi di SMA kelas X. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian yang dilakukan oleh Widowati, yaitu penulis meneliti menggunakan metode kolaborasi sedangkan Widowati menggunakan teknik pengamatan objek langsung. Selain itu, Widowati telah melakukan penelitiannya di MA  Al Asror Patemon Gunungpati Semarang, sedangkan penulis melakukan penelitian di SMA Negeri 4 Purworejo.

G.    Kajian Teoretis
Kajian teoretis ini menjelaskan tentang hakikat menulis, menulis puisi, metode kolaborasi, dan pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi.
1.      Hakikat Menulis
Menurut Tarigan (1994: 3-4), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang terus menerus.
Berkait dengan itu, Suriamiharja, dkk. (1996: 1-2) mengungkapkan, menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Menulis juga dapat diartikan berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis.
Adapun Alwasilah (1997: 43) mengungkapkan, bahwa menulis adalah sebuah kemampuan, kemahiran, kepiawaian seseorang dalam menyampaikan gagasannya ke dalam sebuah wacana yang dapat diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara intelektual maupun sosial.
Menurut Lado, menulis adalah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol-simbol grafisnya (Ahmadi, 1990: 28).
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan menulis merupakan kegiatan menuangkan ide atau gagasan dengan menggunakan kemampuan, kemahiran, kepiawaian dan bahasa yang mudah diterima pembaca untuk diungkapkan secara tertulis. Menulis juga merupakan kegiatan yang ekspresif dan produktif. Oleh karena itu, keterampilan harus dilatih secara intensif disertai dengan praktik yang teratur agar keterampilan menulis dapat dicapai dengan baik.
a.      Tahap-Tahap Menulis
Menulis merupakan serangkaian aktifitas yang terjadi dan melibatkan beberapa tahap, yaitu tahap pra penulisan (persiapan), tahap penulisan (pengembangan isi karangan), dan tahap pasca penulisan (telaah dan revisi penyempurnaan tulisan) (Suparno, 2008: 1.14).
1)      Tahap Pra Penulisan
Tahap ini merupakan fase persiapan menulis, seperti halnya pemanasan bagi orang yang sedang berolahraga. Sebenarnya, hampir semua orang mengalami fase ini dalam mengarang. Untuk menulis yang sederhana, keberadaan fase ini tidak terasa, tetapi ketika menulis sesuatu yang relatif kompleks dan serius, fase persiapan ini terasa dan perlu (Suparno, 2008: 1.15).
Umumnya penulis, terlebih penulis pemula seperti siswa kelas X SMA belum memiliki pengetahuan atau ide yang benar-benar lengkap, siap, dan tersusun secara sistematika mengenai topik yang akan ditulisnya. Penulis perlu mencari tambahan informasi, memilih dan mengolahnya, serta mensistematikannya agar hasil tulisannya tajam, tidak dangkal, kaya, tidak kering, teratur, dan enak dibaca (Suparno, 2008: 1.16).
Pada fase penulisan ini, terdapat aktifitas memilih topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagan.  Penulis pemula perlu dihargai agar ia produktif menulis. Sepantasnya, guru memberi pujian, ucapan selamat, atau bahkan hadiah atas karyanya itu.
a)      Menentukan topik
Topik adalah pokok persoalan atau permasalahan yang menjiwai seluruh karangan. Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk mencari topik, misalnya “Saya mau menulis apa?”, “Apa yang akan saya tulis?”, “Tulisan saya berbicara tentang apa?”. Penulis pemula seperti siswa kelas X SMA sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan topik yang pas. Masalah yang sering muncul dalam memilih atau menentukan topik diantaranya sebagai berikut.
1)      Terlalu banyak topik yang dipilih, semua topik menarik dan cukup dikenali. Untuk mengatasi hal itu, hendaknya memilih topik yang sesuai dengan maksud dan tujuan menulis. Sebaliknya, banyak topik pilihan dan semua topik menarik, tetapi pengetahuan tentang topik-topik itu sedikit. Untuk mengatasinya, hendaknya memilih topik yang paling dikuasai, paling mudah dicari informasi pendukungnya, serta paling sesuai dengan tujuan seseorang menulis.
2)      Tidak memiliki ide sama sekali tentang topik yang menarik hati penulis. Sebenarnya, kasus seperti ini jarang terjadi karena jika seseorang ingin menulis lazimnya telah memiliki ide tentang tulisannya. Persoalannya, wawasan topik itu terlalu umum atau terlalu sempit sehingga kesulitan mencari arah atau fokus dari ide tersebut. Untuk mengatasi hal itu, penulis dapat berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca referensi, dan melakukan refleksi atau pengamatan.
3)      Terlalu ambisius sehingga jangkauan topik yang dipilih terlalu luas. Kasus ini kerap menghinggapi penulis pemula. Begitu banyak hal yang ingin dicakup, dan dikupas dalam tulisannya, sedangkan waktu, pengetahuan, dan referensi yang dimilikinya sangat terbatas. Di sini, penulis dituntut untuk pandai mengendalikan diri, jika tidak maka yang dihasilkannya akan cenderung dangkal (Suparno, 2008: 1.17).
Topik merupakan persoalan yang menjiwai isi karangan, yang mempertautkan seluruh bagian atau ide karangan yang menjadi satu keutuhan. Tanpa topik yang jelas maka isi karangan  pun akan kabur fokusnya.
b)     Mempertimbangkan maksud atau tujuan penulisan
Setelah mendapatkan topik yang baik, langkah selanjutnya adalah menentukan maksud dan tujuan penulisan. Untuk membantu merumuskan tujuan, penulis dapat bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa saya menulis karangan dengan topik ini?”, “Dalam rangka apa saya menulis topik ini?” (Suparno, 2008: 1.18).
Tujuan dalam konteks ini adalah tujuan mengarang, seperti menghibur, memberitahu atau menginformasikan, mengklarifikasi atau membuktikan, membujuk dan lain sebagainya. Tujuan penulisan ini perlu diperhatikan selama penulisan berlangsung agar misi karangan tersampaikan dengan baik karena tujuan akan mempengaruhi corak (genre) dan bentuk karangan, gaya penyampaian, serta tingkat kerincian isi karangan (Suparno, 2008: 1.18).
c)      Memperhatikan sasaran karangan (pembaca)
Agar isi tulisan sampai kepada pembaca, penulis harus memperhatikan siapa yang akan membaca tulisan itu, bagaimana level pendidikan status sosialnya, serta apa yang diperlukan. Dengan kata lain, penulis harus memperhatikan dan menyesuaikan tulisannya dengan level sosial, tingkat pengalaman, pengetahuan, dan kebutuhan pembaca (Suparno, 2008: 1.19).
Britton menyatakan bahwa keberhasilan menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca tulisannya. Kemampuan ini memungkinkan penulis untuk memilih informasi serta cara penyajian yang sesuai (Suparno, 2008: 1.19).
Alasan ini pula yang mendorong penulis berulang-ulang meminta orang lain membaca tulisannya dan memperbaikinya.
d)     Mengumpulkan informasi pendukung
Ketika akan menulis, penulis tidak selalu memiliki bahan dan informasi yang benar-benarsiap dan lengkap. Oleh karena itu, penulis perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih informasi yang dapat mendukung, memperluas, memperdalam, dan memperkaya isi tulisannya (Suparno, 2008: 1.19).
Tanpa pengetahuan dan wawasan yang memadai, tulisan akan dangkal dan kurang bermakna sehingga penelusuran dan pengumpulan informasi sebagai bahan tulisan sangat diperlukan. Pengumpulan informasi itu dapat dilakukan sebelum, sewaktu, atau sesudah penulisan terjadi. Meskipun demikian, akan lebih baik jika informasi yang relevan telah terkumpul secukupnya sebelum menulis sehingga proses penulisan tidak banyak terganggu (Suparno, 2008: 1.20).
e)      Mengorganisasikan ide dan informasi
Setelah memilih topik, menentukan tujuan dan corak wacana, mempertimbangkan sasaran karangan, mengumpulkan informasi pendukung maka langkah selanjutnya adalah mengorganisasikan atau menata ide-ide karangan agar menjadi saling bertaut, runtut, dan padu. Hasil pengorganisasian ide-ide itu disebut kerangka karangan atau ragangan (Suparno, 2008: 1.21).

2)      Tahap Penulisan
Pada saat mengembangkan setiap ide, penulis dituntut untuk mengambil keputusan, antara lain: (1) keputusan tentang kedalaman serta keluasan isi, (2) jenis informasi yang akan disajikan, (3) gaya bahasa dan cara penyampaian (pemilihan kata, rima, irama, ritme, dan makna). Keputusan itu harus selaras dengan topik, tujuan, corak karangan, dan pembaca karangan (Suparno, 2008: 1.23).


3)      Tahap Pascapenulisan
Fase ini merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang dihasilkan. Kegiatannya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi), saling bertegur sapa tentang ilmu pengetahuan dengan orang lain atau teman sejawat.         
Defelice, proet, Gill, serta Kemnitz menyamakan pengertian baik penyuntingan atau pun revisi mengacu pada kegiatan pemeriksaan, membaca ulang, serta memperbaiki unsur mekanik dan isi karangan (Suparno, 2008: 1.24).
Penyuntingan di sini diartikan sebagai kegiatan membaca ulang suatu buram karangan dengan maksud untuk merasakan, menilai dan memeriksa baik unsur mekanik maupun isi karangan. Tujuannya adalah untuk menemukan atau memperoleh informasi tentang unsur-unsur karangan yang perlu disempurnakan. Kegiatan ini dapat dikolaborasikan dengan teman sejawat.
Berdasarkan hasil penyuntingan itulah, kegiatan revisi atau perbaikan dilakukan. Kegiatan revisi itu dapat berupa penambahan, penggantian, penghilangan, atau pemberian komentar.
Kegiatan penyuntingan dan perbaikan karangan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1)      Membaca keseluruhan karangan.
2)      Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki, atau memberikan catatan bila ada hal-hal yang harus diganti, ditambahkan dan disempurnakan.
3)      Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan saat penyuntingan (Suparno, 2008: 1.25).
a.      Tujuan Menulis
Menurut Tarigan (1994: 23-24), tujuan menulis (the writer intension) adalah respon atau jawaban yang diharapkan oleh penulis akan diperoleh dari pembaca.
Dari uraian tujuan menulis yang disampaikan di atas, dapat diketahui menulis mengandung tujuan untuk melatih diri peserta didik memiliki kompetensi menulis dalam menyampaikan gagasan dan perasaannya. Selain itu tujuan menulis untuk mengekspresikan diri dan sekaligus untuk memperoleh masukan dan kritikan dari pembaca.
b.      Manfaat Menulis
Manfaat yang dapat dipetik peserta didik dari kegiatan menulis antara lain: (1) meningkatkan kecerdasan; (2) meningkatkan daya inisiatif dan kreatifitas (3) menumbuhkan keberanian; (4) mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informsi (Suparno, 2008: 1.4.).
     Berdasarkan pendapat di atas, menulis bermanfaat untuk mengenali kemampuan dan potensi diri, melatih mengembangkan berbagai gagasan, menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengekspresikan secara tersurat, menilai serta meninjau gagasannya sendiri secara objektif, memecahkan permasalahan, mendorong untuk belajar secara aktif, menjadi terbiasa berpikir serta berbahasa dengan tertib, teratur, dan indah.

2.      Menulis Puisi Baru
Coleridge (dalam Pradopo, 1993:6) mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur yang lain sangat erat hubungannya, dan sebagainya.
Carlyle (dalam Pradopo, 1993: 6) mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yakni dengan mempergunakan orkestra bunyi.
Berdasarkan pendapat tentang pengertian puisi di atas dapat diambil simpulan bahwa puisi merupakan sarana untuk mengungkapkan berbagai perasaan, pengalaman, kritikan, dan juga harapan yang ditulis secara sistematis dengan bahasa yang ekspresif dan imajinatif sehingga menimbulkan serangkaian bunyi yang merdu.
Puisi terbagi menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi baru adalah puisi karya penyair Indonesia setelah adanya pengaruh atau persentuhan dengan kesusastraan Barat, terutama Belanda (Haryanta, 2007: 54). Puisi baru memperlihatkan corak dan ciri yang berbeda dengan puisi kesusastraan lama. Corak itu terlihat pada wujudnya yang sudah mulai melepaskan diri dari ikatan-ikatan lahiriah (seperti bait, rima, baris) dan juga isi.
Puisi baru sebagai produk kebudayaan masyarakat modern, tidak lagi terbelenggu pada aturan-aturan yang dianggap membatasi kebebasan berekspresi. Hal yang lebih penting dalam penciptaannya adalah pengungkapan makna, pesan, atau nilai-nilai. Kata-kata dalam puisi modern benar-benar dipilih dan disusun dengan penuh pertimbangan sehingga mampu mengungkapkan isi pikiran, perasaan, harapan secara tepat. Namun, puisi baru tetap karya seni yang diciptakan seseorang dengan melibatkan segenap perasaan penulisnya. Rima dan irama tetap merupakan unsur yang tidak dapat ditinggalkan dalam menulis puisi karena dari situlah keindahan berawal. Selain itu, penyusunan dalam bait-bait tetap diperlukan. Hal itu merupakan bagian dari tipografi puisi yang membedakan dengan genre sastra lainnya.
a)      Jenis-Jenis Puisi Baru
Bentuk puisi ini berbait dan berirama tetapi tidak terikat oleh jumlah bait, jumlah baris, jumlah silaba dan rima. Puisi baru lebih mementingkan isi daripada irama.
Dalam buku Panduan Materi Pembelajaran SMA Bahasa Indonesia (Adiarti, Retna dkk, 2011) disebutkan jenis-jenis puisi baru berdasarkan isinya dibedakan atas balada, elegi, romans, ode, himne, epigram, dan satire.
1)      Balada
Balada adalah bentuk puisi baru yang isinya berupa cerita dan kisah perjalanan hidup seseorang.
Contoh:
sangkuriang…..
Kau begitu durhaka
Pada ibumu
Hingga menjadi
Gunung tangkuban perahu
2)      Elegi
Elegi adalah bentuk puisi baru yang berisi kesedihan, suara sukma yang meratap, batin yang mengeluh, serta tangisan hati.
Contoh:
Tiada lagi tempatku mengadu
Semua telah pergi dariku
Ya Allah engkau adalah tumpuan harapanku
Bantulah aku menyelesaikan masalah ini

3)      Romansa
Romansa adalah bentuk puisi baru yang isinya merupakan luapan perasaan kasih sayang, cinta terhadap sesama.
Contoh:
Ibu……
Kasih sayangmu
Takkan pernah luput
Dari ingatanku
Cintamu ibu
Selalu dalam hatiku.

4)      Ode
Ode adalah bentuk puisi baru yang isinya berupa sanjungan kepada pahlawan. Bentuk puisi ini juga dikatakan puisi kepahlawanan.
Contoh:
bagai mutiara diatas lautan
Bagai cahaya dalam kegelapan
Guru,itulah dirimu
Budi luhurmu takkan pernah hilang
Walau ditelan masa

5)      Himne
Himne adalah bentuk puisi baru yang isinya berupa sanjungan terhadap Tuhan.

Contoh:
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku
bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di dalam hati.

6)      Epigram
Epigram adalah bentuk puisi baru yang isinya mengandung semangat yang ditujukan kepada generasi muda.
Contoh:
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekali pun pasti tergilas.

7)      Satire
Satire adalah bentuk puisi baru yang berisi sindiran
Contoh:
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
b)     Langkah-Langkah Menulis Puisi Baru
Peserta didik yang sudah terbiasa atau sudah mahir dapat membuat puisi dalam sekejap tanpa persiapan. Namun, bagi yang baru belajar atau belum pernah menulis puisi, sebaiknya, lakukanlah beberapa persiapan terlebih dahulu. Hendaknya, banyak membaca puisi karya penyai-penyair Indonesia maupun luar negeri. Menurut Alwasilah (2005: 31-32) langkah-langkah menulis puisi baru sebagai berikut.
1)      Dalam lima menit berkonsentrasilah, lihat kiri kanan. Mungkin ada koran, buku jurnal, puisi karya orang lain, atau fisik teman anda yang terdekat. Pekalah terhadap suara dan pandangan yang mengganggu atau menggoda. Yang anda cari adalah ide awal, mungkin perasaan atau memori.
2)      Tulislah 50 kata atau frase yang muncul dalam pikiran anda ketika mengingat objek yang menjadi fokus puisi anda. Ayo paksa diri anda untuk menemukan kata-kata yang paling pas, kena, tepat, menjelasakan, dan luar biasa.
3)      Tulislah gagasan anda secara singkat dalm bentuk puisi sesuka Anda. Ungkapkanlah melalui deskripsi, komparasi, atau klarifikasi sehingga membuat pembaca kaget, terpesona, atau tersedu (seperti halnya klimaks dalam novel).
4)      Baca nyaring puisi Anda, yakinkan bahwa setiap kata, frase, dan kalimat memang sesuai dengan maksud anda.
5)      Setelah puisi anda jadi, coba kolaborasikan dengan teman anda untuk mendapat komentar.
6)      Bacalah komentar dan saran orang lain. Tulis ulang puisi anda, juga baca pula puisi orang lain yang sudah dipublikasikan.
Namun, langkah-langkah ini bukan merupakan panduan yang harus kamu ikuti. Jika kamu merasa terbebani dengan panduan ini, kamu dapat mengabaikannya. Lalu, tulislah puisi berdasarkan perasaanmu. Setelah itu, lakukanlah perbaikan/ pemolesan.
c)      Tujuan Menulis Puisi Baru
Orang menulis  puisi  selain memberikan kenikmatan seni, juga memperkaya kehidupan batin, menghaluskan budi, bahkan juga sering membangkitkan semangat hidup yang menyala, dan mempertinggi rasa ketuhanan dan keimanan (Pradopo, 2007: vi). Dengan bahasa yang simbolis, konotatif, dan padat, semua gagasan, inspirasi, pengetahuan serta hal lain dapat diungkapkan dengan singkat, padat, menarik, serta bermanfaat bagi pembaca.
Tujuan pembelajaran menulis puisi di sekolah adalah agar siswa memperoleh kesadaran yang lebih terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar, memperoleh kesenangan, dan anak memperoleh pengetahuan dan pengertian dasar tentang puisi. Akan tetapi, yang perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran puisi di sekolah adalah pemilihan bahan pembelajaran dan penyajiannya (Trimantara, 2005: 2).
Kompetensi dasar menulis puisi baru dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai dan menulis puisi baru dengan memperhatikan unsur persajakan merupakan kompetensi dasar disampaikan di sekolah. Pengetahuan dan keterampilan bagaimana menciptakan puisi yang kaya akan pilihan kata yang sesuai, persajakan, serta keindahan bahasa lainnya, harus mereka pahami sepenuhnya.

3.      Metode Kolaborasi
Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (Depdiknas, 2008: 910).
Shalat berjamaah lebih baik daripada shalat menyendiri, pahalanya pun jauh lebih besar, dua puluh tujuh kali lebih baik. Demikian kata Nabi, karena itu lakukanlah shalat secara berjamaah di tempat yang mulia. Demikian pula dengan menulis, dalam menulis secara berjamaah (berkolaborasi) selalu ada imam atau seseorang yang dianggap paling senior yang bertindak sebagai model. Guru adalah imam yang memiliki pengetahuan dan pengalaman menulis (Alwasilah, 2005: 25).
Kolaborasi adalah ajang bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan. Di situ ada pembelajaran berjamaah (social learning). Salah satu prinsipnya adalah bahwa setiap orang memiliki kelebihan tersendiri. Imam pun jika keliru harus diperingatkan dengan santun. Jadi saling mengingatkan dalam kolaborasi justru membuat anda semakin mengenal potensi diri dan membuat tulisan semakin bernas (Alwasilah, 2005: 25).
Dalam kolaborasi setiap siswa dibiarkan mengembangkan potensi dan kesenangannya dalam menulis puisi baru. Komitmen dan niat masing-masing peserta didik menentukan sejauh mana kemmampuan siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru.
Dalam Alwasilah (2005: 26-27), disebutkan panduan kolaborasi (Reading-Writing Connection) sebagai berikut.
1)      Berbagi diri ke dalam kelompok-kelompok kecil, terdiri atas tiga atau empat orang. Pada kelompok besar, kolaborasi cenderung tidak efektif.
2)      Upayakan ada jarak yang cukup agar setiap kelompok tidak terganggu oleh kelompok lainnya.
3)      Masing-masing anggota membaca karangan orang lain dalam kelompoknya.
4)      Sewaktu membaca, perhatikanlah mekanik tulisan. Tandailah dengan menggarisbawahi dosa-dosa kecil. Gunakan tinta warna-warni.
5)      Baca setiap baris dan bait serta cermati hal-hal berikut.
a)      Tandailah karangan itu dengan tanda tanya, komentar, pujian, tantangan, dan saran-saran konstruktif.
b)      Pada akhir tulisan itu cantumkan bukti kolaborasi sebagai berikut:
Kolaborator1:__________Tanggal:__________Paraf__________Kolaborato 2:__________Tanggal:__________Paraf__________
Kolaborator3:__________Tanggal:__________Paraf__________
Kolaborator4:__________Tanggal:__________Paraf__________
6)      Tanyakan langsung kepada penulisnya manakala Anda menemukan hal-hal yang tidak jelas, aneh, atau tidak bernalar.
7)      Kembalikanlah karangan yang sudah dikomentari itu kepada penulisnya untuk ditulis ulang.
8)      Minggu berikutnya Anda melakukan kerja kelompok (kolaborasi) serupa pada karangan yang sudah direvisi penulisnya.
9)      Kegiatan kolaborasi dan revisi ini dilakukan minimal empat kali.
10)  Karangan yang telah direvisi empat kali diserahkan kepada dosen/guru pembimbing untuk mendapatkan feedback lain

4.      Pembelajaran Menulis Puisi Baru dengan Metode Kolaborasi
Pembelajaran menulis merupakan suatu kegiatan yang berencana dan bertujuan. Pembelajaran menulis terdapat dalam pembelajaran keterampilan berbahasa di samping keterampilan membaca, menyimak, dan berbicara. Keempat keterampilan berbahasa tersebut mendapatkan porsi yang seimbang dan dalam pelaksanaannya dilakukan secara terpadu dan intensif.
Menurut M.E. Fowler, dalam proses pembelajaran, menulis adalah suatu proses yang kompleks yang merupakan keterampilan berbahasa yang meminta perhatian paling akhir di sekolah. Alwasilah (1997: 43) mengungkapkan, bahwa menulis adalah sebuah kemampuan, kemahiran, kepiawaian seseorang dalam menyampaikan gagasannya ke dalam sebuah wacana yang dapat diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara intelektual maupun sosial.
Tujuan pembelajaran menulis adalah membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara tertulis. Dalam kegiatan menulis, bukan panjang tulisan yang dipentingkan, tetapi kejelasan isi tulisan serta efisiensi pemakaian pilihan kata atau diksi, pemilihan rima dan irama. Oleh karena itu, selama kegiatan menulis berlangsung, peserta didik perlu disadarkan bahwa ada cara penataan atau penyusunan kata dalam pembelajaran keterampilan menulis.
Pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasimerupakan pembelajaran yang sengaja dilakukan oleh peneliti mengenai materi menulis puisi baru kelas X SMA dengan menggunakan metode  kolaborasi. Tujuan pembelajaran ini agar keterampilan menulis puisi baru siswa kelas X SMA meningkat.
Langkah pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi yang peneliti lakukan sebagai berikut.
1)      Peneliti membagi kelompok-kelompok kecil, terdiri atas tiga atau empat orang. Pada kelompok besar, kolaborasi cenderung tidak efektif. Upayakan ada jarak yang cukup agar setiap kelompok tidak terganggu oleh kelompok lainnya.
2)      Peneliti menyajikan materi menulis puisi baru secara umum atau garis besarnya saja.
3)      Peneliti memberikan tugas pada tiap kelompok untuk menulis puisi baru, setiap anak dalam kelompok tersebut masing-masing membuat satu buah puisi baru.
4)      Masing-masing anggota membaca karangan orang lain dalam kelompoknya. Sewaktu membaca, perhatikanlah mekanik tulisan. Tandailah dengan menggarisbawahi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Gunakan tinta warna-warni.
5)      Baca setiap baris dan bait serta cermati hal-hal berikut.
c)      Tandailah karangan itu dengan tanda tanya, komentar, pujian, tantangan, dan saran-saran konstruktif.
d)     Pada akhir tulisan itu cantumkan bukti kolaborasi sebagai berikut:
Kolaborator1:__________Tanggal:__________Paraf__________Kolaborator2:__________Tanggal:__________Paraf__________
Kolaborator3:__________Tanggal:__________Paraf__________
Kolaborator4:__________Tanggal:__________Paraf__________
6)      Tanyakan langsung kepada penulisnya manakala Anda menemukan hal-hal yang tidak jelas, aneh, atau tidak bernalar.
7)      Kembalikanlah karangan yang sudah dikomentari itu kepada penulisnya untuk ditulis ulang.
8)      Minggu berikutnya Anda melakukan kerja kelompok (kolaborasi) serupa pada karangan yang sudah direvisi penulisnya.
9)      Kegiatan kolaborasi dan revisi ini dilakukan minimal empat kali.
10)  Karangan yang telah direvisi empat kali diserahkan kepada dosen/guru pembimbing untuk mendapatkan feedback lain
11)  Peneliti memberikan saran atau masukan terhadap hasil pekerjaan peserta didik.
12)  Peneliti merefleksi hasil pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi serta memberi kesempatan bertanya tentang materi yang belum dipahami kepada peserta didik.

H.    Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis puisi baru pada siswa kelas X SMA N 4 Purworejo meningkat setelah mendapatkan pembelajaran dengan metode kolaborasi.

I.       Metode Penelitian
1)      Rancangan Penelitian          
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap suatu tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru dan dilakukan oleh siswa (Arikunto, 2009: 3).
Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi baru siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo dengan menerapkan metode kolaborasi.
2)      Subjek Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo tahun pelajaran 2012/2013, yakni siswa yang belajar dengan metode pembelajaran kolaborasisebagai upaya peningkatan keterampilan menulis puisi baru.
Subjek siswa diteliti atas perilakunya dalam belajar menulis puisi baru dengan metode pembelajaran kolaborasi. Perilaku ini berkaitan dengan keterampilan siswa dalam menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, rima, dan irama.
Pemilihan subjek penelitian ini didasarkan pertimbangan, (1) guru mata pelajaran bahasa Indonesia kelas X SMA Negeri 4 Purworejo bersedia berkolaborasi dengan peneliti untuk mengadakan tindakan perbaikan pembelajaran, (2) Siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo dirasa masih kurang dalam keterampilan menulis puisi baru.

3)      Tahap Penelitian
Tahap penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan menurut Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Perbedaannya terletak pada komponen tindakan (acting) dan pengamatan (observing) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi dan observasi merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu, yaitu pada saat tindakan berlangsung, saat itu pula observasi harus dilaksanakan (Sunarko, 2008: 17).
Tahap penelitian Kemmis dan Mc Taggart disebut juga siklus ulang. Aktifitasnya dimulai dari studi pendahuluan. Dalam tahap ini, dilakukan pengamatan pembelajaran kelas, tes diagnostik, dan wawancara terhadap guru yang dilakukan diluar jam pembelajaran. Aktifitas ini dilakukan untuk memperoleh data awal tentang keadaan pembelajaran menulis puisi baru sebelum diterapkan metode kolaborasi.
Dari data awal ini, kemudian ditetapkan tindakan yang akan diberikan. Setelah tindakan ditetapkan, dilanjutkan dengan aktifitas perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, refleksi, analisis, dan simpulan. Tahap-tahap tersebut dilakukan dua kali, yakni siklus satu dan siklus dua.
Bersamaan dengan aktifitas tindakan kelas, peneliti melakukan aktifitas pengumpulan data. Pengumpulan data ini dilakukan dengan melakukan pengamatan, tes, dan kuesioner. Data yang terkumpul dianalisis untuk memperoleh simpulan hasil penelitian. Alur penelitian tersebut sebagai berikut.









Gambar Skema Alur Penelitian


 














                                                                   















                                                                                                      

1.      Tahap Persiapan Penelitian
Tahap persiapan penelitian berisi aktifitas penyusunan format wawancara, penyusunan format pengamatan pembelajaran, dan format kuesioner untuk siswa.
Tindakan awal yang dilakukan adalah pengamatan di kelas dan tes awal. Sebelumnya, dilakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran bahasa Indonesia kelas X SMA Negeri 4 Purworejo di luar jam pelajaran. Pengamatan di kelas dilakukan agar peneliti mengetahui keadaan sebenarnya di dalam kelas. Tes awal bertujuan agar peneliti mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis puisi baru. Masing-masing kegiatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.      Penyusunan Perencanaan Wawancara
Wawancara dirancang untuk memperoleh data tentang hambatan dalam menulis puisi baru, sekaligus digunakan untuk melengkapi hasil pengamatan. Selain itu, agar peneliti mengetahui keadaan siswa yang diteliti. Objek wawancara adalah guru bahasa Indonesia kelas X SMA Negeri 4 Purworejo.
b.      Penyusunan Format Penelitian
Sebelum pengamatan dilakukan, peneliti menyusun rencana penelitian. Rancangan tersebut berupa format pengamatan yang dirancang untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan metode Kolaborasi.
c.       Penyusunan Pertanyaan Kuesioner
Sebelum melakukan penelitian, peneliti menyusun pertanyaan kuesioner. Pertanyaan tersebut dimaksudkan agar peneliti mengetahui hambatan yang dialami siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru sebelum diterapkan metode Kolaborasi.

2.       Tahap Studi Pendahuluan
Aktivitas yang dilakukan pada tahap studi pendahuluan meliputi kegiatan wawancara, pengamatan pembelajaran di kelas, dan tes. Wawancara dilakukan terhadap guru mata pelajaran bahasa Indonesia kelas X SMA Negeri 4 Purworejo di luar jam pembelajaran.

3.      Tahap Tindakan Siklus I
Proses tindakan pada siklus I melalui empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
a.    Perencanaan
Tahap perencanaan ini dilakukan mulai dari awal hingga akhir penelitian. Rencana yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: (1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) mempersiapkan instrumen pembelajaran, yakni rangkuman materi dan lembar untuk menulis siswa, (3) mempersiapkan instrumen non tes yang berupa lembar pengamatan dan lembar kuesioner.
b.   Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I harus sesuai dengan perencanaan yang telah disusun, yakni mengenai langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam tahap ini sebagai berikut.
1.    Peneliti memberikan penjelasan tentang menulis puisi baru, yakni pengertian puisi baru, jenis-jenis puisi baru, dan langkah-langkah menulis puisi baru hanya garis besarnya saja.  
2.    Peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri atas tiga atau empat orang. Upayakan ada cara yang cukup atas setiap kelompok tidak terpaku oleh kelompok lainnya.
3.    Siswa diberi tes menulis puisi baru dengan topik yang dipilih sendiri oleh siswa. Disini, siswa tetap diperbolehkan saling bertukar pikiran dan bertanya jawab. Akan tetapi, siswa mengerjakan secara individual.
4.    Peneliti menugaskan masing-masing anggota mambaca karya teman yang lain dalam kelompoknya, dan memberikan apresiasi atau penilaian serta catatan kecil pada karya tersebut.
5.    Masing-masing kelompok mempresentasikan karya puisi baru yang dianggap paling baik dalam satu kelompok tersebut.
6.    Peneliti dan siswa bersama-sama membahas hasil penulisan puisi baru. Kelompok lain diberi kesempatan untuk memberi komentar dan masukan.
c.    Pengamatan
Pada tahap ini, peneliti mengamati pelaksanaan pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi. Peneliti menggunakan instrumen berupa data non tes. Data non tes berupa lembar pengamatan, yakni pengamatan terhadap perhatian dan sikap siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar dan keaktifan siswa setelah diterapkannya metode kolaborasi saat pembelajaran di kelas.
Dan peneliti juga menggunakan kuesioner yang akan diisi oleh siswa. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup, yakni kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga siswa tinggal memilih jawabannya. Hal itu bertujuan untuk mengetahui minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran mneulis puisi baru dengan metode kolaborasi. Data lain yang diambil adalah dokumentasi foto untuk mengetahui kegiatan siswa pada saat menulis puisi baru.
d.   Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan dengan mengumpulkan data yang ada, yakni hasil tes kemampuan mneulis puisi baru dengan menggunakan metode kolaborasi dan hasil non tes berupa hasil pengamatan dan kuesioner yang telah diisi oleh siswa. Setelah dikumpulkan, data tersebut dianalasis agar diperoleh simpulan mengenai kemampuan siswa dalam menulis puisi baru dengan metode Kolaborasi pada pembelajaran siklus I dan siklus II.

4.      Tahap Tindakan Siklus II
Tahap Tindakan Siklus II merupakan usaha peningkatan kemampuan menulis puisi baru.
Prosedur tindakan dalam siklus II juga dilakukan dalam empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.
a.    Perencanaan
Tahap pereencanaan pada siklus II sama dengan siklus I. Tujuannya pun sama, yakni meningkatkan kemampuan menulis puisi baru dengan metode kolaborasi.
b.   Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II hakikatnya merupakan pengulangan dari siklus I. Berikut langkah pelaksanaan tindakannya:
1.      Peneliti melakukan apersepsi atau mengulas materi tentang menulis puisi baru, yakni pengertian puisi baru, jenis-jenis puisi baru, dan langkah-langkah menulis puisi baru hanya garis besarnya saja.  
2.      Peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri atas tiga atau empat orang. Upayakan ada cara yang cukup atas setiap kelompok tidak terpaku oleh kelompok lainnya.
3.      Siswa merevisi puisi baru yang sudah diberikan komentar oleh teman satu kelompok. Disini, siswa tetap diperbolehkan saling bertukar pikiran dan bertanya jawab. Akan tetapi, siswa mengerjakan secara individual.
4.      Peneliti menugaskan masing-masing anggota mambaca karya teman yang lain dalam kelompoknya yang sudah direvisi, dan memberikan apresiasi atau penilaian serta catatan kecil pada karya tersebut.
5.      Masing-masing kelompok mempresentasikan karya puisis baru yang dianggap paling baik dalam satu kelompok tersebut.
6.      Peneliti dan siswa bersama-sama membahas hasil penulisan puisi baru. Kelompok lain diberi kesempatan untuk memberi komentar dan masukan.
7.      Peneliti merefleksi hasil pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi.
c.    Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II sama dengan yang dilakukan pada siklus I, yakni dilakukan melalui non tes. Pada siklus II ini, diharapkan ada perubahan dan peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi baru.
d.   Refleksi
Refleksi yang dilakukan pada siklus II juga sama dengan yang dilakukan pada siklus I, yakni menganalisis hasil tes dan non tes. Setelah refleksi pada siklus II selesai, peneliti membandingkan dengan hasil refleksi pada siklus I. Hasil itulah yang digunakan sebagai pertimbangan dalam membuat simpulan.

4)      Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data dilkukan dengan penetapan instrumen pengumpul data, penentuan jenis data, dan teknik pengumpulan data. Masing-masing langkah tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1.      Penetapan Instrumen Pengumpul Data
Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agara pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti hasilnya lebih baik, cermat, lengkap, dsan lebih sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2006: 160).
Bentuk instrumen penelitian ini adalah tes dan non tes. Jenis instrumen tes adalah tes tertulis, sedangkan instrumen non tes adalah lembar pengamatan dan lembar kuesioner.
a.      Instrumen Tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes menulis puisi baru. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis puisi baru menggunakan metode kolaborasi dengan memperhatikan bait, rima, dan irama.
b.      Instrumen Non-Tes
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1)      Lembar Pengamatan
Pengamatan atau observasi adalahpenilaian yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara teliti dan sistematis. Lembar pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui antusias siswa ketika pembelajaran, keaktifan siswa, interaksi, dan kerjasama antar siswa, dan tanggungjawab siswa.
2)      Kuesioner
Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup, yakni kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga siswa tinggal memilih jawabannya. Hal itu bertujuan untuk mengetahui minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi. Data lain yang diambil adalah dokumentasi foto untuk mengetahui kegiatan siswa pada saat melakukan diskusi dan menulis puisi baru.

2.      Jenis Data Penelitian
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tulisan siswa dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi.

3.      Sumber Data
Data penelitian ini digali dari sumber-sumber yang berupa dokumen, siswa, dan hasil tes siswa. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut.
a.      Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Purworejo
Data yang digali dari sumber ini berupa hasil kerja siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru dengan menggunakan metode kolaborasi.
b.      Hasil Tes
Data yang digali dari sumber ini berupa jumlah nilai siswa dalam mengerjakan tugas menulis puisi baru berdasarkan kriteria penilaian yang meliputi: (1) diksi, (2) rima, (3) irama, (4) bait, (5) makna, (6) ketepatan tema.

4.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik pengamatan, wawancara, kuesioner, dan tes. Teknik pengamatan merupakan teknik penilaian dengan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu hal secara langsung, teliti, dan sistematis (Nurgiyantoro, 1988: 54).
Wawancara adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dari responden dengan melakukan tanya jawab sepihak (Nurgiyantoro, 1988: 53).
Kuesioner adalah suatu kesatuan sebagai penanda unit-unit bersifat angka yang dapat diterapkan pada suatu objek atau pernyataan yang dimaksudkan untuk mengukur kelayakan atau kecenderungnan tertentu, sikap, keyakinan, pandangan, atau nilai-nilai bersifat kualitatif (Nurgiyantoro, 1988: 53).
Teknik tes merupakan suatu cara untuik melakukan penilaian yang berbentuk tugas yang harus dikerjakan siswa untuk mendapatkan data tentang nilai dan prestasi siswa (Nurgiyantoro, 1988: 56).
Masing-masing teknik diuraikan sebagai berikut.
a.      Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap perilaku siswa kelas X SMA Negeri 4 Purworejo yang berkaitan dengan keaktifan siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru sebelum dan sesudah diterapkannya metode kolaborasi.
Pengamatan dilakukan menggunakan lembar pengamatan terhadap siswa. Lembar tersebut digunakan untuk mengetahui sikap siswa selama pembelajaran, yakni sebelum dan sesudah diterapkannya metode kolaborasi dalam pembeljaran menulis puisi baru. Aspek pengamatan di dalamnya meliputi: (1) antusias siswa ketika mengikuti pembelajaran, (2) keaktifan siswa, (3) interaksi dan kerjasama, (4) tanggung jawab siswa. Masing-masing pengamatan memilki skor antara 1-5, yakni dari sikap siswa yang kurang baik hingga sangat baik. Skor tersebut diolah menjadi nilai perilaku siswa. Nilai siswa merupakan jumlah skor yang diperoleh siswa dikalikan empat.
b.      Wawancara
Teknik ini dilakukan dengan cara mewawancarai guru yang bersangkutan. Aktivitas ini dilakukan sebelum diadakannya penelitian dan dilakukan secara terpisah dengan kegiatan pembelajaran.
Wawancara terhadap guru dilakukan untuk memperoleh data tentang hambatan guru dalam pembelajaran menulis puisi baru, metode yang biasa digunakan dalam pembelajaran menulis puisi baru, serta keadaan siswa yang diteliti.

c.       Kuesioner
Kuesioner diisi oleh siswa setelah berakhirnya pembelajaran pada setiap akhir siklus setelah menerapkan metode kolaborasi. Kuesioner sengaja dibuat untuk siklus I dan II karena kuesioner di dalamnya langsung berkaitan dengan metode pembelajaran kolaborasi. Siswa diminta menjawab pertanyaan yang sudah disiapkan peneliti.
Kuesioner yang digunakan peneliti adalah kuesioner tertutup, yakni pertanyaan yang sudah disediakan pilihan jawabannya. Hal ini dilakukan agar siswa dapat menjawabnya dengan mudah.
d.      Tes
Teknik ini dilakukan dengan cara siswa diberi tugas untuk menulis puisi baru. Tes ini bertujuan untuk (1) memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuangkan idenya dalam bentuk tulisan, (2) siswa dapat berlatih langsung menulis puisi baru, (3) mengukur kemampuan siswa dalam menulis puisi baru.
Tes dilakukan dua kali, yakni pada siklus I dan siklus II. Tes ini dilakukan agar peneliti mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode kolaborasi.
Data hasil tes ini dilakukan dengan cara memberikan nilai hasil tes siswa dalam hal: (1) diksi, (2) rima, (3) irama, (4) bait, (5) makna, (6) ketepatan tema.

5)      Tahap Analisis Data
1.      Teknik Analisis Data
Dalam penelitian tindakan ini, peneliti menggunakan teknik analisis data secara kualitatif dan kuantitatif.
a.      Teknik Kualitatif
Dalam penelitian tindakan ini, digunakan teknik analisis data kualitatif. Teknik kualitatif merupakan teknik yang dilakukan dengan cara menganalisis data yang berupa informasi yang berbentuk kalimat yang memberi gambaran ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran, sikap siswa terhadap metode belajar yang baru, aktivitas siswa ketika pembelajaran, antusias siswa dalam belajar, dan sejenisnya (Arikunto, 2009: 131).
Teknik kualitatif dalam penelitian ini berupa hasil wawancara dan kuesioner. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui minat siswa pada saat mengikuti pembelajaran menulis puisi baru dengan metode kolaborasi.
b.      Teknik Kuantitatif
Teknik analisis data kuantitatif dalam penelitian ini berupa hasil pengamatan dan nilai hasil belajar siswa yang dapat dianalisis secara statistik deskriptif. Statistik deskriptif dapat digunakan untuk mengolah karakteristik data yang berkaitan dengan menjumlah, merata-rata, mencari titik tengah, mencari persentase, dan menyajikan data yang menarik, mudah dibaca, dan diikuti alur berpikirnya (grafik, tabel, chart) (Arikunto, 2009: 131-132).
Data kuantitatif yang dikumpulkan, yaitu hasil pengamatan dan hasil tes kemampuan siswa menulis puisi baru baik sebelum dilakukan tindakan maupun sesudah dilakukan tindakan pembelajaran dengan metode kolaborasi. Nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pembelajaran menulis puisi baru di SMA Negeri 4 Purworejo adalah 75 shingga siswa yang mendapatkan nilai di bawah 75 dinyatakan belum dapat mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.
Peneliti menghitung presentasi melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) merekap nilai yang telah diperoleh siswa, (2) menghitung nilai komulatif, (3) menghitung nilai rata-rata, (4) menghitung nilai presentase.
Hasil perhitungan menulis puisi baru mulai dari tahap siklus I dan sklus II dibandingkan. Setelah itu, dapat diperoleh hasil peningkatan kemampuan menulis puisi baru tanpa dan dengan metode kolaborasi.

2.      Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Dalam penelitian tindakan ini, peneliti menggunakan teknik penyajian hasil analisis data informal. Teknik penyajian hasil analisis data informal ialah perumusan dengan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993: 145). Teknik informal diterapkan dalam skripsi ini karena penyajian hasil analisis data di dalamnya berupa kata-kata biasa, yakni peningkatan keterampilan menulis puisi baru dengan metode  kolaborasi dan tidak menggunakan tanda atau lambang.


6)      Tahap Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data merupakan instrumen yang mampu dengan tepat mengukur apa yang hendak di ukur (Arikunto, 2009: 127). Menurut Lather (dalam Arikunto, 2009: 128), salah satu strategi untuk meningkatkan validasi adalah dengan menggunakan berbagai sumber data. Menurut Supardi (dalam Arikunto, 2009: 128-129), tujuan triangulasi adalah untuk meningkatkan ketajaman hasil pengamatan melalui berbagai cara dalam pengumpulan data. Macam-macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.      Triangulasi teori, yakni kevaliditan data yang diperoleh dengan cara menggunakan teori yang relevan.
2.      Triangulasi instrumen, yakni dengan menggunakan berbagai jenis alat atau instrumen.
Selain teknik triangulasi, peneliti menggunakan teknik diskusi dengan tahap pengecekan keabsahan data. Teknik diskusi dilakukan dengan guru yang bersangkutan. Hal ini bertujuan untuk membicarakan tingkat keabsahan data penelitian yang telah terkumpul, ketepatan metode yang digunakan, dan kelengkapan data yang diperlukan. Dengan kedua teknik tersebut, diharapkan validitas hasil penelitian dapat lebih valid.















DAFTAR PUSTAKA

Adiarti, Retna dkk. 2011. Panduan Materi Pembelajaran SMA Bahasa Indonesia. Purworejo: Alpha Betha.

Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: YA3 Malang.

Alwasilah, A. Chaedar dan Senny Suzanna Alwasilah. 2007. Pokoknya Menulis. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Tindakan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Depdiknas. 2009. Sosialisasi dan Pelatihan KTSP. Jakarta: Depdiknas dalam http://www.id.wikipedia.org/wiki/kurikulum-Tingkat-Satuan-Pendidikan. Di akses pada 3 Juli 2012.

Hamalik, Oemar. 1989. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya.

Hariyanto, Agus dan Alex Suryanto. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas X. Tangerang: Esis.

Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPSE.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1993.  Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis.Yogyakarta: University Press.

Sunarko. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Diktat. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Suparno dan Muhammad Yunus. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

Suriamiharja, Agus dkk. 1996. Petunjuk Praktik Menulis. Jakarta: Depdikbud.

Sussantria, Henri. 2012. “Pembelajaran Menulis Puisi di SMA dengan Media Video Lagu. Skripsi”. Purworejo: Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim Penyusun Kamus. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-4. Jakarta: Balai Pustaka.

Trimantara, Petrus. 2005. Metode Sugesti Imajinasi dalam Pembelajaran Menulis dengan Media Lagu. Dalam http://www.bpk penabur.org.id/files. Diakses 3 Juli 2012.

Widowati. 2007. “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Teknik Pengamatan Objek Langsung Pada Siswa Kelas X MA Al Asror Patemon Gunungpati Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007”. Skripsi: FBS Universitas Negeri Semarang.

















USULAN PENELITIAN

UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI BARU
MENGGUNAKAN METODE KOLABORASI
PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 PURWOREJO
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan


UMP
 








Oleh
Eri Irwanto
NIM. 082110015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012
USULAN PENELITIAN


Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Baru Menggunakan Metode Kolaborasi Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013

 
 
1.     a. Judul Penelitian         :

b. Bidang Penelitian         : Bahasa
2.      Peneliti     :
a.       Nama                          : Eri Irwanto
b.      NIM                           : 082110015
c.       Program Studi            : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
d.      Fakultas                      : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
3.      Pembimbing I       :
a.       Nama                          : Drs. H. Bagiya, M. Hum
b.      NIP                            : 19640208 199003 1 002
c.       Jabatan Akademik     : Ketua Program Studi
4.      Pembimbing II     :
a.       Nama                          : Umi Faizah, M. Pd
b.      NBM                          : 19640208 199003 1 002
c.       Jabatan Akademik     : Sekretaris Program Studi
5.      Lokasi Penelitian              : SMA Negeri 4 Purworejo
6.      Lama Penelitian               : Satu bulan
Purworejo, 6 Mei 2012
Menyetujui,
Pembimbing I,


Drs. H. Bagiya, M. Hum
NIP.19640208 199003 1 002

Pembimbing II,


Umi Faizah, M. Pd
NBM. 1056645

Peneliti,


Eri Irwanto
NIM. 082110015
      Mengetahui,
       Ketua Program Studi PBSI,


                                                          Drs. H. Bagiya, M. Hum
      NIP.19640208 199003 1 002