Wednesday, August 31, 2016

Menuju Demokrasi Terpimpin

Siapakah tokoh di balik Demokrasi Terpimpin? Bagaimanakah kondisi negara setelah berlakunya sistem Demokrasi Terpimpin? Berikut penjelasannya. 

Demokrasi Terpimpin adalah bentuk demokrasi yang dijalankan oleh pemerintahan Indonesia setelah era Demokrasi Liberal. Demokrasi Terpimpin adalah salah satu gagasan dari Ir. Soekarno sebagai solusi untuk keharmonisan lembaga-lembaga negara, karena Demokrasi Liberal yang adalah produk Barat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Era Demokrasi Terpimpin di Indonesia berlangsung setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Diterbitkannya Dekrit Presiden kemudian disertai dengan beberapa kebijakan lainnya yang dikeluarkan oleh Ir. Soekarno, di antaranya:
Pembentukan MPRS
Sesuai dengan isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Presiden Soekarno memiliki kewenangan untuk membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Seluruh anggota MPRS tidak dipilih melalui mekanisme pemilihan umum, tetapi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan 3 syarat, yaitu:
a) Setuju kembali kepada UUD 1945.
b) Setia kepada perjuangan Republik Indonesia.
c) Setuju kepada manifesto politik.

Dalam masa kerjanya, MPRS melakukan beberapa keputusan melalui sidangnya, yakni:
1) Penetapan manifesto politik RI sebagai bagian dari Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
2) Penetapan Garis-Garis Besar Pembangunan Nasional Berencana Tahap I. 
3) Menetapkan Presiden Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.

Pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)
DPAS dibentuk oleh Presiden Soekarno dan diketuai langsung oleh Presiden dengan wakil ketuanya, Ruslan Abdul Gani.

Pembentukan Kabinet Kerja
Kabinet Kerja dipimpin oleh Presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dan Ir. Djuanda sebagai Menteri Pertama.

Pembentukan Front Nasional
Front Nasional adalah lembaga ekstra parlementer yang dibentuk dengan tujuan:
a) Menyelesaikan revolusi nasional Indonesia.
b) Melaksanakan pembangunan semesta nasional.
c) Mengembalikan Irian Jaya ke wilayah Republik Indonesia.

Penataan Organisasi Hankam dan Penyederhanaan Partai Politik
Penataan organisasi pertahanan/keamanan ditandai dengan digabungkannya TNI dan Polri ke dalam satu organisasi, yakni ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Sementara untuk partai-partai politik yang tidak sesuai dengan ketentuan perundangan akan dibubarkan.

Penyederhanaan Ekonomi
Melakukan devaluasi mata uang rupiah, yaitu penurunan nilai mata uang yang beredar di masyarakat atau dikenal juga dengan sebutan sanering. Presiden juga membentuk beberapa lembaga ekonomi, seperti Depernas (Dewan Perancang Nasional) dan Badan Musyawarah Pengusaha Swasta Nasional.

Di awal bergulirnya sistem Demokrasi Terpimpin, sebagian besar masyarakat masih memandangnya sebagai hal positif. Pandangan ini dilatarbelakangi beberapa hal, yaitu:
  • Pada masa Demokrasi Liberal, sistem pemerintahan terpecah belah karena masing-masing individu hanya mementingkan kekuasaan partainya di atas kepentingan rakyat.
  • Kembalinya konstitusi ke UUD 1945 yang dinilai lebih jelas bagi kelangsungan negara dan sesuai dengan cita-cita perjuangan bangsa.
  • Ide pembentukan lembaga tertinggi negara dan lembaga negara (MPRS dan DPAS) yang diharapkan memberi solusi untuk harmonisasi hubungan lembaga pemerintahan.

Namun, dalam perjalanannya, Demokrasi Terpimpin mewujud sebagai sentralisasi keputusan kepada satu sosok, yaitu Ir. Soekarno yang menjabat sebagai Presiden. Berbagai penyimpangan pun terjadi semasa Demokrasi Terpimpin, misalnya:
  1. Pembubaran DPR hasil Pemilu 1955 dan pengangkatan Ir. Soekarno sebagai Presiden RI seumur hidup oleh MPRS.
  2. Pengumuman ajaran Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis).
  3. Politik luar negeri Indonesia dari bebas aktif tanpa memihak blok (non-blok) menjadi politik konfrontatif dengan ambil bagian di OLDEFO (Old Established Forces) dan NEFO (New Emerging Forces).

RANGKUMAN
  1. Demokrasi Terpimpin adalah bentuk demokrasi yang dijalankan oleh pemerintahan Indonesia setelah era Demokrasi Liberal. Demokrasi Terpimpin adalah salah satu gagasan dari Ir. Soekarno sebagai solusi untuk keharmonisan lembaga-lembaga negara.
  2. Dalam perjalanannya, Demokrasi Terpimpin mewujud sebagai sentralisasi keputusan kepada satu sosok, yaitu Ir. Soekarno yang menjabat sebagai Presiden. Berbagai penyimpangan pun terjadi semasa Demokrasi Terpimpin.

Hasil Pengindraan Jauh

Pengidraan jauh merupakan salah satu cara yang dapat kita gunakan untuk melihat suatu obyek yang jauh, dan hasil dari pengindraan jauh adalah citra. Untuk lebih memahami mengenai hasil pengindraan jauh mari kita simak pembahasan berikut ini.

Proses pengindraan jauh memberikan keluaran atau hasil yang disebut citra, yaitu gambaran yang tampak dari suatu obyek yang sedang diamati sebagai hasil liputan atau rekaman oleh suatu alat pemantau. Kelengkapan informasi yang disajikan pada citra pengindraan jauh merupakan daya tarik tersendiri bagi para ilmuwan dan peneliti dari berbagai bidang keahlian untuk dapat memanfaatkan secara sendiri (monodispliner) atau gabungan beberapa bidang (multidispliner). Jika dibandingkan dengan survei lapangan, pengindraan jarak jauh jelas lebih unggul dan bermanfaat bagi pengkajian dan pengelolaan wilayah atau sumber daya alam. Survei lapangan memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar jika dibandingkan dengan pengindraan jarak jauh. Selain itu, data yang dihasilkan pengindraan jauh lebih valid.

Beberapa keistimewaan citra pengindraan jauh dapat dirinci sebagai berikut:
  • Menyajikan gambaran obyek secara lengkap dengan kenampakan yang nyata sesuai keadaan di lapangan.
  • Waktu pembuatan relatif cepat.
  • Biaya relatif murah dibandingkan pengukuran langsung di lapangan.
  • Dapat digunakan untuk memonitor obyek lapangan, seperti informasi banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya.
  • Lebih sesuai digunakan untuk daerah yang sarana perhubungannya kurang baik dan sulit untuk dijangkau, seperti hutan, pegunungan, atau daerah rawa.

Secara umum, citra yang dihasilkan pengindraan jauh dapat dibedakan atas:
1)  Citra Foto 
    Dalam pengindraan jauh, citra foto sering disebut dengan ‘foto udara’ atau ‘potret udara’. Citra foto dapat dibedakan berdasarkan:

Pertama, Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan
Penggunaan spektrum elektromagnetik dapat menghasilakan foto yang berbeda-beda, yakni:

Foto ultraviolet, merupakan foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultraviolet. Spektrum yang dapat digunakan untuk pemotretan saat ini adalah spektrum ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer.
Foto ortokromatik, dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru (0,4 - 0.5 mikrometer) hingga saluran hijau (0.56 mikrometer). Foto ini dapat digunakan untuk mendeteksi dasar perairan untuk kegiatan pelayaran.
Foto pankromatik, dibuat dengan menggunakan seluruh spektrum tampak mata, mulai dari warna merah hingga ungu. Foto pankromatik baik untuk mendeteksi pencemaran air, kerusakan akibat banjir maupun penyebaran air tanah dan air permukaan. 
Foto inframerah asli (true infrared photo)
Dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dekat (0,9 - 1,2 mikrometer). Foto inframerah asli baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
Foto inframerah berwarna
Disebut juga foto berwarna semu. Filmnya dikembangkan untuk kepentingan militer (camouflage detection film).
Foto inframerah modifikasi
Menggunakan spektrum inframerah dekat dan sebagian spektrum tampak (0,7 - 0,9 mikrometer), ditambah saluran hijau dan merah.

Kedua, Sumbu Kamera
Foto udara dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi sebagai berikut:
Foto vertikal, apabila sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi termasuk apabila sumbu kamera condong 1°-4°.
Foto condong, apabila sumbu kamera menyudut 10° terhadap permukaan bumi. Foto condong masih dibedakan lagi menjadi foto agak condong (low oblique photograph) yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada foto, serta foto sangat condong (high oblique photograph) yakni jika pada foto tampak cakrawalanya.

Ketiga, Warna yang Digunakan
Foto berwarna semu (false colour), warna obyek tidak sama dengan warna foto. Misalnya, vegetasi yang berwarna hijau, akan tampak merah pada foto.
Foto warna asli (true colour), obyek yang terekam pada foto akan menampakan warna sama dengan aslinya.

Keempat, Sistem Wahana
Foto udara, yakni foto yang direkam dari pesawat atau balon udara. 
Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang direkam melalui satelit yang mengelilingi bumi.

2)  Citra Non-Foto
   Citra non-foto merupakan citra yang direkam melalui sensor bukan kamera. Citra ini dapat dibedakan berdasarkan:
a) Sensor
    Berdasarkan sensor yang digunakan citra non-foto terbagi atas:
    • Citra Tunggal, sensor yang digunakan pada citra ini adalah sensor tunggal dengan saluran lebar.
   • Citra Multi Spektral, sensor yang digunakan pada citra ini adalah sensor jamak multisaluran dengan saluran sempit.

b) Wahana
     Berdasarkan wahana yang digunakan, citra non-foto dapat dibedakan atas:
     • Citra Dirgantara (Airborne Image), yaitu citra yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara (dirgantara). 
     • Citra Satelit (Satellite/Spaceborne Image), yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi atas penggunaannya, yaitu citra satelit untuk pengindraan planet, citra satelit untuk pengindraan cuaca, citra satelit untuk pengindraan sumber daya bumi, serta citra satelit untuk pengindraan laut.

RANGKUMAN
  1. Tujuan utama dari penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data sumber daya alam dan lingkungan.
  2. Karakteristik yang tergambar pada citra dan digunakan untuk mengenali objek disebut unsur interpretasi citra yang meliputi: rona/warna, ukuran, bentuk, pola, tekstur, bayangan, situs, asosiasi, dan konvergensi bukti.


Langkah-Langkah Menulis Teks Cerita Sejarah

Penulisan teks cerita sejarah dilakukan agar generasi sebuah bangsa dapat melihat sejarah masa lampau yang dialami untuk menjadi koreksi dan perbaikan di masa yang akan datang. 
Contoh 1:
 Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
Pada tanggal 6 Agustus 1945 Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom sehingga Jepang menyerah kepada Amerika dan sekutu. Lima hari kemudian Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat bertemu dengan Marsekal Terauchi wakil dari Jepang. Pada hari itu didapatkan kepastian Indonesia dapat merdeka dalam beberapa hari. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945, sekitar 15 pemuda menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Para pemuda pejuang pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 menculik Soekarno, Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok. Soekarno, Hatta dan anggota PPKI lainnya malam itu juga rapat dan menyiapkan teks Proklamasi yang kemudian dibacakan pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945.

Paragraf di atas merupakan Orientasi.
Dari orientasi yang ada, langkah selanjutnya menggali informasi dengan mengidentifikasi masalah. Kita dapat mengindentifikasi dengan menjawab beberapa pertanyaan memakai yang berhubungan dengan teks misalnya:
  1. Peristiwa yang terjadi adalah Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
  2. Yang terlibat dalam peristiwa itu adalah Soekarno, Hatta, Radjiman Wedyodiningrat, Marsekal terauchi, dan anggota PPKI.
  3. Peristiwa detik-detik proklamasi diadakan pada Bulan Agustus.
  4. Peristiwa itu terjadi di Indonesia
  5. Peristiwa itu terjadi karena Indonesia ingin memproklamasikan kemerdekaannya
  6. Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 sekaligus diperingati sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Contoh 2:
Perhatikan paragraf di bawah ini !
Sunan Drajat, salah satu tokoh wali songo penyebar agama Islam di Pulau Jawa peninggalannya dilestarikan oleh Pemerintah Daerah Lamongan berupa Musium Sunan Drajat. Terletak disebelah timur Makam. Musium ini diresmikan pada tanggal 1 maret 1992. Pembangunannya mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Timur. Pada tahun 1992 mengadakan pemugaran Cungkup dan pembangunan Gapura Paduraksa. Pada tahun 1993 dilanjutkan dengan pemugaran Masjid Sunan Drajat. Sampai pada tahun 1994 membangun pagar kayu berukir, renovasi paseban, bale rante serta Cungkup Sitinggil. Tepat pada tanggal 14 Januari 1994 Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman meresmikan renovasi tersebut.

Paragraf di atas merupakan Orientasi
Dari orientasi yang ada, langkah selanjutnya menggali informasi dengan menulis kronologi peristiwa.
Sejarah Pembangunan “Museum Sunan Drajat” salah satu tokoh wali songo penyebar agama islam di Pulau Jawa. Pada tahun :
Tahap I 1992 : pemugaran cungkup dan pembangunan gapura paduraksa
Tahap II 1993 : pemugaran masjid Sunan Drajat
Tahap III 1994 : pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paseban, bale rante serta cungkup sitinggil. 

Langkah Terakhir, setelah kita menganalisis struktur teks cerita sejarah memakai analisis identifikasi atau analisis kronologi, kita dapat menulis ulang teks cerita sejarah dengan memakai bahasa kita sendiri sesuai analisis struktur paragraf yang sudah kita lakukan pada langkah sebelumnya. Tahapan ini dinamakan reorientasi.

Point-Pont Penting
  1. Teks cerita sejarah merupakan sebuah wacana yang berisi sejarah/ asal-usul sebuah kejadian yang dianggap penting dan membawa perubahan besar dalam sebuah perkembangan masyarakat di dunia.
  2. Langkah-langkah menulis teks cerita sejarah dapat dilakukan dengan : 

             a. Orientasi : Mengenalkan teks peristiwa sejarah 
             b. Menganalisis urutan peristiwa : dapat dilakukan dengan 
                 • Mengidentifikasi masalah (Urutan peristiwa identifikasi) 
                 • Menulis kronologi kejadian dengan tahapan-tahapan (Urutan peristiwa kronologi) 
             c. Reorientasi : menulis ulang teks cerita sejarah dengan memakai bahasa kita sendiri sesuai 
                 analisis struktur paragraf yang sudah kita lakukan pada langkah sebelumnya. 

Menulis Teks Cerita Sejarah

Kali ini kita akan mempelajari cara menulis teks cerita sejarah. Seperti kita ketahui teks cerita sejarah bersumber dari media tulis dan nontulis. Media tulis dapat berupa teks wacana sedangkan media nontulis dapat berupa prasasti, monumen, candi, foto, video, dsbnya.
Perhatikan gambar di bawah ini!

Cobalah amati kelas kalian ketika belajar di sekolah. Pastinya kalian akan mendapati gambar Burung Garuda terpasang rapi diapit oleh gambar presiden dan wakil presiden.

Gambar Pancasila di atas bila kita susun menjadi teks cerita sejarah akan memiliki banyak judul cerita. Contohnya “Sejarah Lahirnya Pancasila”, “Sejarah Semboyan Bangsa Indonesia ‘Bhineka Tunggal Ika’ ”, dan sebagainya. Lantas bagaimanakah cara menulis teks cerita sejarah yang tepat? 

Marilah kita cermati contoh-contoh di bawah ini!
Contoh 1:
Sejarah Lahirnya Pancasila
Sejarah lahirnya pancasila sebagai dasar negara Indonesia didasari oleh pernyataan UUD 1945 alenia ke-4. :…”maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Sebagai dasar negara Indonesia, tidak hanya sekali dua kali pancasila hampir diruntuhkan dari bumi pertiwi. Peristiwa yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 30 September 1965. Tewasnya tujuh pahlawan revolusi menjadi sejarah abadi Bangsa Indonesia bahwa Pancasila memang tidak mudah untuk digulingkan. Dengan darah ribuan rakyat Indonesia Pancasila mampu menunjukkan kesaktiannya. Kini setiap tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari Kesaktian Pancasila.

Teks cerita sejarah di atas dapat ditulis ulang dengan cara mencari tema paragraf ke II. Mengapa paragraf kedua? Karena pada paragraf kedua berisi analisis teks.
Paragraf I : Orientasi (Pengenalan)
Paragraf II : Analisis dengan cara:
      a. Urutan Peristiwa Identifikasi
      b. Urutan Peristiwa Kronologi
Reorientasi (Menulis ulang memakai bahasa sendiri)
Hari lahir dan kesaktian Pancasila sebagai dasar negara diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Contoh 2:
Perhatikan paragraf di bawah ini !
Tokoh Nasionalisme Indonesia yang paling berjasa salah satunya adalah Gajah Mada. Gajah Mada seorang Panglima perang yang mengantarkan Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan pada 1313. Dengan Sumpah Palapanya, Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara Indonesia. Jasanya yang paling besar bagi Kerajaan Majapahit ialah memberantas Pemberontakan Ra Kuti dan menyelamatkan Prabu Jayanegara. 

Teks cerita sejarah dapat ditulis memakai frasa nomina dan verba.
  • Frasa Nomina ialah kalimat yang memakai susunan kata benda.
  • Tokoh Nasionalisme Indonesia yang paling berjasa salah satunya adalah Gajah Mada. 
  • Frasa Verba ialah kalimat yang memakai susunan kata kerja.
  • Gajah Mada seorang Panglima perang yang mengantarkan Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan pada 1313. Dengan Sumpah Palapanya, Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara Indonesia.
  • Jasanya yang paling besar bagi Kerajaan Majapahit ialah memberantas pemberontakan Ra Kuti dan menyelamatkan Prabu Jayanegara. 

Point-Point Penting
  1. Teks cerita sejarah dapat ditulis ulang sesuai langkah-langkah penulisan teks cerita sejarah yaitu orientasi (pengenalan), analisis (urutan peristiwa identifikasi atau kronologi), dan reorientasi (menulis ulang).
  2. Teks cerita ulang dapat ditulis dengan memakai frase nomina (kata benda) dan frase verba (kata kerja)

Membandingkan Dua Teks Cerita Sejarah

Saat menonton televisi, acara apa yang lebih kamu sukai: berita atau film?
Kemukakan alasanmu dengan menunjukkan kekurangan dan kelebihan dari setiap acara tersebut.
Jika kamu dapat mengajukan alasannya secara jelas dan argumentatif, kamu telah membandingkan dua hal yang berbeda, yaitu berita dan film. Kegiatan membandingkan seperti itu tidak hanya dilakukan untuk menilai sesuatu secara asal-asalan. Kamu dapat melatih daya kritis untuk melihat persamaan dan perbedaan di antara kedua hal yang sedang kamu bandingkan.
Begitu pula saat membaca suatu teks. Kemampuan membandingkan dua buah teks harus dimiliki untuk melatih kemampuan analisis berdasarkan argumentasi yang kuat. Pada mater ini, kamu akan mempelajari langkah-langkah membandingkan dua buah teks cerita sejarah. Simak pembahasan berikut ini!

Membandingkan Dua Teks Cerita Sejarah
Membandingkan dua teks cerita sejarah berarti mencari persamaan dan perbedaan di antara dua teks cerita sejarah berdasarkan parameter tertentu. Parameter adalah patokan atau tolok ukur perbandingan. Saat membandingkan dua teks cerita sejarah, parameter yang digunakan adalah struktur teks cerita sejarah, gaya bahasa yang digunakan, dan isi teks cerita sejarah. Tujuan membandingkan dua teks cerita sejarah adalah untuk menilai persamaan dan perbedaan kedua teks sehingga melatih daya kritis saat membaca dan menganalisis dua teks cerita sejarah.

Pertama, dilihat dari strukturnya, teks cerita sejarah umumnya memiliki struktur sebagai berikut:
1. Judul,yaitu kata atau frasa kunci yang mewakili keseluruhan isi teks cerita,
2. Orientasi, yaitu paragraf pembukaan yang mengantarkan pada isi,
3. Rangkaian peristiwa, yaitu paragraf yang berisi rekaman sejarah;
4. Reorientasi, yaitu paragraf yang menutup teks cerita.

Kedua, berdasarkan gaya bahasanya, aspek-aspek yang dapat dibandingkan adalah penggunaan kata, istilah, dan ungkapan di dalam kedua teks. Kita dapat melihat, apakah kata, istilah, dan ungkapan yang digunakan dalam kedua teks merupakan istilah khusus sejarah yang maknanya dapat dimengerti dengan mudah atau tidak. Pemahaman terhadap makna kata, istilah, dan ungkapan dalam teks cerita sejarah bergantung pada banyaknya membaca, termasuk membuka kamus.

Ketiga, parameter terakhir yaitu isi teks cerita sejarah. Membandingkan dua teks sejarah dapat dilihat berdasarkan isi teks tersebut. Hal yang perlu dilakukan adalah menginterpretasi isi kedua teks sejarah dengan saksama agar diperoleh persamaan dan perbedaan isi di antara kedua teks yang dibandingkan.

Secara sederhana, ketiga parameter tersebut dapat dilihat pada langkah-langkah membandingkan dua teks cerita sejarah berikut.
  1. Membaca kedua teks cerita sejarah yang akan dibandingkan secara saksama;
  2. Menandai dan mencatat kata, istilah, dan ungkapan yang tidak dimengerti pada kedua teks tersebut;
  3. Mencari makna kata, istilah, dan ungkapan yang tidak dimengerti dari kedua teks dengan menggunakan kamus;
  4. Membuat parameter perbandingan yang terdiri atas struktur isi teks, gaya bahasa, dan isi teks;
  5. Menganalisis persamaan dan perbedaan dari kedua teks cerita sejarah berdasarkan parameter yang telah dibuat;
  6. Membuat simpulan berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut.

Bacalah dua teks cerita sejarah berikut ini!
Teks 1
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Lembah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, ini berdiri pada abad ke-5 Masehi. Nama Kutai sendiri diambil dari nama daerah tempat ditemukannya prasasti Kutai. Prasasti tersebut berupa tujuh yupa yang berisi tulisan mengenai sejarah kerajaan Hindu pertama tersebut. Tulisan pada yupa merupakan pahatan yang menggunakan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa.
Prasasti Kutai berisi silsilah raja-raja Kutai. Raja terkuat Kutai adalah Mulawarman yang diyakini merupakan orang Indonesia asli. Hal tersebut dibuktikan dengan nama kakeknya yang menggunakan nama Indonesia pula, yaitu Kudungga. Namun, Kudungga belum menganut Hindu. Ajaran Hindu baru dikenal saat kerajaan tersebut dikuasai oleh Aswawarman. Aswawarman juga dianggap sebagai wamsakarta atau pendiri keluarga raja.
Ajaran Hindu masuk ke kerajaan Kutai sebagai pengaruh dari India. Pada masa Aswawarman dikenal upacara Vratyastoma yang dilakukan saat seseorang masuk ajaran agama Hindu. Setelah melakukan upacara Vratyastoma, orang tersebut kemudian memiliki kasta sebagai penanda status sosialnya. Upacara tersebut juga menunjukkan pengaruh brahmana di Kutai yang masih kuat. Para brahmana juga banyak dipengaruhi oleh agama Siwa sehingga terdapat beberapa persamaan pada upacara yang dilakukannya.

Teks 2
Agama Islam merupakan agama terbesar pertama di Indonesia. Proses masuknya Islam ke Indonesia mengalami perjalanan yang panjang. Terlebih pada mulanya, Indonesia didominasi oleh kekuatan kerajaaan-kerajaan Hindu Buddha yang sangat besar. Lahirnya kekuatan Islam tidak terlepas lahirnya Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di ujung barat Kepulauan Nusantara.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Aceh ini didirikan pada tahun 1267 M oleh Meurah Silu. Keberadaan Kerajaan Samudera Pasai dapat dibuktikan dengan penemuan-penemuan arkeologis berupa makam raja-raja Pasai dan reruntuhan bangunan pusat kerajaan di Kecamatan Samudera, Lhokseumawe.
Raja pertama Kerajaan Samudera Pasai adalah Malik as-Saleh. Malik as-Saleh adalah nama Meurah Silu setelah masuk agama Islam. Malik as-Saleh merupakan sultan atau raja Islam pertama dalam sejarah Indonesia. Ia memimpin Kerajaan Samudera Pasai selama 29 tahun, yaitu antara tahun 1297 hingga 1326 M. Setelah itu, kepemimpinan digantikan oleh Sultan Muhammad Malikul Zahir, Sultan Ahmad Laidkudzahi, dan seterusnya.

Mari kita bandingkan.
Berdasarkan strukturnya, perbandingan kedua teks di atas adalah:
  1. Persamaan: teks di atas terdiri atas tiga paragraf, sama-sama tidak memiliki paragraf penutup, dan pada bagian pemaparan dijelaskan asal-muasalan kerajaan dengan bukti arkeologisnya.
  2. Perbedaan: teks 1 tanpa pendahuluan sedangkan teks 2 dengan pendahuluan terlebih dahulu.

Berdasarkan gaya bahasanya, teks 1 lebih banyak menggunakan istilah sejarah daripada teks 2, seperti prasasti, yupa, dan wamsakarta. Adapun teks 2 menggunakan bahasa yang mudah dimengerti tanpa adanya istilah sejarah yang perlu dicari terlebih dahulu maknanya,

Berdasarkan isinya, kedua teks cerita sejatah di atas sama-sama menjelaskan sejarah kerajaan di Indonesia disertai dengan bukti keberadaannya. Di dalam kedua teks juga dijelaskan corak agama dan raja-raja yang memimpinnya. Namun, perbedaannya adalah teks 1 menjelaskan kerajaan Hindu, sedangkan teks 2 menjelaskan kerajaan Islam. Selain itu, teks 2 tidak menjelaskan sejarah masuknya agama ke kerajaan seperti tertulis pada teks 1.

Poin-Poin Penting
  1. Teks cerita sejarah adalah teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan;
  2. Membandingkan dua teks cerita sejarah berarti mencari persamaan dan perbedaan di antara dua teks cerita sejarah berdasarkan struktur teks, gaya bahasa, dan isi teks tersebut.

Analisis Bahasa Teks Cerita Sejarah

Sebagai suatu teks, teks cerita sejarah memiliki ciri kebahasaan tersendiri. Ciri kebahasaan tersebut antara lain tecermin dalam beberapa hal berikut.
1. Frasa Nomina dan Verba
   Frasa di antaranya terdiri atas frasa nomina dan verba. Sesuai namanya, frasa nomina merupakan kelas kata nomina yang diperluas, seperti: gadis cantik, rumah megah, ruang tidur, kantor berita, dan lain-lain. Berdasarkan fungsinya, frasa nomina terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
  1. Frasa nomina modifikatif, yaitu gabungan kata yang bersifat membatasi atau menerangkan unsur utamanya. Misalnya: rumah mewah (rumah yang mewah, bukan rumah yang kecil), ketua kelompok, dan uang receh. 
  2. Frasa nomina koordinatif, yaitu gabungan kata yang memiliki kedudukan setara dan tidak saling menerangkan. Salah satu cirinya, gabungan kata tersebut dapat dihubungkan dengan konjungsi dan/atau. Misalnya: sandang (dan) pangan, hak kewajiban, dan lahir batin.
  3. Frasa nomina apositif, yaitu gabungan kata yang berfungsi sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan pada kata atau frasa tertentu. Misalnya: Arman, teman adikku, datang ke rumah tadi pagi. Frasa teman adikku menerangkan kata Arman.

Sama halnya dengan frasa nomina, frasa verba juga terbagi menjadi tiga jenis berikut.
  1. Frasa verba modifikatif, seperti: Ibu bekerja keras untuk membahagiakan anaknya.
  2. Frasa verba koordinatif, seperti: Premanisme merusak dan menghancurkan nilai-nilai luhur Pancasila.
  3. Frasa verva apositif, seperti: Bisnis yang dijalankannya, berdagang pakaian secara daring, semakin sukses saat ini.

2. Konjungsi Temporal
    Dalam teks cerita sejarah biasanya digunakan konjungsi temporal. Konjungsi temporal adalah kata penghubung yang menyatakan urutan tindakan atau waktu yang biasanya ada dalam teks cerita sejarah. Konjungsi temporal terdiri atas dua bagian, yaitu konjungsi temporal sederajat dan konjungsi temporal tidak sederajat.
Konjungsi temporal sederajat yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur dalam kalimat yang sederajat atau setara. Konjungsi ini biasanya digunakan dalam kalimat majemuk setara. Konjungsi temporal sederajat di antaranya adalah lalu, kemudian, selanjutnya, dan sebelumnya. Misalnya: Jepang menyerah kepada sekutu, kemudian meninggalkan koloninya satu per satu.
Adapun konjungsi temporal tidak sederajat yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur dalam kalimat yang tidak sederajat atau setara. Konjungsi ini biasanya digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat. Konjungsi temporal tidak sederajat di antaranya adalah apabila, jika, bilamana, hingga, ketika, saat, sambil, sebelum, sampai, sejak, selama, sementara, seraya, dan tatkala. Misalnya: Perang dingin terjadi setelah perang dunia II berakhir.

3.  Nominalisasi
  Nominalisasi adalah pembentukan nomina dari kelas kata lain dengan menggunakan afiks (imbuhan) tertentu. Pembentukan nomina tersebut dapat berasal dari kelas kata verba, adjektiva, atau nomina lainnya. Teks cerita sejarah merupakan jenis teks penceritaan ulang (rekon/recount). Dalam teks penceritaan ulang seringkali ditemukan nomina yang merupakan hasil nominalisasi. Pemberian imbuhan terhadap kata yang mengalami nominalisasi disebut dengan afiksasi. Afiksasi yang sering terjadi dalam nominalisasi antara lain sebagai berikut:
a. Sufiks –an, -at, -si, -ika, -in, -ir, -tur, -ris, -us, -isme, -is, -isasi, -isida, -ita, -or, dan –tas.
    Contoh: bacaan (baca+an), manisan (manis+an), sosialisasi (sosial+isasi), dan kritikus (kritik+us).
b. Prefiks ke-, pe-, dan se-.
    Contoh: ketua (ke+tua), pedagang (pe+dagang), dan sekelas (se+kelas).
c. Konfiks ke-an, pe-an, dan per-an.
    Contoh: pengaturan (pe+atur+an), pertunjukan (per+atur+an), dan kekayaan (ke+kaya+an).
d. Infiks –el- dan –er-.
    Contoh: gelembung (gembung+el), telunjuk (tunjuk+el), dan jemari (jari+em).
e. Kombinasi afiks pemer-, keber-an, kese-an, keter-an, pember-an, pemer-an, penye-an, perse-an,
    Contoh: keberhasilan (keber+hasil+an), keterlibatan (keter+libat+an)

Mari kita analisis
Setelah membaca teks cerita sejarah di atas secara saksama, kita dapat menganalisis ciri kebahasaan teks tersebut melalui tiga hal berikut.
Pertama, Penggunaan frasa nomina dan verba
Dalam teks cerita sejarah di atas, ditemukan beberapa frasa nomina berikut.
Frasa nomina modifikatif, seperti: hari bahasa ibu dan kemerdekaan Pakistan.
Frasa nomina koordinatif, seperti: kedua wilayah juga memiliki kondisi sosial budaya yang berbeda.
Frasa nomina apositif, seperti: .... dideklarasikan dalam konferensi pendidikan di Karachi, ibukota Pakistan.
Selain itu, terdapat juga beberapa frasa verba berikut.
Frasa verba modifikatif, seperti: Masyarakat Pakistan Timur akhirnya dapat menggunakan bahasa Bengali.
Frasa verba koordinatif, seperti: .... masyarakat Pakistan Timur mulai melakukan dan menggencarkan aksi protes ....

Kedua, Konjungsi temporal
Dalam teks cerita sejarah di atas juga digunakan beberapa konjungsi temporal seperti pada contoh berikut. 
  • Pertikaian antara Pakistan Barat dan Pakistan Timur memburuk saat pemerintah menyatakan akan mengadopsi bahasa Urdu sebagai bahasa resmi negara (tidak sederajat).
  • Setelah deklarasi tersebut, masyarakat Pakistan Timur mulai melakukan dan menggencarkan aksi protes pada tahun 1947 (tidak sederajat).

Ketiga, Nominalisasi
Nominalisasi yang terdapat dalam teks cerita sejarah di atas antara lain sebagai berikut.
- kemerdekaan, yaitu ke- + merdeka + -an, dibentuk dari konfiks dan adjektiva.
- peringatan, yaitu pe-(N) + ingat + -an, dibentuk dari konfiks dan verba.
- Pemerintah, yaitu pe-(N) + perintah, dibentuk dari prefiks dan verba.

Analisis Isi Teks Cerita Sejarah

Pada topik kali ini kita bersama-sama akan mempelajari bagaimana menganalisis isi cerita teks cerita sejarah baik lisan maupun tulisan. Menganalisis artinya menguraikan atau memaparkan, sedangkan isi artinya bagian penting dari sebuah pembicaraan. Jadi menganalisis isi artinya menguraikan bagian penting dari sebuah pembicaraan dalam hal ini teks cerita sejarah.

Batu tulis atau prasasti memiliki beberapa informasi penting. Bisa jadi dari tulisannya memberitakan sebuah kejadian. Dari jenis batunya dapat menginformasikan tahun terjadinya suatu peristiwa, dan sebagainya itulah yang dinamakan menganalisis isi.
Apabila sebuah teks cerita sejarah yang kita analisis, maka kita dapat mengetahui jenis kalimat, informasi yang terdapat dalam teks, dan proses afiksasi kata-kata dalam teks tersebut.

Contoh 1:
Sejarah Lahirnya Lagu Indonesia Raya
Indonesia tanah airku.
Tanah tumpah darahku.
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibumu. ... itulah cuplikan sekilas lagu ‘Indonesia Raya’. Lagu ini selalu dinyanyikan pada setiap upacara dan pertemuan penting di negara kita.

Lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Syairnya yang berbunyi tanah tumpah darahku menyiratkan makna nasionalisme para pemuda Indonesia, sedangkan syairnya ‘merdeka’ dulu dinyanyikan dengan kata ‘mulia’. Syair tersebut diubah karena Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. Lagu yang diciptakan W.R Supratman ini kini menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Teks cerita sejarah di atas terdiri dari empat kalimat.
  1. Lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan pada Konggres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. 
  2. Syairnya yang berbunyi tanah tumpah darahku menyiratkan makna nasionalisme para pemuda Indonesia, sedangkan syairnya ‘merdeka’ dulu dinyanyikan dengan kata ‘mulia’. 
  3. Syair tersebut diubah karena Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. 
  4. Lagu yang diciptakan W.R Supratman ini kini menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Poin-Poin Penting
  1. Teks cerita sejarah dapat didapatkan secara tulis maupun nontulis.
  2. Teks cerita sejarah dapat dianalisis dari segi pembentukan kata (proses afiksasi), menganalisis kata depan, menganalisis struktur kalimat, menganalisis EYD, dsbnya.