Top Ad unit 728 × 90

“SETINGGI-TINGGINYA TUPAI MELOMPAT PASTI JATUH JUA” DALAM NASKAH DRAMA MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL


“SETINGGI-TINGGINYA TUPAI MELOMPAT PASTI JATUH JUA” DALAM NASKAH DRAMA MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL
KARYA ARIFIN C. NOER
 “Hendaklah engkau jujur meski hal tersebut merugikanmu, namu kejujuran sangat bermanfaat bagimu. Dan jauhilah kebohongan meski ia menguntungkanmu, namun sejatinya kebohongan merugikanmu.” ( Asy-Sya’bi )

                                             Panji Pradana / PBSI VI D

Di sekitar kita dan di manapun kita berada kita semua tahu akan banyak sekali ketidakjujuran yang terjadi dalam kejadian yang kita alami sehari-hari. Baik itu yang dilakukan rakyat biasa maupun yang dilakukan oleh para petinggi negara yang selalu ramai dibicarakan di media cetak maupun media elektronik. Kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan ketidakjujuran. Ketidakjujuran merupakan sesuatu hal yang diungkapkan bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya.
Ketidakjujuran sangat berpengaruh pada pola tingkah laku manusia dalam bermasyarakat atau sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan obantuan dari orang lain. Ketika kepercayaan itu di khianati oleh ketidakjujuran seseorang, maka akan sulitlah bagi orang tersebut untuk mempercayai kembali. Dengan demikian, bukanlah sangat penting kepercayaan seseorang bagi kehidupan kita.
Naskah drama Matahari Di sebuah Jalan Kecil karya Arifin C. Noer mengajak kita meneropong kedalam kisah nyata yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai masalah yang timbul dalam bermasyarakat dan juga liku-liku kehidupan yang mengikuti perkembangan zaman yang semakin membuat masyarakat kecil semakin tercekik.  

SI TUA                       :Tempe lima rupiah sekarang.
SI KACAMATA         :Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.
SI PECI                      :Semua perempuan ya ngeluh.
SI KURUS                 :Semua orang pengeluh.
SI KACAMATA       :Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.

                Dalam kutipan diatas jelas sekali bahwa banyak masyarakat yang mengeluh atas harga sembako yang semakin lama semakin meningkat. Kesejahteraan yang semakin jauh dari harapan.
            Matahari disebuah jalan kecil memunculkan pertentangan tokoh utama dalam suatu kondisi. Pertentangan antar pendapat dan keraguan karena pernah merasakan hal ketidakjujuran seseorang. Dan pada akhir cerita tokoh utama merasa kecewa dengan mengetahui kebenaran atas keraguan pada tokoh utama.
            Cerita diawali dengan Di sebuah jalan kecil terdapat sebuah pabrik es yang sudah sangat tua. Di depan bangunan pabrik es itu ada seorang wanita tua yang berjualan makanan berupa pecel. Pelanggannya kebanyakan dari pekerja pabrik juga. Saat itu yang berada di warung pecel tersebut ada Si Tua, Si Peci, Si Kurus, Si Kacamata, dan Si Pendek. Mereka sedang makan sekaligus mengeluh tentang harga makanan dan kebutuhan pokok yang terus beranjak naik sedangkan gaji mereka tak kunjung naik.

            SI TUA           :(menerima pecel) Sedikit sekali.
SIMBOK        :(tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)
SI PECI           :Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)
SI TUA           :Tempe lima rupiah sekarang.
           

            Kemudian datanglah seorang pemuda yang ikut makan disitu. Jam istirahat bagi para pekerja sudah habis jadi mereka memutuskan untuk kembali ke dalam dan yang tersisia disitu tinggal seorang pemuda tersebut. Lalu setelah selesai makan dan hendak membayar ternyata dompet pemuda itu ketinggalan dan ia meminta ijin kepada simbok untuk mengambil dompetnya dirumah akan tetapi simbok tidak percaya kepada pemuda itu dan terus memaksa pemuda tersebut untuk membayar makanannya.
SIMBOK (berdiri dan berseru)            :Hei, nanti dulu. Bayarlah baru kau boleh pergi.
PEMUDA                                            :Jangan berteriak. Tentu saja saya akan membayar. Tapi saya mesti mengambil uang dulu di rumah. Mbok tidak percaya?
SIMBOK        (diam)
PEMUDA                                            :Tunggulah sebentar, saya orang kampung sini juga.


Suasana semakin tegang ketika datang satu persatu pekerja yang ikut terlibat maupun melihat kejadian tersebut, mereka membela simbok dan terus memojokkan pemuda itu dikarenakan alasan pemuda tersebut tidak masuk akal. Mereka terus berdebat dan akhirnya mereka menyuruh pemuda tersebut untuk meninggalkan bajunya sebagai jaminan.

SI KURUS       :Tidak, kau tidak punya malu. Kau tidak malu makan tidak bayar. Tanggalkan celanamu! Tanggalkan!
SI SOPIR        :Suka! Tentu tidak, ya? Nah, copot bajumu!

Kemudian setelah semuanya pergi dan kembali bekerja, si pemuda tersebut menceritakan yang sebenarnya kepada simbok bahwa dia tidak bermaksud untuk berbohong. Dia datang ke kota ini dengan tujuan mencari pekerjaan akan tetapi malang nasibnya dia tak juga kunjung mendapat pekerjaan dan sudah tiga hari ini dia tidak makan. Simbok pun tersentuh hatinya mendengar cerita pemuda tersebut dan akhirnya mengembalikan baju pemuda itu kembali. Dan membiarkan pemuda tersebut pergi. Akan tetapi selang beberapa lama baru diketahui jika sebenarnya pemuda tersebut telah sering menipu dimana-mana.

PEMUDA      :Mbok, mula-mula maksud saya tidak akan menipu. Sesudah dua hari ini saya hanya minum air mentah saja. Tidak makan apa-apa.
PEMUDA      :Seminggu yang lalu saya masih di Klaten, bekerja di sebuah bengkel. Ya aku tidak cukup dapat makan. Sebab itulah aku mencari pekerjaan di sini.
PEMUDA      :Asalku sendiri dari desa, desa yang wilayahnya di gunung kidul, Wonogiri. Juga Mbok pun tahu tanah macam apa yang menguasai tanah macam gunung kidul itu. Tanah tandus. Tanah yang tidak mengkaruniakan buah bagi mulut yang papa. Sebab itulah aku turun dan mengembara sampai ke pesisir utara ini. Tapi jarak selatan sampai ke pesisir utara tidak juga memberikan apa-apa. Karenanya aku terus menyusuri ke Barat, ke tanah wali ini, dengan harapan tanah serta rumah di kota ini akan sudi memberi makan saya. Tujuh hari sudah saya disini dan dua hari sudah saya lapar. Dan pada hari ketiga kelaparan saya membawa saya kemari ke tempat Mbok berjualan pecel. Tidak, saya tidak bermaksud menipu. Sekali-kali tidak (menengadah) Tuhan, kutuklah aku!

PENJAGA MALAM             :Pasti dia. Kemarin malam dia juga menipu di sebuah warung di pasar Kauman.
SIMBOK                                :Haa….? (menelan ludah) Ya, Allah.


Dari naskah drama diatas memiliki amanat yaitu kita dilarang untuk berbohong karena kebohongan tersebut dapat mencelakakan diri kita sendiri dan juga orang lain. Hal ini dapat terlihat ketika Pemuda tersebut dihakimi oleh banyak orang dan kemudian terkuaklah kebohongannya. Jadi ketika kita telah merugikan orang lain kita juga harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang telah kita lakukan. Dan kita tidak boleh mudah percaya dengan orang lain hanya karena tampang kasian maupun cerita-cerita yang didramatisir oleh orang tersebut. Hal ini bisa terlihat pada bagian akhir naskah drama ini si Pemuda menceritakan tentang kisah hidupnya lalu simbok merasa kasian dan akhirnya simbok percaya dan mengembalikan lagi baju pemuda tersebut. Akan tetapi setelah diketahui ternyata pemuda tersebut berbohong.


“SETINGGI-TINGGINYA TUPAI MELOMPAT PASTI JATUH JUA” DALAM NASKAH DRAMA MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL Reviewed by frank ucup on 11:11:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.