Top Ad unit 728 × 90

menulis cerpen dengan media online ( sebuah pengaaran terbaru untuk SMK)



BAB I

A.        PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Kemajuan perkembangan peradaban manusia secara praktis pragmatis memberikan manfaat dalam kemajuan dunia komunikasi antarmanusia. Hal ini berpengaruh terhadap pola dan sistem berkomunikasi yang ada sehingga jarak antara mereka bukan lagi hambatan yang menjadi beban. Kemajuan dunia teknologi informasi memberikan warna dan nuansa baru dalam penyampaian pesan dan gagasan. Dunia berkomunkasi baik lisan maupun tertulis dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat dan terpadu.
Di SMK, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang amat perlu bagi pengembangan kompetensi siswa demi masa depannya sehingga dibutuhkan wahana pembinaan yang tepat dan intensif. Dalam konteks demikian keterampilan menulis difokuskan agar siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam karangan melalui berbagai bentuk, menulis surat pribadi, meringkas buku bacaan, membuat poster, dan menulis catatan dalam buku harian. Sedangkan pada kemampuan bersastra, standar kompetensi aspek menulis dijadikan satu dengan aspek keterampilan lainnya, yakni siswa mengapresiasi ragam sastra siswa melalui mendengarkan dan menanggapi cerita pendek, menulis prosa fiksi sederhana, memerankan drama anak tanpa teks, dan menulis puisi bebas (Depdiknas, 2006:16).
Pembelajaran menulis cerita pendek penting bagi siswa karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran secara lebih terbuka dan bebas. Dalam kaitan ini menulis cerpen merupakan kegiatan menulis sebuah peristiwa atau kejadian pokok dan di sisi lain menulis cerpen merupakan dunia alternatif kreatif bagi pengarang. Sumardjo (2001: 84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni atau keterampilan menyajikan cerita. Menulis cerpen merupakan seni keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan sebagai dunia alternatif pengarang.
Dalam proses belajar sering ditemukan kemampuan menulis cerpen yang dimiliki siswa tidaklah sama. Sebagian siswa mampu menulis cerpen dalan kriteria ”cukup baik” dan sebagian siswa yang lain masih belum mampu menulis cerpen dengan baik. Semua ini berkaitan dengn proses layanan pembelajaran serta minat belajar siswa meskipundapat dikatakan bahwa masih rendah kemampuan menulis cerita pendek bagi siswa pada umumnya. Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya minat menulis siswa. Dari beberapa sebab rendahnya kualitas menulis siswa dapat disimpulkan bahwa perlu adanya penanganan khusus dalam pembelajaran menulis cerita pendek siswa, khususnya siswa sekolah menengah atas. Inti penanganan tersebut adalah diperlukannya suatu strategi pembelajaran menulis cerita pendek bagi siswa yang dapat memicu minat dan ketertarikan menulisnya. Sehubungan dengan ini dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah guru memegang peranan penting sehingga pola atau strategi pembelajaran yang tepat dapat dijadikan sebagai inti penanganan dalam mengolah, mengelola, dan memperbaiki pembelajaran menuju tingkat produktivitas kreatif siswa. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan merencanakan strategi pembelajaran yang menarik.
Pembelajaran sastra di sekolah diakui masih sangat minim dan kurang atraktif. Kenyataan ini berdampak pada lemahnya apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap karya sastra. Pembelajaran sastra di sekolah sering dianaktirikan. Banyak sebab mengapa hal itu terjadi. Kalangan guru sering melewati atau tidak mengajarkan sastra. Berbagai dalih dan opini bermunculan. Pembelajaran sastra dianggap tidak penting, menghabiskan waktu, dan tidak dapat mendongkrak nilai ujian nasional. Sebab, soal-soal yang terkait dengan materi sastra sangat sedikit. Alasan lainnya adalah langkanya media yang bisa dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran sastra, baik buku, materi, media, maupun sarana lain. Ketidaklengkapan sarana atau ketiadaannya sering membuat guru menggagalkan atau mengabaikan pembelajaran sastra, bukan menantang sikap kreatifnya mencari alternatif solusi yang sesuai dengan potensi dan sarana lingkungan. Perihal ini sering mengakibatkan pembelajaran sastra hanya difokuskan pada kegiatan yang bersifat hafalan, bukan kegiatan apresiatif, yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan dan wahana berpikir kritis dan kreatif siswa. Oleh sebab itu, tak pelak lagi manakala kedaan pembelajaran sastra di sekolah kini lebih banyak bersifat menghafal materi belaka, tidak bersifat apresiatif yang dikehendaki untuk menuju tingkat produktif.
Kondisi dan keadaan di atas mengantarkan orang berkesimpulan bahwa pembelajaran menulis sastra dan mengapresiasinya masih sangat kurang dan jarang dilakukan perubahan oleh guru. Guru yang menyadari kondisi dan berkeinginan melakukan perubahan tidak demikian banyak, demikian halnya dengan guru yang inovatif, mampu memicu motivasi semangat dan niat siswa serta memberikan bimbingan yang tepat sesuai dengan talenta siswa. Dari paparan tersebut dapat diindikasikan bahwa pembelajaran sastra mengalami kegagalan. Hal ini sangat disayangkan mengingat pembelajaran sastra memberi kontribusi yang besar dalam usaha pembinaan mental serta memperkaya kehidupan rohaniah manusia.
Realitas yang dihadapi di sekolah, pembelajaran sastra kurang diperhatikan dan tidak mendapat penanganan dengan baik, baik dari segi waktu, sarana, dan model pembelajaran. Guru menganggap pembelajaran sastra hanya sebagai pelengkap dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra yang merupakan integritas dari pembelajaran Bahasa Indonesia seharusnya diapresiasi dengan model pembelajaran yang inovatif sehingga siswa mampu mengapresiasi karya sastra dengan baik. Pendek kata, pembelajaran sastra sangat penting yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap karya sastra yang dapat diambil manfaatnya sebagai sarana pembentuk kepribadian dan moral.
Pengajaran sastra di sekolah menengah pada dasarnya bertujuan agar siswa memiliki rasa peka terhadap karya sastra yang berharga sehingga merasa terdorong dan tertarik untuk membacanya. Dengan membaca karya sastra diharapkan para siswa memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, mengenal nilai-nilai, dan mendapatkan ide-ide baru (Semi, 1990:152-153). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pokok pengajaran sastra adalah mencapai kemampuan apresiasi kreatif. Apresiasi kreatif menurut J. Grace (dalam Semi 1990:153) adalah berupa respons sastra. Respons ini menyangkut aspek kegiatan terutama berupa perasaan, imajinasi, dan daya kritis. Dengan memiliki respons sastra siswa diharapkan mempunyai bekal untuk mampu merespons kehidupan ini secara imajinatif karena sastra itu sendiri muncul dari pengolahan tentang kehidupan ini secara artistik dan imajinatif dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Tumbuhnya kesadaran siswa akan pentingnya mengapresiasi sastra akan mendorong mereka pada kemampuan melihat permasalahan secara objektif, membentuk karakter, merumuskan watak dan kepribadian. Pendeknya, bila salah satu tujuan pendidikan adalah meningkatkan kualitas kemampuan seseorang,  tidak bisa tidak, pengajaran sastra mesti diletakkan sama pentingnya dengan pengajaran lainnya. Rahmanto (1998:16) mengungkapkan empat manfaat pembelajaran sastra, yaitu (1) membantu keterampilan berbahasa, (2) meningkatkan kemampuan budaya, (3) mengembangkan cipta dan rasa, (4) menunjang pembentukan watak. Sebuah karya sastra dapat membangkitkan daya kreativitas serta imajinasi siswa. Rangsangan dari sebuah karya sastra mengedepankan sebuah kesadaran kreativitas di dalam diri siswa yang akan dibutuhkan oleh cabang ilmu apa pun yang akan dikehendaki.
Kemajuan dunia teknologi informasi seperti sekarang amat memberikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan imajinasinya. Hal ini lam berbagai  sejalan dengan kemajuan sarana infiormasi dalam berbagai bentuk, seperti handphone dan internet. Keberadaan media ini amat mendukung dalam pembelajaran menulis cerita pendek. Internet serta HP mobile sekarang sudah menjadi pegangan pribadi per pirbadi siswa. Oleh sebab itu, amat layak jika guru memanfaatkan kemajuan teknologui ini sebagai sarana pengembangan imajinasi dan kompetensi menulis cerita pendek.

B.       Rumusan Masalah
Secara umum inti masalahnya adalah bagaimanakah meningkatkan pebelajaran menulis cerpen dengan strategi on-line di kelas X SMK Muhammadiyah Sampang.
Secara khusus masalah dalam penelitian ini sebagai berikut
a.       Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMK Muh. Sampang pada tahap kreatif imajiner?
b.      Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMK Muh. Sampang pada tahap mengembangkan cerita?
c.       Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi on-line untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMK Muh. Sampang dalam format tulisan yang baik dan benar ?




C.     Tujuan Penelitian
v  Memberi peluang siswa mengembangkan gagasan dan imajinasinya dalam bercerita serta mengetahui faktor penghambat ketidaksuburan budaya menulis cerita pendek di kalangan siswa SMK.
v  Menentukan alternatif solusi pengembangan penulisan cerita pendek di kalangan pelajar SMK sehingga pelajaran Bahasa Indoensia tetap menarik dan menyenangkan dengan menafaatkan kemajuan dunia teknologi informasi melalui jaringan dalam bentuk on-line.
v  Mengajukan bentuk alternatif pengembangan budaya menulis cerita pendek yang menekankan pada kebebasan berekspresi imjinatif dalam kemasan berbahasa dengan baik dan benar.

D.        Manfaat Penelitian
Suatu penelitian ilmiah harus memberikan manfaat. Adapun manfaat yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Manfaat Teoritis
a.       Menemukan teori baru mengenai penulisan cerpen melalui media online.
b.      Sebagai dasar untuk mengolah suatu ide-ide inovatif dalam pembelajaran
      2.    Manfaat Secara Praktis
a.  Memberikan suatu kermudahan dalam mempelajari pembelajaran sastra
b.  Siswa dapat mengembangkan pikirannya melalui sebuah karya sastra dengan menulis
c. Siswa dapat menjadi lebih kritis terhadap suatu kejadian dengan memberikan media online




BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A.    Tinjauan Studi Terdahulu
Tinjauan Studi terdahulu berfungsi untuk memberikan pemaparan tentang penelitian sebelumnya yang telah dilakukan. Tinjauan terhadap hasil penelitian sebelumnya ini hanya akan dipaparkan beberapa penelitian sejenis yang berkaitan dengan permasalahan pembelajaran keterampilan menulis cerpen dengan media online.
Penelitian yang dilakukan oleh Kasdi Haryanta dengan judul ”Pengajaran Penulisan Cerita Pendek dengan Strategi Online Pada Siswa Kelas XII  Xaverius 1` Palembang”. Hasil penelitian menunjukkan minat dan motivasi dalam mengajukan pertanyaan pada siklus pertama 27%, siklus kedua 34%. Minat dan motivasi dalam menjawab pertanyaan pada siklus pertma 20%, siklus kedua 32%, sedangkan minat dan motivasi dalam memberikan tanggapan dalam siklus pertama belum ada, siklus kedua 20%. Minat dan motivasi siswa dalam menyiapkan penulisan cerpen pada siklus pertama 37%, silus kedua 68%. Kemampuan menulis cerpen pada siklus pertama 45%, siklus kedua 68%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa antara siklus pertama ke siklus kedua mengalami peningkatan dalam meningkatkan keterampilan menulis cerpen dengan media online
Dari  tinjauan terdahulu di atas dapat diketahui bahwa peneltian ini benar-benar belum dilakukan dan dapat diuji kebenarannya walaupun sama-sama meningkatkan keterampilan menulis cerpen dengan strategi online, model pembelajaran yang akan dilakukan peneliti ini berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya.
.
B.     Landasan Teori
Sebagai salah satu bagian dari karya sastra, cerita pendek (cerpen) memiliki banyak pengertian. Sumardjo (1980: 91) mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Semuanya pas, integral, dan mengandung suatu arti. Edgar Allan Poe dalam Eneste (1983) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk novel.
Pengertian cerpen adalah cerita fiksi (rekaan) yang memiliki tokoh utama yang sedikit dan keseluruhan ceritanya membentuk satu kesan tunggal, kesatuan bentuk, dan tidak ada bagian yang tidak perlu. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari, tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru, keputusan yang menentukan). Akhir cerita seringkali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending), kadang dialog, impian, flash-back, dan lain-lain sering dipergunakan dengan kemasan bahasa sederhana sugestif.

 Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
Cerpen sebagai salah satu jenis prosa fiksi memiliki unsur-unsur yang berbeda dari jenis tulisan yang lain. Stanton dalam Sugihastuti (2007) berpendapat bahwa unsur-unsur sebuah cerpen terdiri atas (1) permulaan/pengantar, tengah/isi, dan akhir cerita, (2) pengulangan atau repetisi, (3) konflik, (4) alur/plot, (5) latar/seting, (6) penokohan, (7) tema, dan (8) sudut pandang penceritaan. Cerpen yang baik memiliki keseluruhan unsur-unsur yang membangun jalan cerita yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/setting, gaya bahasa, dan sudut pandang penceritaan. Cerpen pada dasarnya dibangun atas unsur-unsur tema, amanat, perwatakan, latar, dialog, dan pusat pengisahan. Usur-unsur pembangun cerpen yang terdiri atas tema, perwatakan, setting, rangkaian peristiawa/alur, amanat, sudut pandang, dan gaya berjalinan membentuk makna baru.

 Hakikat Menulis Cerpen
Menulis cerpen pada hakikatnya sama dengan menulis kreatif sastra yang lain. Menulis kreatif sastra adalah pengungkapan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk karangan. Tulisan yang termasuk kreatif berupa puisi, fiksi, dan nonfiksi. Menurut Budianta (1991: 1) menulis kreatif sastra pada dasarnya merupakan proses penciptaan karya sastra. Proses itu dimulai dari munculnya ide dalam benak penulis, menangkap dan merenungkan ide tersebut (biasanya dengan cara dicatat), mematangkan ide agar jelas dan utuh, membahasakan ide tersebut dan menatanya (masih dalam benak penulis), dan menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya sastra. Jadi menulis kreatif sastra adalah suatu proses yang digunakan untuk mengunkapkan perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dan pikiran seseorang dalam bentuk karangan baik puisi maupun prosa.
Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa hakikat menulis cerpen adalah suatu proses penciptaan karya sastra untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk cerpen yang ditulis dengan memenuhi unsur-unsur berupa alur, latar/seting, peratakan, dan tema.
Pembelajaran menulis cerpen menurut Sumardjo (2001: 70) melalui empat tahap proses kreatif , yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap inkubasi, (3) tahap saat inspirasi, dan (4) tahap penulisan. Pada tahap persiapan, guru membimbing siswa ke arah telah menyadari apa yang akan ia tulis dan bagaimana menuliskannya. Tahap membantu siswa untuk segera memulai menulis atau masih mengendapkannya dalam benak pikiran. Tahap inkubasi merupakan tahap ketika berlangsung pada saat gagasan yang telah muncul disimpan, dipikirkan matang-matang, dan ditunggu sampai waktu yang tepat untuk menuliskannya. Tahap inspirasi adalah tahap dimana terjadi desakan pengungkapan gagasan yang telah ditemukan sehingga gagasan tersebut mendapat pemecahan masalah. Tahap selanjutnya adalah tahap penulisan untuk mengungkapkan gagasan yang terdapat dalam pikiran penulis, agar hal tersebut tidak hilang atau terlupa dari ingatan penulis
Menulis cerpen sebagai salah satu kemampuan menulis kreatif mengharuskan penulis untuk berpikir kreatif dan mengembangkan imajinasinya setinggi dan seluas-luasnya. Dalam menulis cerpen, penulis dituntut untuk mengkreasikan karangannya dengan tetap memperhatikan struktur cerpen, kemenarikan, dan keunikan dari sebuah cerpen.
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum maksimalnya penggunaan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan pembelajar. Dalam hal ini, diperlukan suatu pertimbangan khusus tentang bahan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan kognitif dan kemampuan berbahasa siswa.
Siswa yang menjadi subjek pembelajar di sini adalah siswa kelas X. Pada fase ini siswa mampu memahami konsep keadilan, kepribadian, dan kebenaran. Pertimbangan dalam menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen bagi siswa sekolah menengah disesuaikan dengan konsidi psikologis siswa yakni bahan yang mengutamakan unsur-unsur fantasi. Pertimbangan psikologis tersebut diperlukan agar dapat menumbuhkan minat, daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan problem yang dihadapi. Pemilihan bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan pembelajar.
Pertimbangan selanjutnya untuk menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen adalah sudut pandang bahasa. Guru dalam memilih bahan pembelajaran cerpen dengan mempertimbangkan kosakata yang baru, segi ketatabahasaan, situasi dan pengertian isi wacana termasuk ungkapan dan referensi yang ada. Sedangkan Johnson dan Louis (dalam Iskandarwassid, 2009) memberikan ciri-ciri bahan pembelajaran yakni menarik, mengandung banyak lakuan, bahagia pada akhir cerita, tidak terlalu panjang, dan menyenangkan.
Adapun bahan dalam cerita pendek, Stanton dalam Sugihastuti (2007:43) menjelaskan secara rinci unsur-unsur literer yang membangunnya adalah memiliki alur, latar, tema, penokohan, dan gaya yang khas. Alur cerita tersusun dalam urutan yang logis dan sesuai tuntutan cerita. Latar cerita memiliki ciri-ciri: universal, menanamkan kebenaran, dan perjuangan antara kekuatan baik dan jahat. Penokohan atau penggambaran watak tokoh memiliki ciri-ciri: meyakinkan, nyata, tindakannya konsisten dengan plot, penggambarannya sederhana dan langsung. Selain itu juga sedikit memiliki citraan, penggambaran tokohnya hidup, memiliki suatu yang khas dan menarik, serta nama tokoh mudah diingat atau mengesankan. Sedangkan gaya pengarang dalam cerita memiliki ciri-ciri: mengesankan, segar, tepat, serta bila dibaca terasa lebih menarik.
Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa materi pembelajaran sastra tidak hanya mencakup tentang peristiwa sastra atau cipta sastra, melainkan sejumlah persoalan dan hasil olah pikir dan karya siswa. Hasil tulisan siswa dapat menjadi materi pembelajaran yang menarik dalam kelas apresiasi sastra. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan siswa dalam sebuah diskusi, merupakan materi pembelajaran yang menghidupkan kelas. Materi pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan pengetahuan siswa tentang sastra dan membangkitkan minat siswa untuk menulis kreatif sastra.

C.    Kerangka Pikir
Dalam penelitian yang akan dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Sampang ini memang membutuhkan alat dan media untuk kelancaran penelitin ini. Seiring perkembangan waktu, peran e-learning mulai tergeser dengan adanya m-lerning (moble learning). Dalam hal ini m-learning tidak pernah menggantikan e-learningkarema sarana yang digunakan memang berbeda. Jika e-learning menggunakan internet sebagai sarana dalam proses pembelajaran, m-learning mengacu pada teknologi HP mobile sebagai sarana dalam proses pembelajaran.
 Ketersediaan media pembelajaran on-line lewat hotspot yang memang disediakan bagi proses pembelajaran sebesar 1 gigabite, di samping jaringan lain untuk e-learning. Ketersediaan sarana LCD yang memudahkan komunikasi tertulis langsung secara on-line klasikal. Kemampuan siswa dalam penggunaan hotspot yang sudah diatur dan ditentukan oleh sekolah secara terdaftar. Siswa diwajibkan mendaftarkan diri apabila ingin menggunakan hotspot yang disediakan oleh sekolah. Alat dan media tersebut sangan mendukung untuk proses penelitian.

 Media yang di gunakan adalah :
1.      Laptop, digunakan oleh guru yang mengajar, guna membuka blog pada internet.
2.      Protektor berfungsi untuk memancarkan atau mengeluarkan gambar yang ada dilapto.
3.      White Board, berfungsi untuk memancarkan hasil yang keluar dari proyektor
4.      Wi fi, berfungsi untuk menajalnkan internet.
5.      HP, digunakan oleh siswa untuk membuat cerpen pada internet.

                                   
                                                                                                                                                                                                                                                          




menulis cerpen dengan media online ( sebuah pengaaran terbaru untuk SMK) Reviewed by frank ucup on 7:00:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by makna istilah © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.