Top Ad unit 728 × 90

PERBEDAAN PENYAMPAIAN PENGGUNAAN GABUNGAN ANTONIM DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA JAWA





PERBEDAAN PENYAMPAIAN PENGGUNAAN GABUNGAN ANTONIM
DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA JAWA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perbandingan Bahasa Nusantara
Dosen pengampu : Bakdal Ginanjar S.S.


a ump


                        Disusun oleh :
Nama                        : Panji Pradana
Nim                           : 092110144
Semester                   :VII /D

PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012
A.    Pendahuluan
                Bahasa sebagai suatu sistem memiliki seperangkat subsistem yang masing-masing mengorganisasikan komponen- komponennya sehingga membentuk keteraturan yang sistemik. Perangkat subsistem yang dimaksud adalah subsistem bunyi, subsistem gramatikal, dan subsistem makna. Tiap-tiap subsistem itu memiliki unsur-unsur yang secara terorganisasi membentuk subsistemnya sendiri-sendiri. Unsur-unsur subsistem yang dimaksud adalah fonem sebagai satuan lingual terkecil sampai wacana sebagai satuan yang terbesar.
Satuan lingual kata dalam semua bahasa mempunyai variasi bentuk dan makna sehingga berbagai jenis kata dapat diklasifikasi, sampai akhirnya ditemukan klasifikasi kata yang terkecil. Salah satu yang dapat dikenali adalah kata yang berantonim. Secara umum, antonim diartikan sebagai sekelompok kata yang memiliki makna berbalik atau lawan kata. Jadi, antonim merupakan suatu bentuk dan makna dari suatu bahasa yang memiliki makna berbalik atau lawan kata.
Dalam bahasa Indonesia terdapat contoh satuan lingual yang berantonim misalkan saja kata tua muda, kanan kiri, tinggi rendah. Dalam bahasa Jawa terdapat antonim yaitu enom tua, kiwo tengen, endep duwur, dll. Contoh antonim di atas merupakan sebuah hubungan tata letak antara kata yang berantonim dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa.Sesuai dengan kondisi masyarakatnya, suatu bahasa pasti juga dipengaruhi oleh keragaman budaya setempat. Oleh karena itu, penggunaan atau penyampaian satuan lingual antonim di setiap daerah juga berbeda dan dipengaruhi oleh budaya daerah tersebut.
Dari beberapa contoh antonim dan penjelasan di atas peneliti bermaksud untuk meneliti hubungan tata letak antara kata yang berantonim dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa.


B.     LANDASAN TEORI
Pengertian Antonim
Antonim secara umum didefinisikan sebagai sekelompok kata yang memiliki makna berbalik atau lawan kata.Definisi antonim berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu onoma yang artinya ‘nama’ dan anti yang artinya ‘melawan’. Secara harfiah antonim berarti ‘nama lain untuk benda lain pula’. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai : Ungkpaan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Misalnya kata ‘bagus’ berantonim dengan kata ‘buruk’, kata ‘besar’ berantonim dengan kata ‘kecil’. Sama halnya dengan sinonim, antonim pun terdapat pada semua tataran bahasa; tataran morfem, tataran kata, tataran frase, dan tataran kalimat. Hanya barangkali mencari contohnya dalam setiap bahasa tidak mudah. Dalam bahasa Indonesia untuk tataran morfem (terikat) barang kali tidak ada dalam bahasa Inggris kita jumpai contoh thankful dengan thankless, dimana ful dan less berantonim, antara progresif dengan regresif, dimana pro dan re berantonim, juga antara bilingual dengan monolingual dimana bi dan mono berantonim.
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satu ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertengahan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.

Contoh:
1.   Keras  x          lembek
2.   naik    x          turun
3.   Kaya   x          miskin
4.   Atas    x          bawah
5.  Surga   x          neraka
6. Kanan   x          kiri

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonim itu dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
                        1.    Antonim yang bersifat mutlak
                        Antonim mutlak adalah antonim yang tidak dapat ditawar-tawar lagi,         maksudnya tidak ada lawan kata selain kata itu.
            Contoh:
a.       Hidup     x  mati

Kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati, sebab sesuatu yang masih hidup tentunya belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya sudah tidak hidup lagi.

2.    Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi
   Contoh:
a.       besar   x  kecil
b.      terang  x gelap.
     Jenis antonim ini disebut bersifat relatif, karena batas antara yang satu dengan yang lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas.

3.    Antonim yang bersifat relasional
Contoh:
a.       membeli  x menjual
b.      suami      x istri,
c.       guru        x murid

     Antonim jenis ini disebut relasional, karena munculnya yang satu harus   disertai dengan yang lain. Adanya membeli karena adanya menjual, adanya suami karena adanya istri. Jika salah satu tidak ada maka yang lain juga tidak ada.  

4.    Antonim yang bersifat hierarkial
Contoh:
a.       Tantama    x bintara
b.      Gram         x kilogram

 Di atas bersifat hierarkial, karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki. Demikianlah, kata tantama dan bintara dalam satu garis kepangkatan militer, kata gram dan kilogram berada dalam satu garis jenjang ukuran timbangan.










C.    PEMBAHASAN

Daftar Antonim Dalam Bahasa Indonesia Dan Bahasa Jawa
NO.
BAHASA INDONESIA
BAHASA JAWA
1
Naik Turun
Munggah mudun
2
Atas Bawah
Ngisor nduwur
3
Keluar Masuk
Mlebu metu
4
Baik buruk
Elek apik
5
Hitam putih
Ireng putih
6
Hidup mati
Mati urip
7
Tua muda
Tua enom
8
Pulang pergi
Lungo teko
9
Depan belakang
Ngarep mburi
10
Lebih kurang
Kurang luwih
11
Panas dingin
Adem panas
12
Murah mahal
Larang murah

Berdasarkan daftar antonim kata dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa ternyata dalam setiap bahasa mempunyai perlawanan kata dengan menggunakan bahasanya masing-masing dan maknanya juga sama. Penjelasan tersebut juga mewakili terdapatnya penggunaan antonim kata pada setiap daerah tetapi di sini diwakili oleh bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa karena, bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional negara Indonesia dan bahasa Jawa merupakan bahasa di mana peneliti tinggal atau disebut juga bahasa Indonesia adalah belajar bahasa kedua dan bahasa Jawa adalah belajar bahasa pertama. Dari pembahasan dan daftar antonim kedua kata bahasa tersebut terdapat suatu perbedaan yakni tentang strukur letak penyampaian antonim pada bahasa Jawa yakni bahasa yang sedang dibandingkan.
Penyampaian antonim dalam bahasa Indonesia misalkan saja antonim kata keluar masuk, bila diucapkan dengan bahasa Jawa maka akan menjadi mlebu metu. Dari hal itu tampak sekali perbedaan atau perubahan letak penyampaian antonim. Kata keluar dalam bahasa Indonesia akan berpindah tempat di belakang kata masuk jika disampaikan dengan bahasa jawa,sebaliknya kata masuk akan berpindah ke depan menjadi awal kata antonim.

 (Bahasa Indonesia)                           (Bahasa Jawa)
TINGGI  RENDAH                       NDEP  DUWUR


Proses penyampaian di atas itu semata-mata bukan karena faktor ilmu sintaksis atau linguistik tetapi, proses perubahan tempat tersebut dipengaruhi oleh faktor adat kebudayaan masyarakat jawa. Kebudayaan masyarakat Jawa dalam menyampaikan suatu kata atau dalam berbahasa mengenal adanya suatu kriteria tingkatan dan kebanyakan masyarakat Jawa dalam mengatakan sesuatu masih sangat berbelit-belit tidak mau langsung ke poin pentingnya. Bahasa yang diungkapkan atau disampaikan oleh masyarakat Jawa ini menujukan bahwa bahasa Jawa yang halus dan sopan ini ingin menggambar bahwa masyarakatnya juga luhur, halus, dan sopan.
Dalam hal di atas dapat dijelaskan bahwa perubahan letak dalam menyampaikan antonim dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, itu terjadi karena faktor adat istiadat kebudayaan Jawa yang halus, sopan, dan luhur.


D.    SIMPULAN
Berdasarkan analisis daftar antonim kata dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan tata letak antara kata yang berantonim dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa terletak pada tata letak. Perubahan tata letak dimaksudkan pada gabungan antonim dua suku kata dalam bahasa Indonesia, kata pertama awalnya akan berpindah letak di belakang kata kedua sesudah disampaikan dengan bahasa Jawa sedangkan kata kedua akan berubah menjadi di awal gabungan antonim.
Perubahan tata letak tersebut dikarenakan oleh faktor adat istiadat kebudayaan masyarakat Jawa yang dalam berbahasa mengenal adanya kriteria tingkatandan kebanyakan masyarakat Jawa dalam mengatakan sesuatu masih sangat berbelit-belit tidak mau langsung ke poin pentingnya. Bahasa yang diungkapkan atau disampaikan oleh masyarakat Jawa ini menujukan bahwa bahasa Jawa yang halus dan sopan ini ingin menggambar bahwa masyarakatnya juga luhur, halus, dan sopan.
PERBEDAAN PENYAMPAIAN PENGGUNAAN GABUNGAN ANTONIM DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA JAWA Reviewed by frank ucup on 5:35:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.