Top Ad unit 728 × 90

sifat dan fungsi kritik sastra





Kritik Sastra merupakan pertimbangan baik dan buruknya suatu karya sastra baik tentang kelebihan dan kekurangan karya sastra tersebut.

1. Pengertian Kritik Sastra
Yaitu cabang ilmu sastra yang berurusan dengan penilain sastra/kegiatan yang menilai baikburuknya karya sastraatau kritik sastra itu semacam resensi (ulasan karya sastra).
-Prinsip kritik sastra yaitu mengobrak-abrik karya sastra untuk memperoleh baik dan buruk (Yudiono,sejarah sastra)
- Hb. Yasin
Kritik sastra adalah pertimbangan baik atau buruk sesuatu hasil karya sastra.
-Rainuddin Fanama dan pakar lain mengatakan
Kritik Sastra semacam pertimbangan/menunjukkankelebihan dan kekurangan dalam karya sastra.

2. Kedudukan Karya Sastra
Menurut Gunawan Muhamad Arif budiman
*menganggap kritik sastra termasuk karya sastra alasannya karena kritik sastra merupakan dekriasi/penciptaan kembali.
*Y.U Nasution mengatakan kritik sastra merupakan suatu ilmu karena didalamnya ada kaidah-kaidah umumtertentu sebagaimana yang biasanya dimiliki sastra adalah objektifdan ilmiah.
*Efendi, mengetengahi pendapat itu,yaitu Kritik sastra bukan karya sastra dan juga bukan ilmu. Dimana kritik sastra memiliki kaidah yang umum.
Hasil karya sastra dapat berbeda karena keberadaan visi dan misi kemampuan yang menganalisis dan dari sudut mana ia memandang hal tersebut.


3. Sifat dan fungsi Kritik Sastra
*Sifat Kritik Sastra; bersifat ilmiah karena terikat pada teori, metode dan objek.
*Fungsi Kritik Sastra ”memberi penilain atas karya sastra berdasarkan teori dan
sejarah sastra. Artiya kajian sastra memerlukan teori dan begitu juga karya
sastra sebaliknya. Kritik sastra memberikan sumbangan/pendapat terhadap
bahan-bahan bagi penyusun/pengembangan teori sastra/sejarah sastra.
*Karya sastra memberikan petunjuk kepada pembaca tentang karya sastra yang
unggul /yang redah, yang asli yang bukan sastra memberikan sumbangan
pendapat/ pertimbangan kepada pengarang tentang karya nya.




4. METODA KRITIK SASTRA.(Menurut Mursal Esten)
Dalam melakukan penelitian dan kritik sastra terhjadap sebuah ciptaan sastra dikenal 2 metode;
1). Ganazeit (menyeluruh)
Yaitu metode yang digunakan untuk menangka, mempelajari dan menjelaskan karya sastra secara keseluruhan. Keseluruhan lebih penting dari pada bagian-bagiannya.
Contohpermainan musik, bukan bukan saja gitarnya, drumnya, pianonya tapi keseluruhan dari instrumen musik itu.
2). Metode Analitik (sebagian)
Yaitu Metode yang menganalisa karya sastra bagian demi bagian. Contoh;temnya apa? Alurnya bagaimana?

4. JENIS-JENIS KRITIK SASTRA
Menurut Ensikklopedi Indonesia meluputi;
-Kritik Tektual; Cabang ilmu yang menilai buruknya suatu karya sastra berdasarkan teks yang ada.
-Kritik Linguistik; Kritik sastra yang mengkaji tentang segala bahasa linguistik.
-Kritik Historik; Kritik sastra yang mengkaji penilain sastra tentang baik buruknya
suatu karya sastra tentang sejarah.
-Kritik Biografik; Kritik sastra yang mengkaji penyebaran organisme dalam ruang
dan waktu serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
-Kritik Komperatif; Kritik sastra yang mengkaji tentang penilain baik buruknya
karya sastra dengan cara membandingkan karya sastra.
-Kritik Stilistik-Estetik; Kritik sastra yang mengkaji tentang keindahan, kesenian
karya sastra.
-Kritik Sosiologik; Kritik sastra yang mengkaji tentang struktur-struktur sosial
danproses-proses sosial termasuk didalamnya perubahan-perubahan sosial.
-Kritik Idiologik; Kritik sastra yang mengkaji tentang suatu pemikiran utuh yang
mengandung kaedah-kaedah dan nilai0nilai yang dianggap dapat memberi petunjuk
mengenai mana yang baik dan buruk.
-Kritik Impresenistik; Kritik sastra yang mengkaji tentang suatu ekspresi seni yang
tidak hanya ditemukan dalam seni lukis, tetapi juga dalam satra dan seni.
-Kritik Integratif; Kritik sastra yang mengkaji tentang suatu sosiologis yang
mengacu pada perkembangan proses kebudayaan.

Berdasarkan Teori Pendekatannya kritik sastra dikenal empat jenis, diantaranya yaitu;
a). Kritik Sastra Mimelik.
Yaitu kritik sastra yang menekankan perhatian/analisisnya pada ketepatan /kesesuian karya sastra dengan objek yang diakui.
# Aristoteles #
”memandang kareya sastra sebagai tiruan/pembayangan dunia kehidupan yata.”
#Plato #
”Seni hanyalah tioruan alam yang nilainya jauh dibawah realitas dan ide.”
b). Kritik sastra Pragmatik.
Yaitu kritik sastra yang menelaah menfaat karya sastra bagi masyarakatatau publik pembaca.
”Memandang karya sastra ditentukan oleh publik pembaca selaku penyambut karya sastra, dengan demikian karya sastra dipandang sebagai karya seniyangbberasil atau unggul apabila bermanfaat bagi masyarakat seperti dapat menghibur, menyenangkan, mendidik dll.
c). Kritik Sastra Ekspresif;yaitu;
* Kritik sastra berarti sastra yang menelaah hubungan karya sastra dengan dunia batin pengaran (pengalaman jiwa pengarang).
* Memandang karya sastra sebagai peryataan dunia batin pengarang.
d). Karya sastra Objektif.
Yaitu kritik sastra yang menelaah struktur karya sastra dengan kemungkinan membebaskannya dari dunia pengarang, pembaca, dan situasi zamannya.
*Memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dario dunia pengarang dan latar belakang sosial budayazamannya sehingga karya sastradapat dianalisis berdasarkan strukturnya sndiri

BAB II
FUNGSI DAN PERAN KRITIK SASTRA

  1. Fungsi Kritik Sastra
Jika kita lihat pengertiannya, kritik sastra melakukan penilaian terhadap sebuah karya sastra dengan mempertimbangkan baik buruknya karya sastra dari berbagai aspek kepengarangan serta menyandarkan diri pada suatu teori sastra tertentu.[3]Secara garis besar dapat kita katakan bahwa kritik sastra mempunyai fungsi sebagai media penghantar antara sastrawan atau pencipta karya sastra dan penikmat sastra untuk memahami karya sastra itu sendiri. Baik atau buruknya sebuah karya sastra akan diketahui melalui kritik sastra, dimana seorang kritikus bertugas menerangkan teknik dan arti karya sastra. Suatu karya sastra yang belum atau sulit difahami belum tentu tidak mengandung isi sama sekali, melainkan disebabkan oleh idiom yang berbeda, realitas sosial, dan munculnya pembaharuan yang tidak langsung dapat diterima tetapi membutuhkan waktu dan proses.[4]
Tentang peranan dan fungsi kritik sastra dapat diketahui melalui pemahaman tentang hakekat perbuatan penciptaan kritik sastra serta manfaatnya bagi pembaca dalam membantu memahami suatu karya sastra.[5]Kritik sastra berfungsi sebagai sarana penghubung antara karya sastra dengan masyarakat penikmat karya sastra.[6]Tak terlepas dari kepentingan kritik sastra sendiri, yaitu untuk penerangan bagi masyarakat selain untuk mendukung perkembangan kesusastraan sendiri. Kritik sastra juga berfungsi sebagai guide pembaca dalam menikmati karya sastra di samping sebagai pendorong kepada sastrawan terutama sastrawan muda yang baru mulai mengembangkan bakatnya.
Pada intinya, kritik sastra memiliki tiga fungsi, yaitu:
  1. Kritik sastra berguna bagi keilmuan sastra sendiri.
  2. Kritik sastra berguna bagi perkembangan kesusastraan.
  3. Kritik sastra berguan bagi masyarakat umum dimana kritik sastra memberikan penjelasan tentang karya sastra.
Kritik sastra sebagai suatu karya seorang kritikus juga memiliki fungsi sebagai pembina tradisi kultural. Untuk memenuhi fungsi kritik sastra, beberapa syarat yang harus diperhatikan, antara lain:
1)      Harus berupaya membangun dan menaikkan tingkat kehidupan sastra;
2)      Dijalankan secara objektif tanpa prasangka, dalam arti dengan jujur mengatakan yang mana yang baik dan yang buruk;
3)      Mampu memperbaiki cara berfikir, cara hidup, dan cara berkarya seorang sastrawan;
4)      Dapat menyesuaikan diri dengan lingkup kebudayaan dan aturan nilai yang berlaku serta memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap pembinaan kebudayaan dan aturan nilai yang benar;
5)      Dapat memberikan rangsangan kepada pembaca agar berpikir kritis dan dapat meningkatkan kemampuan penilaian dan penghargaan masyarakat terhadap karya sastra.
Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa kritik sastra berfungsi memberikan penilaian atas baik buruknya sebuah karya sastra. Penilaian ini dilakukan dengan alasan-alasan tertentu, tidak hanya berdasarkan ketentuan yang diberikan oleh seorang kritikus.
Kritik sastra yang berfungsi mendidik pembaca untuk menghargai karya sastra yang memiliki nilai yang berkualitas. Kebanyakan pembaca telah memiliki jiwa kritis setelah menikmati sebuah karya sastra, akan tetapi beberapa hal yang menjadi kendala dalam menuliskan kritikan tersebut diantaranya; perlu memiliki konsep atau teori sastra. Meskipun konsep ini dapat dipelajari, namun banyak orang yang senang melakukan kritik sastra secara terbuka (lisan). Perlu memiliki kemampuan menulis, tersedianya media massa atau penerbitan, dan perlunya berkembang tradisi dalam mengkritik sastra.
Konsep tentang satra berhubungan dengan penilain karya sastra berupa nilai baik atau buruk dan indah atau tidak indah. Kemampuan menulis mewujudkan kritikan itu. Karena melalui tulisan itulah pembaca dapat membuktikan bahwa ia telah melakukan proses kritik sastra. Media penerbit diperlukan baik secara sederhana maupun kompleks.[7]Terbitan sederhana berupa stensil, sedangkan secara kompleks berupa surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya yang memerlukan proses yang begitu rumit. Sedangkan mentradisikan kritik sastra merupakan kebiasaan masyarakat sastra dalam menaruh perhatian terhadap karya sastra sehingga masyarakat mengakui bahwa kritik sastra memiliki manfaat yang sangat besar.
1. Fungsi Kritik Sastra Bagi Keilmuan Sastra.
Dalam menilai sebuah karya sastra, seorang kritikus perlu dah harus menggunakan kritik sastra sebagai dasar hukumnya. Akan tetapi, kritik sastra tidak hanya menilai tetapi juga menganalisis dan dan hal lain sebagainya yang termasuk di dalamnya adalah pendefinisian, penggolongan, pengkiasan, penguraian, dan penilian (evaluasi).
Kritik sastra berusaha menguraikan unsur-unsur karya sastra berdasarkan teori sastra. Apakah bernilai atau tidak. Memiliki kualitas seni atau tidak. Kemudian mempertimbangkan seluruh penilaian yang menjadi kesatuan erat, barulah seorang kritikus menentukan karya sastra itu bernilai tinggi, sedang, kurang, atau tidak bernilai.

2. Fungsi Kritik Sastra Bagi Perkembangan Kesusastraan.
Dalam menilai sebuah karya sastra, kritik menjelaskan tentang diantaranya penggunaan bunyi, gaya bahasa, dan sebagainya juga diuraikan pikiran lain di luar unsur karya sastra, yaitu nilai psikologi (jiwa), pandangan hidup, dan filsafat.
Dengan melakukan perbandingan dengan karya sastra lain yang sudah memiliki nilai sastra yang tinggi, sebuah karya sastra dibandingkan dalam penilaiannya. Beberapa hal ini secara signifikan mampu mendorong sastrawan yang sudah mumpuni ataupun sastrawan muda untuk meningkatkan mutu karyanya sehingga disinilah letak perkembangan karya sastra dengan banyak bermunculan karya-karya yang baru dan inovatif.
3. Fungsi Kritik Sastra Bagi Masyarakat.
Masyarakat umum dan masyarakat sastra yang dalam hal ini termasuk ahli teori sastra, ahli sejarah sastra, kritikus sastra, dan penikmat sastra (pembaca) dapat mengetahui nilai sebuah karya sastra melalui kritik sastra. Kritik sastra dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang mungkin timbul dari diri pembaca setelah menikmati sebuah karya sastra.[8]
Khususnya masyarakat umum yang tidak mengetahui dan menguasai teori sastra, kritik sastra berfungsi dan berperan sebagai mediator antara pembaca dan karya sastra dimana kritik sastra menjelaskan secara keseluruhan hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra tersebut. Selain itu kritik sastra juga secara tidak langsung menggugah pembaca untuk menjadi seorang kritikus meskipun kritikannya tidak berupa tuliasan ilmiah ataupun hanya sebuah resensi. Pengetahuan pembaca yang bertambah tentang teori sastra dengan tidak langsung pembaca akan mengungkapkan “karya ini baik” dan “karya ini buruk”.
Kritik sastra berguna memberikan bahan-bahan dalam penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra. Apabila kita simpulkan secara sederhana, kritik sastra memiliki fungsi sebagai berikut:
2)      Mendudukan persoalan yang muncul dan menjawab pertanyaan yang timbul setelah menikmati karya sastra yang dilakukan dengan menafsirkan, menganalisis, dan mengevaluasi (memberikan penilaian) terhadap karya sastra berdasarkan teori dan sejarah sastra.
3)      Menjadi media konduksi antara karya sastra dengan masyarakat penikmat sastra berupa pemberian motivasi kepada penikmat sastra untuk secara tidak langsung menjadi seorang kritikus sastra.
4)      Menjadi guidepembaca dalam menikmati sebuah karya sastra yang baik dan karya sastra yang tidak baik, yang asli dan tidak asli.
5)      Menjadi pengarah atau pembimbing dengan memberikan pendapat atau pertimbangan bagi sastrawan muda atau pengarang pemula untuk meningkatkan kualitas karya sastranya.
6)      Mematangkan pemikiran ataupun ide bagi pengarang yang telah banyak berkarya dan banyak mendapat impuls dari kritik sastra.
7)      Menjadi media untuk membangkitkan emosi yang baik terhadap karya-karya pengarang tertentu.
8)      Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan bagi penyusunan atau pengembangan teori sastra dan sejarah sastra.
  1. Peran Kritik Sastra
Karya sastra sebagai karya seni menghendaki penilaian yang bermutu seni. Disinilah kritik sastra berperan memberikan nilai tinggi rendahya karya tersebut. Peran kritik sastra sangatlah besar dalam perkembangan kesusastraan terutama dalam perkembangan ilmu lainnya, karena kritik sastra memberikan niali kepada sebuah karya sastra yang mengambil dari beberapa ilmu di antaranya, filsafat, ilmu sosial, politik, dan sebagainya. Selain kritik sastra memberikan penilaian yang berdasarkan hakikat sastra dan hukum-hukum objektif. Seorang kritikus memerlukan pengetahuan lain selain teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra itu sendiri. Sehingga, perkembangan sastra ini diikuti berkembangnya pula pengetahuan yang lain seperti ilmu sosial, psikologi, filsafat, etika, agama bahkan ilmu eksak sekalipun dan ilmu lain sebagainya.
Fungsi dan peran kritik sastra tidak dapat dibedakan secara jelas. Seperti dalam fungsi kritik sastra yang telah dijelaskan di atas, kritik sastra juga memegang peranan penting dalam penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra.[9]Seperti menyusun perkembangan penggunaan unsur bunyi, kombinasi kata, gaya kalimat, gaya bahasa, diksi, dan lain-lain. Sama halnya dengan pikiran yang dikemukakan oleh seorang sastrawan yang berisi ajaran filsafat, pandangan hidup dan lain sebagainya.
Peran yang paling utama dalam kesusastraan adalah berkembangnya penyusunan teori sastra sehingga unsur-unsur kesusastraan dan unsur-unsur karya sastra tetap terjaga dan mengalami peningkatan baik secara kuantitif maupun kualitatif dengan angka yang cukup signifikan.
Pada dasarnya, seorang kritikus yang bertanggung jawab memiliki tiga peran, yaitu[10]:
1.      Menjalankan disiplin pribadinya sebagai jawaban terhadap karya sastra tertentu. Berbeda dengan estetikus, seorang kritikus sastra adalah orang yang terlatih dan mampu memisahkan antara hal yang bersifat emosional dan hal yang rasional.
2.      Bertindak sebagai pendidik yang berupaya membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat.
3.      Bertindak sebagai hakim yang bijaksana yang dapat membangkitkan kesadaran serta menghidupkan nurani, akal budi, intelektual, dan perasaan.


BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Akhirnya, penulis dapat menyimpulkan secara sederhana dari beberapa sumber yang telah penulis baca adalah sebagai berikut:
“Fungsi kritik sastra adalah untuk menentukan nilai baik dan atau nilai tidak baik terhadap suatu karya sastra dengan menafsirkan, menguraikan, dan memberikan penilaian sesuai dengan hakikat sastra, unsur-unsur sastra dan unsur-unsur lain di luar sastra.
Sedangkan peran kritik sastra adalah membantu dalam penyusunan teori sastra dan sejarah sastra selain membantu dalam keilmuan sastra, perkembangan kesusastraan dan sebagai media pemahman bagi masyarakat sastra maupun masyarakat umumnya tentang penerangan karya-karya sastra.”
  1. Saran
Sekelumit fungsi dan peran sastra telah penulis sajikan dalam makalah ini. Kritik membangun dan saran dari pembaca makalah ini khususnya akan membantu dan terus memeberikan motivasi positif dalam mempelajari mata kuliah kritik sastra.
Saran penulis untuk perkembangan sastra dan kritik sastra adalah selayaknya kritikus tidak canggung dan dengan tegas mengatakan ini baik dan ini tidak baik dalam menanggapi sebuah karya sastra. Kritikus juga harus meminimalisir subjektifitas dalam mengkritik karya sastra karena selain harus melewati pendekatan teori sastra, penilaian juga harus dilihat dari aspek diluar sastra bahkan bidang keilmuan yang hampir tidak ada hubungannya dengan sastra.
http://4.bp.blogspot.com/-Q9qv1EpJg4s/TXorgl4Ze7I/AAAAAAAAAJQ/5TUHM3bVjLc/s200/imagesCAZG29Y6.jpg
Kritik sastraadalah salah satu dari tiga disiplin ilmu utama dalam ilmu sastra. Teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra merupakan tiga pilar utama yang tidak dapat dipisahkan dalam ilmu sastra. Ketiga bidang tersebut saling membutuhkan dan saling melengkapi. Dengan demikian perkembangan kritik sastra memiliki peran dan fungsi yang besar dalam mendorong perkembangan ilmu sastra. Kritik yang dimaksud dalam hal ini merupakan kritik yang berkualitas. Yaitu kritik yang mempunyai penilaian objektif, memiliki pendekatan yang memenuhi kaidah-kaidah keilmuan dan menggunakan metodologi yang benar.

Dalam mengkritik karya sastra, seorang kitikus tidaklah bertindak semaunya. Ia harus melalui proses penghayatan keindahan sebagaimana pengarang dalam melahirkan karya sastra. Karena kritik sastra sebagai kegiatan ilmiah yang mengikat kita pada asas-asas keilmuan yang ditandai oleh adanya kerangka, teori, wawasan, konsep, metode analisis dan objek empiris.
Setidaknya, ada beberapa manfaat kritik sastra yang perlu untuk kita ketahui, sebagaimana berikut;

1. Kritik sastra berfungsi bagi perkembangan sastra
Dalam mengkritik, seeorang kritikus akan menunjukkan hal-hal yang bernilai atau tidak bernilai dari suatu karya sastra. Kritikus bisa jadi akan menunjukkan hal-hal yang baru dalam karya sastra, hal-hal apa saja yang belum digarap oleh sastrawan. Dengan demikian, sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memperluas cakrawala kreativitas, corak, dan kualitas karya sastranya. Jika sastrawan-sastrawan mampu menghasilkan karya-karya yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dengan kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreativitas sastrawan, dan pada akhirnya akan meningkatkan perkembangan sastra itu sendiri.
Esai adalah karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengemukakan pendiriannya, pikirannya, cita-citanya, atau sikapnya terhadap suatu persoalan yang disajikan. Dengan kata lain, esai sastra adalah karang pendek yang merupakan laporan hasil eksplorasi penulis tentang karya atau beberapa karya sastara yang sifatnya lebih banyak menekankan sensasi dan kekaguman penelaah tentang hasil hasil bacaannya atau hasil belajarnya.

Arief Budiman dalam Kritik dan Penilaian (1993: 10) menarik pengertian esai sebagai karangan yang sedang panjangnya, yang membahas persoalan secara mudah dan sepintas lalu dalam bentuk prosa.
Esai sastra sebagai bagian dari kritik sastra yang mempunyai ciri dan karakteristik sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat membedakan yang mana kritik dan yang mana esai sastra ketika disuatu waktu kita membutuhkan referensi untuk kepentingan penelitian ataupun penambah wawasan dalam mengasah karya esai kita. dalam hal ini esai sastra hanya bersifat mengemukakan masalah atau persoalan kepada khalayak ramai, dan bagaimana penyelesaian tersebut terarah kepada pembaca. Sedangkan kritik sastra adalah penilaian terhadap suatu karya sastra melalui proses dengan menggunakan kriteria tertentu.

2. Kritik sastra berfungsi untuk penerangan bagi penikmat sastra
Dalam melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar, menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya sastra yang dikritik. Dengan demikian, pembaca awam akan mudah memahami karya sastra yang dikritik oleh kritikus.
¬Di sisi lain, ketika masyarakat sudah terbiasa dengan apresiasi sastra, maka daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra akan semakin baik. Masyarakat dapat memilih karya sastra yang bermutu tinggi (karya sastra yang berisi nilai-nilai kehidupan, memperhalus moral, mempertajam pikiran, kemanusiaan, kebenaran dll).

3. Kritik sastra berfungsi bagi ilmu sastra itu sendiri
Analisis yang dulakukan kritikus dalam mengkritik harus didasarkan pada referensi-referensi dan teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula,
perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra baru yang seperti inilah yang justru akan mengembangkan ilmu sastra itu sendiri, dimana seorang pengarang akan dapat belajar melalui kritik sastra dalam memperluas pandangannya, sehingga akan berdampak pada meningkatnya kualitas karya sastra.
Fungsi kritik sastra di atas akan menjadi kenyataan karena adanya tanggung jawab antara kritikus dan sastrawan serta tanggungjawab mereka dalam memanfaatkan kritik sastra tersebut.
Dengan demikian, tidak perlu diragukan bahwa adanya kritik yang kuat serta jujur di medan sastra akan membawa pada meningkatnya kualitas karya sastra. Karena sastrawan akan memiliki perhitungan sebelum akhirnya dipublikasikannya karya sastra tersebut. Oleh sebab itu, ketiadaaan kritik pada medan sastra akan membawa pada munculnya karya-karya sastra yang picisan.

Raminah Baribin menambahkan, bahwasanya tidak semua
kritik sastradapat menjelaskan fungsinya, oleh sebab itu kritik sastra harus memiliki tanggung jawab atas tugasnya serta mampu membuktikan bahwa dengan adanya kritik yang dilakukan oleh kritikus mampu memberikan sumbangan yang berharga terhadap pembinaan dan pengembangan sastra. Karnanya kritik sastra berfungsi apabila;

1) disusun atas dasar untuk meningkatkan dan membangun sastra,
2) melakukan kritik secara objektif, menggunakan pendekatan dan metode yang jelas, agar dapat dipertangungjawabkan
3) mampu memperbaiki cara berpikir, cara hidup, dan cara bekerja sastrawan,
4) dapat menyesuikan diri dengan ruang lingkup kebudayaan dan tata nilai yang berlaku, dan
5) dapat membimbing pembaca untuk berpikir kritis dan dapat meningkatkan apresiasi sastra masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Djoko, Rachmat Pradopo. 2003. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
_______________________. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
KS, Yudiono. Drs. 1984. Telaah Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung.
Semi, Atar Drs. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung.
Yusuf, Suhendra, M.A. 1995. Leksikon Sastra. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju.

sifat dan fungsi kritik sastra Reviewed by frank ucup on 8:50:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.